Museum Adityawarman Padang

0 322

Lokasi Museum Adityawarman

Museum ini terletak di Jalan Diponegoro No. 10 Kelurahan Belakang Tangsi, Kecamatan Padang Barat, Kota Padang, Provinsi Sumatera Barat.

Museum Adityawarman

Museum Adityawarman ini mulai dibangun pada tahun 1974 dan diresmikan pada 16 Maret 1977 oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Prof. DR. Syarif Thayeb, dan hingga kini telah menghimpun sekitar 6.152 koleksi.

Nama Museum Adityawarman diambil dari nama Raja Minangkabau keturunan Majapahit sebagai bukti bahwa rakyat Minangkabau adalah etnik yang terbuka dan mau menerima kepemimpinan untuk kemaslahatan umat. Sebagai Raja Minangkabau di abad XIV Masehi tentang kebesarannya dapat kita ketahui melalui peninggalannya berupa prasasti yang terdapat di Saruaso, Limo Kaum, Pagaruyung dan sebagainya, serta arca Bhairawa (sekarang berada di Museum Nasional Jakarta) dan Candi Padang Roco di Kabupaten Dharmasraya.

Museum Adityawarman memiliki areal lahan seluas 2,6 hektar dengan luas bangunannya sekitar 2.855 m². Museum yang menggunakan arsitektur khas Minangkabau berupa Rumah Gadang ini, merupakan museum budaya terpenting yang berada di Sumatera Barat. Museum tersebut berfungsi sebagai tempat menyimpan dan melestarikan benda-benda bersejarah seperti cagar budaya Minangkabau, cagar budaya Mentawai dan cagar budaya Nusantara. Untuk menjaga kelestarian koleksi benda-benda bersejarah tersebut, pemerintah setempat membentuk tim kecil yang bertugas sebagai tenaga edukator, konservator, preparator dan pustakawan.

Koleksi Museum Adityawarman

Dari sekitar 6.152 koleksi yang dimiliki museum ini, dikelompokkan kedalam 10 jenis, yaitu Geologika/Geografika, Biologika, Etnografika, Arkeologika, Historika, Numismatika Heraldika, Filologika, Keramologika, Seni Rupa, dan Teknologika. Koleksi Geologika/Geografika terdiri atas batu-batuan, mineral dan benda-benda alam lainnya (batuan andesit, batu bara, permata) dan alat pemetaan lainnya.

Koleksi Museum Adityawarman

Koleksi Biologika berupa fosil tumbuhan, binatang dan manusia, sedangkan koleksi Etnografika meliputi benda koleksi yang menjadi obyek penelitian antropologi, benda-benda tersebut merupakan hasil budaya atau gambaran identitas suatu etnis. Seperti Suntiang Kurai yang terbuat dari emas 18 karat, dipakai oleh pengantin wanita pada upacara adat perkawinan di daerah Kurai dan Bukittinggi dan sekitarnya sebagai hiasan kepala. Lalu, Kampie Ameh yang terbuat dari emas 18 karat penuh dengan hiasan ukiran motif flora, tali terdiri dari susunan batu koral, dipakai oleh pengantin wanita pada upacara adat perkawinan di Minangkabau, dan juga keris bersalut emas yang merupakan salah satu kelengkapan pakaian adat penghulu atau rajo di Minangkabau yang dipakai pada upacara adat, serta selendang songket yang berasal dari Pitalah (Kab. Tanah Datar) dipakai sebagai salempang atau tingkuluak sebagai tutup kepala wanita daerah Pitalah dalam berpakaian adat.

Source Museum Adityawarman Padang Padang
Comments
Loading...