Monumen Perjuangan Tabarena Bengkulu

0 417

Lokasi Monumen Perjuangan Tabarena

Monumen Perjuangan Tabarena terletak di Kecamatan Bermani Ulu, Kabupaten Rejang Lebong, Provinsi Bengkulu.

Monumen Perjuangan Tabarena

Jaman dulu, Tugu dan monumen itu merupakan tonggak sejarah perjuangan masyarakat Rejang Lebong. Ada juga dua bukti sejarah selain Tugu dan Monumen Pahlawan yaitu Taman Makam Pahlawan dan Jembatan Tabarenah yang sedikit lebih terawat.

Walaupun saksi sejarah Monumen Perjuangan Desa Tabarenah sudah tidak ada, namun kisahnya sangat terkenang dan tercatat di dokumen RL. “Mungkin dalam mengenang sejarah Tabarenah, tidak sepenuhnya sesuai fakta. Namun setidaknya cerita yang berkembang saat ini mendekati dengan kejadian yang sebenarnya. Soalnya untuk tahu kejadian sebenarnya, sangat sulit. Saya rasa saat ini hampir semua pejuangnya sudah meninggal,” kata Ketua Legiun Veteran RL, Lettu. Purn H. A Taher.

Berbagai sumber diceritakan, Jembatan Tabarenah sempat dibom dinamit oleh pejuang. Tujuannya menghalau tentara Jepang agar tidak bisa masuk ke Tabarenah. Juga untuk menghalau Jepang masuk ke Lebong. Konon katanya saat jembatan hancur, ada beberapa mobil milik Jepang yang terbakar, jatuh ke Sungai Musi. Bukti sejarahnya pun di jadikan lagu yang berjudul Jamben Tabarenah. Banyak peneliti yang meneliti sejarah Tabarenah tersebut.

Dari dokumen sejarah sesuai diceritakan Amirudin, komandan pertempuran dalam perang merebut kemerdekaan adalah Kapten Berlian. Namun, menurut catatan di Monumen Tabarenah, tongkat komando ada di tangan Staf Batalyon R. Iskandar Ismail dibantu Kepala Mobilisasi/Latihan Rakyat MZ Ranni, 30 Desember 1945. Karena kalah persenjataan, akhirnya Jepang dapat memasuki Tabarenah. Setelah berhasil masuk serangan Jepang semakin membabi buta. Tak kurang 60 rumah warga dibakar. Hanya 6 rumah yang selamat dari api dan sebagian diantaranya masih berdiri hingga sekarang. Korban nyawa juga bergelimpangan. Baik dari masyarakat sipil, TKR maupun tentara Jepang. Serangan Jepang dimulai 27 Desember 1945 itu tak membuat ciut nyali pejuang.

Bersama rakyat, TKR dengan modal keberanian mati-matian mempertahankan NKRI. Dalam pertempuran sengit itu, tercatat 90-an lebih tentara Jepang terbunuh dari total ratusan tentara yang rincinya belum terungkap pasti. Karena banyak tentaranya yang tewas, Jepang akhirnya kembali ke markasnya di Dwitunggal Curup menggunakan 9 truk tentara Jepang. Sementara pejuang kita, tercatat 250 orang gugur dan luka-luka. Dikisahkan juga oleh Amirudin dalam sejumlah surat kabar, puncak kemarahan Jepang berawal saat kepala salah satu tentara Jepang dipenggal warga Desa Tabarenah bernama Jaiman.

Source http://visitingrejanglebong.com/ http://visitingrejanglebong.com/monumen-perjuangan-desa-tabarenah/
Comments
Loading...