Museum Kesehatan Jiwa RSJ Dr Radjiman Wediodiningrat Malang

0 25

Museum Kesehatan Jiwa RSJ Dr Radjiman Wediodiningrat

Museum Kesehatan Jiwa dr. Radjiman Wediodiningrat beralamatkan di Jalan Ahmad Yani Lawang, Kabupaten Malang. Museum ini merupakan Museum Kesehatan Jiwa pertama dan satu-satunya di Indonesia dan dibangun di areal RSJ Dr. Radjiman Wediodiningrat Lawang (RSJRW). Museum ini dibangun sebagai wahana pembelajaran dan solusi pembelajaran sejarah perkembangan teknologi kedokteran khususnya di bidang kesehatan jiwa.

Sayangnya, keberadaan museum ini tak banyak diketahui oleh masyarakat. Padahal sangat bagus untuk proses pembelajaran. Bagi masyarakat yang ingin berkunjung ke sini tidak dipungut biaya sama sekali. Museum Kesehatan Jiwa ini diresmikan pada 23 Juni 2009 bertepatan dengan hari jadi RSJ dr. Radjiman Wediodiningrat yang ke-107 oleh Dirjen Pelayanan Medik Departemen Kesehatan RI, Dr. Farid Husein, MPH.

Rumah Sakit Jiwa Dr. Radjiman Wediodinigrat Lawang sendiri didirikan berdasar Surat Keputusan Kerajaan Belanda No. 100 tanggal 30 Desember 1865. Sedangkan pengerjaan pendirian bangunan rumah sakit sendiri baru dimulai pada tahun 1884. Sebelum rumah sakit dibangun, pengelolaan pasien mental diserahkan kepada Dinas Kesehatan Tentara Belanda.

Pada 23 Juni 1902, Rumah Sakit Jiwa ini dibuka secara resmi dengan nama Krankzinigen Gesticht te Lawang dengan kapasitas percobaan 500 TT dan merupakan rumah sakit jiwa tertua kedua di Indonesia setelah Bogor. Semula rumah sakit ini didirikan hanya untuk orang-orang Cina dan Belanda yang sakit jiwa. Pada zaman kolonial waktu itu, rumah sakit jiwa ini hanya melayani orang-orang kaya saja. Dalam perkembangannya kemudian, rumah sakit tersebut juga diperuntukkan bagi warga pribumi.

Pada masa penjajahan Belanda, RSJ Lawang pernah menjadi markas tentara Belanda, dan banyak menerima rujukan pasien dari berbagai daerah. Setelah masa kemerdekaan, rumah sakit ini dikenal sebagai Rumah Sakit Jiwa Sumber Porong. Dari tahun 1978 sampai sekarang, RSJ Lawang melakukan upaya pengembangan pengobatan dan perawatan pasien mental baik Rawat Jalan, Rawat Inap, Program Keswamas dan Penunjang Medik.

Dalam perkembangannya pada tanggal 23 Juni 2002, saat Rumah Sakit Jiwa Lawang tepat berusia seabad, diresmikan nama baru menjadi Rumah Sakit Jiwa Dr. Radjiman Wediodiningrat Lawang (RSJRW) oleh Menteri Kesehatan Dr. Achmad Sujudi, MPA. Dr. Radjiman merupakan dokter pertama di Jawa yang bertugas di Rumah Sakit Jiwa Lawang pada tahun-tahun awal berdirinya.

Di Museum Kesehatan Jiwa ini pengunjung bisa menyaksikan sejarah Rumah Sakit Jiwa Dr. Rajiman Wediodiningrat melalui berbagai foto dan gambar yang dipajang. Meskipun usianya sudah tua namun tetap terawat dengan baik sehingga pengunjung bisa menyaksikan dengan jelas gambar-gambar dan benda yang dipamerkan. Di samping itu, di sini tersimpan ratusan koleksi yang terdiri dari benda-benda dan dokumen-dokumen tua, yang berkaitan dengan riwayat masa lampau rumah sakit jiwa. Sayangnya, karena luas museum yang masih belum memadai, baru 700-an benda yang bisa dipajang di dalam museum. Sisanya, masih tersimpan di dalam gudang. Sekilas saat melihat dan membaca berbagai keterangan yang tertempel di semua benda dan alat itu, siapa pun pasti akan bergidik.

Di museum ini pengunjung bisa menyaksikan berbagai peralatan terapi sakit jiwa yang penggunaannya dibenarkan oleh rumah sakit jiwa maupun tidak. Seperti peralatan terapi yang dibenarkan penggunaannya dan dipajang di museum ini adalah bak hydrotherapy. Peralatan itulah yang digunakan tenaga medis RSJ pada abad ke-19 untuk merendam pasien agar pasien yang kambuh bisa tenang.

Karena pada saat itu ilmu kedokteran jiwa belum maju seperti sekarang, jadi terkadang alat-alat dan perlengkapan yang digunakan untuk menerapi pasien terlihat kejam dan sadis. Padahal memang begitulah penanganan pada zaman itu. Terhadap dunia kedokteran dan dunia psikologi serta psikiatri, pengunjung juga bisa menyaksikan koleksi foto-foto para Menteri Kesehatan sejak era kepemimpinan Bung Karno hingga saat. Begitu juga berbagai foto para ahli yang turut berjasa dalam mengembangkan dunia psikiatri.

Bergeser sedikit, Anda juga akan melihat koleksi sepasang straight jacket. Di banyak film impor, adegan tokoh yang terindikasi terkena gangguan jiwa sering digambarnya mengenakan kostum ini. Yakni jaket putih dengan banyak tali serta gesper dengan bukaan di bagian punggung. Di ujung lengan terdapat tali yang gunanya untuk mengaitkan dua tangan ke belakang dengan posisi sedekap. Lalu ada juga alat yang biasanya masih dijumpai di daerah-daerah pelosok untuk menangani warga yang dianggap gila, yakni pasung kayu. Biasanya digunakan dengan posisi duduk, dua kaki dimasukkan ke dua lubang kayu yang bisa dibuka tutup.

Penggunaan straight jacket dan alat pasung ini sebenarnya tidak dianjurkan. Hanya saja, pada beberapa kasus, pasien memang harus mengenakan pakaian ini agar tidak sampai melukai orang lain. Ini kami pajang agar masyarakat tahu bahwa penggunaannya dilarang karena justru akan menyakiti dan melukai penderita gangguan jiwa. Di tempat ini pula kita akan menemukan alat ‘sadis‘ lainnya, yakni alat pengiris otak. Jangan membayangkan yang tidak-tidak bila melihatnya dari jauh karena alat itu hanya menjadi bagian dari alat-alat laboratorium zaman dulu untuk meneliti otak manusia beserta gangguan-gangguannya. Jadi, bukan otaknya pasien yang dibuka dan diiris untuk menyembuhkannya.

Lalu bergeser ke bagian lain, suasana hati dan penglihatan pengunjung akan lebih sejuk dan romantis. Di ruangan juga dipajang sekitar 30 lukisan berbagai ‘aliran‘ karya pasien RSJ Lawang. Ada lukisan aliran realis yang menggambarkan pemandangan alam gunung lengkap dengan sawahnya, bunga mawar merah, juga lukisan wajah manusia dengan garis-garis wajah yang terlihat sempurna untuk karya pasien RSJ.

Salah satu lukisan yang cukup menarik perhatian adalah lukisan yang dalam keterangannya berjudul ‘Wedhok….‘ karya Ajie R lengkap dengan inisial tapi tanpa identitas waktu. Wujud perempuan dalam lukisan itu berambut cokelat seleher, dengan hidung terlihat sangat mancung karena dilengkapi bayangan dan mata yang menatap hampa ke depan. Ada juga lukisan aliran abstrak yang berwujud coretan-coretan serta bangun-bangun tidak beraturan namun memiliki komposisi warna yang kuat dan padu.

Di Rumah Sakit Jiwa ini memang menyediakan ruang Kreasi yang bisa dimanfaatkan semua pasien untuk mengeksplorasi bakat minat mereka. Kegiatan di Ruang Kreasi RSJ Lawang ikut membantu proses terapi kejiwaan pasien. Mereka menjadi lebih tenang dan mudah dikendalikan. Tidak hanya lukisan, ada beberapa karya yang lain seperti gantungan kunci, tatakan gelas, tas laptop, tas hp dari bahan rajutan dan masih banyak lagi. Ini merupakan salah satu metode terapi yang dipakai RSJRW. Keterampilan yang didapat selama menjalani proses rehabilitasi diharapkan dapat digunakan sebagai bekal rehabilitan saat sudah dinyatakan sembuh dan kembali ke masyarakat.

Keberadaan Museum Kesehatan Jiwa bertujuan untuk mengedukasi masyarakat dan memberi pemahaman mengenai segala permasalahan kejiwaan dan penanganannya yang tepat. Selama ini masyarakat masih menilai negatif segala hal yang berhubungan dengan gangguan kejiwaan. Padahal rumah sakit ini sangat bersih dan tertata rapi. Oleh karena itu, dengan adanya museum ini diupayakan akan mengubah citra masyarakat tentang Rumah Sakit Jiwa Dr. Radjiman Wediodiningrat Lawang. Pengunjung museum ini kebanyakan adalah mahasiswa Stikes yang mendapat tugas untuk belajar ke sini. Selain itu, juga ada pengunjung-pengunjung dari mancanegara yang datang. Karena itu, diharapkan agar tempat ini suatu saat bisa menjadi salah satu tempat riset masalah gangguan kejiwaan.

Source http://ngalam.id http://ngalam.id/read/3910/museum-kesehatan-jiwa-rsj-dr-radjiman-wediodiningrat/
Comments
Loading...