Museum Bank Indonesia Padang

0 392

Lokasi Museum Bank Indonesia

Museum Bank Indonesia terletak di Jl. Batang Arau, Berok Nipah, Padang Bar., Kota Padang, Sumatera Barat.

Museum Bank Indonesia

Awalnya, gedung Museum Bank Indonesia ini merupakan Kantor De Javasche Bank (DJB) Padang, atau dalam bahasa Belandanya De Javasche Bank Agentschap Padang. DJB Agentschap Padang merupakan kantor cabang DJB yang ke-3 setelah kantor cabang Semarang dan Surabaya, serta merupakan kantor cabang yang pertama di luar Pulau Jawa, didirikan pada tahun 1930, gedung ini dibuka pertama kali pada 29 Agustus 1864 dengan direktur pertamanya bernama A.W Verkouteren.

Seiring Padang berkembang menjadi kota perdagangan dan militer di pesisir Barat Sumetera antara abad ke-18 sampai abad ke-19, menjadikan Padang sebagai pintu utama perdagangan dan keuangan di Sumatera pada saat itu. Kondisi ini yang menyebabkan direksi DJB memutuskan untuk memperbarui gedung yang lama dengan gedung yang lebih modern pada tahun 1912. Karena terganjal perizinan, mengingat daerah tersebut direncanakan menjadi areal pelabuhan, maka baru bisa direalisasikan pembangunannya pada 31 Maret 1921.

Pembangunan gedung BI di kawasan Muaro melibatkan biro arsitek ternama dari Batavia, NV Architecten-Ingenieursbureau Fermont te Weltevreden en Ed Cuypers te Amsterdam, atau biasa disingkat menjadi Biro Fermont-Cupers. Pada tahun tersebut, nama Hulswit sudah tidak dicantumkan lagi pada nama biro tersebut karena Hulswit sudah meninggal. Biro ini mengerjakan mulai dari desain gedung sampai kepada pelaksanaan fisik gedungnya. Gedung ini rampung, dan mulai difungsikan pada tahun 1925. Kemudian Gubernur DJB di Padang kala itu dijabat oleh Mr. L.J.A. Trip.

Bangunan DJB Padang ini memiliki kemiripan desainnya dengan DJB Kediri. Gedung ini bergaya arsitektur modern yang telah disesuaikan dengan iklim tropis di Indonesia, ciri yang menonjol adalah bagian atapnya menyerupai atap masjid. Atap berbentuk limasan dengan bagian puncaknya berbentuk kubah. Atapnya terbuat dari genteng. Pintu masuk berada di tengah yang menghadap ke timur. Sekeliling dinding bangunan terdapat jendela kaca yang diberik jeruji besi, jendela dibuat ramping dan tinggi. Di bagian depan terdapat 9 buah jendela, di bagian samping masing-masing ada 4 buah jendela yang sama. Bangunan ini berdenah segi empat. Di bagian muka, bagian tengah agak menjorok keluar. Arsitektur bangunan ini sedikit banyak dipengaruhi juga dengan gaya bangunan joglo. Hanya saja, pintu-pintunya yang lebar dan tinggi ini mengadopsi gaya Eropa.

Pada masa pendudukan Jepang, gedung DJB pernah diambil alih dan kemudian diganti menjadi Nanpo Kaihatsu. Pada Oktober 1945, Belanda datang kembali ke Indonesia dengan membonceng tentara Sekutu. Beberapa wilayah di Indonesia berhasil dikuasai Netherlands Indies Civil Administration (NICA), termasuk di antaranya Padang. Pada 23 Oktober 1947 DJB Agentschap Padang kembali dibuka oleh NICA.

Pada 19 Juni 1951 pemerintah membentuk Panitia Nasionalisasi DJB untuk mengatur pembelian saham DJB yang diperdagangkan di Bursa Efek Amsterdam. Lalu, pada 3 Agustus 1951 pemerintah mengajukan penawaran kepada para pemilik saham DJB. Dalam waktu dua bulan, hampir seluruh saham DJB terbeli.

Akhirnya pada 1 Juli 1953, lahirlah Bank Indonesia melalui UU No. 11/1953 menggantikan DJB dan merupakan bank sentral milik Indonesia dengan peraturan yang berlaku di Indonesia. Dengan demikian, DJB Agentschap Padang berubah menjadi BI Cabang Padang dan gedung ini tetap digunakan sampai 2 Januari 1977. Setelah itu BI Cabang Padang pindah ke Jalan Jenderal Sudirman No. 22 Padang, karena gedung yang lama sudah tidak dapat menampung kegiatan yang ada. Bangunan kokoh dan indah ini merupakan aset yang berharga bagi sejarah perbankan di Indonesia.

Source https://gpswisataindonesia.info https://gpswisataindonesia.info/2014/05/wisata-sejarah-di-sumatera-barat/
Comments
Loading...