Monumen TGP Malang

0 33

Monumen TGP Malang

Monumen TGP Malang adalah salah satu monumen yang terletak di persimpangan Jalan Semeru dan Jalan Tangkuban Perahu, Kota Malang. Tepatnya, monumen ini berada di depan pintu ekonomi sebelah timur Stadion Gajayana Malang.

Monumen ini didirikan pada 7 Juli 1989 untuk mengenang perjuangan para pahlawan yang tergabung dalam satuan Tentara Genie Pelajar (TGP) Malang yang gugur mempertahankan kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) ketika terjadi Agresi Militer tentara Sekutu di Malang pada Juli 1947.

Tentara Genie Pelajar (TGP) ini dibentuk pada 1947 sebagai kelanjutan dari pergerakan para pelajar yang mengangkat senjata serupa seperti Tentara Republik Indonesia Pelajar (TRIP). Para pelajar yang menarik diri dari medan perjuangan ketika dilakukan Perjanjian Linggarjati oleh pemerintah Republik Indonesia dan Belanda, akhirnya kembali ke sekolah. Khususnya, bagi murid kelas III, mereka masuk ke STN/SMTT yang baru dibuka kembali di Lawang dan diasramakan di Jalan Sumberwaras Lawang. STN/SMTT ini adalah sekolah teknik setara dengan Sekolah Menengah Atas (kalau zaman sekarang disebut STM/SMK).

Kurang lebih 5 bulan kemudian setelah kenaikan kelas, sekolah pun dipindah lagi ke Kota Malang. Untuk sementara waktu, mereka menumpang di gedung Sekolah Katholik Corjesu di Jalan Celaket. Tidak berapa lama, sekolah dipindah lagi ke SMP Kristen Jalan Semeru No. 42, Kota Malang. Di situlah tempat kelahiran Kesatuan Tentara Genie Pelajar (TGP) di bawah pimpinan Soenarto. terbentuk, tepatnya pada 2 Februari 1947. Dengan semboyan “Berjuang Sambil Belajar”, TGP didirikan oleh sekelompok pelajar pejuang SMTT, yang sebenarnya sudah ada sejak berkumpul di asrama Sumberwaras, Lawang, sampai di mes Jalan Ringgit Malang.

Jeda Perjanjian Linggarjati ini juga dimanfaatkan untuk merekrut anggota TGP yang baru. Pembentukan kesatuan baru ini diawali dengan acara pendidikan dan latihan, baik dalam dasar-dasar militer maupun spesialisasi tugas seorang anggota TGP. Ajang ini diselenggarakan selama dua minggu di Ksatrian Rampal Malang dipimpin oleh para pelatih dari Sekolah Kadet Angkatan Laut Malang.

Lima bulan setelah terbentuk, pasukan TGP ini langsung mendapat tugas berat. Bersama TRIP dan satuan pasukan lainnya, mereka bertugas dalam misi pembumihangusan Kota Malang ketika terjadi Agresi Militer Belanda yang pertama, Juli 1947. Misi ini dilakukan demi mempertahankan kemerdekaan RI. Selain menghancurkan bangunan-bangunan penting di Kota Malang agar tidak bisa direbut oleh Sekutu Belanda, pasukan TGP juga bertugas bergerilya menghancurkan jembatan-jembatan penting yang menghubungkan kota-kota lain dengan Malang, seperti jembatan perbatasan Malang-Lumajang. Hal ini dilakukan untuk menghambat pergerakan pasukan musuh yang terus merangsek ke dalam kota kala itu. Pasukan TGP pun bertugas menghadang pasukan penjajah yang melakukan patroli ke desa-desa.

Begitu persetujuan Renville ditandatangani antara Indonesia-Belanda pada 17 Januari 1948, genjatan senjata pun berlaku. Pada masa gencatan senjata ini, TGP kemudian memanfaatkan jeda waktu itu untuk melakukan konsolidasi dengan pengembangan organisasi. Tugas utama sesudah konsolidasi ini adalah mempersiapkan usaha perlawanan terhadap serangan musuh di daerah poros gerakan Kepanjen, Wlingi, Lodoyo – Blitar dengan penghancuran jembatan-jembatan dalam poros jalan tersebut dan berakhir dengan melaksanakan bumi hangus total kota Blitar. Tugas yang kedua yakni mempersiapkan bakal calon daerah yang dapat dikembangkan sebagai “basis” sekaligus “kantong RI” bagi kompi I di daerah kota Blitar apabila harus meninggalkan kota Blitar.

Akhirnya, untuk mengenang perjuangan pasukan belia TGP ini di Jalan Semeru yang menjadi lokasi terbentuknya pasukan ini pun didirikan Monumen TGP. Monumen ini berbentuk patung dua sosok tentara muda yang mengangkat senjata. Pada empat kaki pilar yang menopang landasan di mana patung tersebut berada, terdapat palakat serupa batu nisan yang bertuliskan para pejuang Tentara Genie Pelajar (TGP) yang gugur dalam menegakkan kedaulatan NKRI.

Jika ingin mengunjungi Monumen TGP ini cukup mudah, karena akses jalannya dilewati oleh angkutan kota (angkot) umum. Jalur GL dan ADL bisa diakses dari Terminal Landungsari, sementara dari Terminal Gadang (Hamid Rusdi), silakan menempuh jalur LDG. Sedangkan dari Terminal Arjosari, tersedia jalur AL dan ADL.

Source https://ngalam.co https://ngalam.co/2015/12/30/monumen-tgp-malang-dan-sejarahnya/
Comments
Loading...