Monumen Wiranara

0 168

Monumen Wiranara

Monumen Wiranara terletak di Dusun Kwayuhan, Sendangmulyo, Minggir, Sleman. Kemerdekaan Indonesia pada tangggal 17 Agustus 1945 tentulah merupakan hari yang bersejarah bagi bangsa Indonesia. Harapan rakyat Indonesia pada waktu itu adalah terbebas dari nasib sebagai bangsa terjajah yang sudah dilakoni selama beratus-ratus tahun dan melewati beberapa generasi. Pada kenyataannya setelah Indonesia merdeka tidak serta merta menjadi bangsa yang berdaulat menentukan kehidupan berbangsa dan bernegara. Pihak Belanda yang membonceng sekutu ingin kembali menguasai Indonesia yang selama tiga setengah tahun berpindah tangan pada kekuasaan Jepang.

Akibatnya kedaulatan Indonesia sebagai sebuah negara tidak stabil. Tidak berselang lama setelah Proklamasi Kemerdekaan tepatnya pada tanggal 29 September 1945 Belanda berhasil merebut Jakarta. Jatuhnya ibu kota ke Belanda membuat Sri Sultan Hamengku Buwono IX mengirimkan utusannya dan menawarkan kota Yogyakarta menjadi Ibukota. Saran ini kemudian disetujui oleh Presiden Soekarno. Pada tanggal 4 Januari 1946, ibukota Indonesia resmi pindah ke Yogyakarta. Istana Negara pun pindah ke Gedung Agung yang letaknya berseberangan dengan Benteng Vedeburg.

Kepindahan pemerintahan Republik Indonesia ke Yogyakarta diikuti dengan kepindahan Markas Kepolisian Rebulik Indonesia. Jika pada waktu itu pemerintahan negara berada di Gedung Agung maka tidak demikian dengan Kepolisian yang tidak mempunyai tempat sebagai markas besarnya. Pada waktu itu rakyat Yogyakarta sangat mendukung perjuangan Kepolisian Republik Indonesia. Sebuah dusun yang terletak dekat Sungai Progo yang tergolong pedusunan yang masih sederhana dan jauh dari keramaian Kota Yogyakarta menyediakan diri sebagai tempat untuk markas Kepolisian. Dusun itu bernama Dusun Kwayuhan.

Dusun Kwayuhan masuk dalam wilayah Kelurahan Sendangmulyo, Kecamatan Minggir, Kabupaten Sleman. Dusun yang dikelilingi hamparan sawah dan dihiasi pemandangan perbukitan Menoreh di sebelah barat. Sebagian besar warganya bekerja sebagai petani. Uluran tangan para warganya sangat berjasa bagi perjuangan bagi Kepolisian Republik Indonesia. Salah satu rumah yaitu kediaman kepala desa Bapak Damanuri dijadikan komando layaknya sebagai markas Kepolisian, rumah itu juga dilengkapi pos jaga yang kini digunakan sebagai poskamling. Tak jauh dari lokasi itu, ada rumah Hadi Wiyono yang dulu dijadikan dapur umum dan rumah milik Jiwo Suharsono sebagai kantor administrasi. Pada waktu itu yang menjabat sebagai kepala Polri adalah Jenderal Sukamto. Dari Dusun terpencil inilah semua komando kepolisian negara dilakukan. Rakyat dengan sukarela membantu semua kegiatan ini demi mempertahankan kemerdekaan yang sudah diraih. Di dusun ini juga didirikan Sekolah Polisi oleh R. Mohamad Zein Suryopranoto.

Bentuk bantuan yang lain juga diberikan oleh warga Dusun Nanggulan, Desa Sendangagung, Kecamatan Minggir, Kabupaten Sleman. Dusun ini letaknya ada di sebelah barat Dusun Kwayuhan, namun berbeda wilayah desa. Menurut salah satu pelaku sejarah yang masih hidup, di dusun ini adalah tempat diadakan Sekolah Polisi Darurat. Sebagai tempat untuk sekolah diadakan di salah satu rumah warga. Menurut sumber yang lain di Dusun Nanggulan bukan sebagai tempat Sekolah Polisi Darurat tetapi sebagai tempat pertempuran antara tentara Belanda dengan laskar rakyat.

Ketika terjadi agresi militer Belanda II tahun 1949 jumlah kekuatan polisi di Kwayuhan hanya sekitar 300 personil dan tak cukup melawan Belanda. Oleh karena itu semua laki-laki di daerah tersebut ditawari menjadi polisi. Ujiannya pun sangat mudah, dengan cara melompati dua dingklik (bangku) . Begitu mudah syarat untuk menjadi polisi, jika bisa melakukan rintangan itu sudah menjadi Polisi, tetapi resikonya harus siap mati melawan Belanda untuk menyelamatkan Yogyakarta. Kerja sama antara polisi dan rakyat Dusun Kwayuhan bahu-bahu sampai ibukota NKRI pindah kembali ke Jakarta.

Jasa rakyat Dusun Kwayuhan dan sekitarnya bagi Polri menggugah rasa hutang pihak kepolisian pada warga Kwayuhan. Atas prakarsa Jenderal Anton Soedjarwo dibangunlah sebuah monumen yang dikenal dengan “MONUMEN WIRANARA”. Wira berarti berani dan nara dalam Bahasa Jawa berarti orang. Jika diartikan Wiranara adalah manusia pemberani yang berjuang membela nusa dan bangsanya. Sedangkan warga Dusun Nanggulan yang berjasa sebagai tempat Sekolah Polisi Darurat mendapat tanda kasih dari Polri berupa “Gedung Serba Guna” yang dibangun di kompleks Kelurahan Sendang Agung. Pada tahun 1983, Kapolri Jenderal Anton Soedjarwo meresmikan Museum Wiranara sebagai simbol bakti Polri kepada rakyat yang mencintainya. Monumen itu sebagai tanda bahwa perjalanan panjang Kepolisian Rebuplik Indonesia pernah melibatkan rakyat di Dusun Kwayuhan.

Monumen Wiranara masih berdiri kokoh, sekokoh perjuangan rakyat pada waktu itu. Rakyat turut berjasa dalam mendukung dan mempertahankan Kepolisian Republik Indonesia. Ingatan rakyat masih kuat, Polri yang sekarang menjadi intitusi yang besar dahulu dibesarkan dan dijaga oleh rakyat di sebuah dusun yang terpencil nun jauh di wilayah Yogyakarta.

Source https://moergiyanto.wordpress.com https://moergiyanto.wordpress.com/2013/04/20/feature-sejarah/
Comments
Loading...