Museum Galeri Melaka Jakarta

0 295

Lokasi  Museum Galeri Melaka

Museum Galeri Melaka terletak di Jl. Malaka No.11, RT.6/RW.1, Roa Malaka, Tambora, Kota Jakarta Barat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 11230.

Museum Galeri Melaka

 

Dulunya bangunan lawas yang digunakan oleh Galeri Melaka ini merupakan gedung milik Borneo Company atau Het nieuwe gebouw der Borneo Company, yang dibangun pada tahun 1923. Gedung ini dirancang oleh NV Architecten-Ingenieursbureau Fermont te Weltevreden en Ed. Cuypers te Amsterdam, sebuah biro arsitek yang cukup terkenal di Batavia (sekarang Jakarta). Sejak 1921 biro arsitek ini dikenal dengan Biro Arsitek Fermont-Cuypers saja, karena Hulswit yang pernah bergabung dalam biro arsitek ini telah meninggal.

Setelah ditinggalkan oleh Borneo Company, gedung tua ini dipakai oleh NV Handel Maatschappij Deli-Atjeh yang kantor pusatnya berada di Amsterdam, Belanda. NV Handel Maatschappij Deli-Atjeh merupakan perusahaan perdagangan atau importir komoditas hasil perkebunan yang ada di Hindia Belanda untuk dipasarkan ke Eropa dan investasi.

Pada masa penjajahan Belanda kedudukan kelas menengah ditempati oleh kelompok pengusaha Belanda terutama kelompok Sembilan Besar, yakni Borneo Sumatra Handel Maatschappij (Borsumij), NV Lindeteves Stokvis, Internationale Credit en Handelvereeniging (Internatio), NV Jacobson van den Berg & Co., Geo Wehry, Harmsen & Verwey, NV Handel Maatschappij Deli-Atjeh, M.H. Marondelle en Voute, dan Reis Coy di tingkat atas dan pedagang-pedagang Tionghoa di tingkat bawah sebagai kelas menengah bawah.

Dalam konstruksi struktur sosial yang diciptakan oleh Belanda, peran golongan menengah ini tidak lebih daripada sekadar memenuhi kepentingan kolonialisme Belanda sebagai penguasa. Bahkan kelompok ini, di samping menjadi golongan perantara antara kolonial Belanda dengan masyarakat setempat, juga digunakan oleh masyarakat ningrat untuk mengambil keuntungan dari masyarakatnya.

Gedung berlantai dua yang dirancang oleh arsitek Belanda ini memang didesain sebagai gudang rempah-rempah dan sekaligus perkantoran perusahaan yang menempatinya. Besar, memanjang, dan banyak ruangan. Pintu utamanya umumnya lebar dan tinggi. Hal ini sepertinya telah diantisipasi oleh sang arsitek, agar memudahkan untuk lalu lalang bagi alat transportasi yang ingin mengangkutnya dari ruang penyimpanan rempah-rempah di lantai satu menuju ke Pelabuhan Sunda Kelapa, atau Kali Besar. Pada saat itu, Kali Besar yang berada sekitar 200 m arah timur dari gedung ini menjadi akses keluar masuknya kapal dari mancanegara.

Akhir tahun 1950-an, seluruh perusahaan besar Belanda yang sebagian besar berkantor di kawasan Kali Besar dan sekitarnya, dinasionalisasi menjadi BUMN. Sehingga, mayoritas gedung tua yang terdapat kawasan tersebut secara otomatis banyak yang beralih menjadi aset milik BUMN. Termasuk gedung Borneo Company atau NV Handel Maatschappij Deli-Atjeh menjadi gedung milik PT Perusahaan Perdagangan Indonesia (Persero). Hal ini bisa dilihat dari plakat yang terpasang di atas pintu utama dari gedung klasik ini.

Source http://kekunaan.blogspot.co.id/ http://kekunaan.blogspot.co.id/2016/03/galeri-melaka-jakarta.html
Comments
Loading...