Monumen Perjuangan Polri Di Tlogowaru

0 107

Monumen Perjuangan Polri Di Tlogowaru

Monumen Perjuangan Polri Tlogowaru terletak diperbatasan antara Desa Tlogowaru dan Desa Genengan. Keberadaan monumen yang berarti menandakan pernah terjadi suatu peristiwa sejarah.

Monumen Perjuangan Polri Tlogowaru menceritakan peristiwa sejarah tentang penyerbuan terhadap anggota Mobile Brigade oleh pasukan Belanda atau sesaat setelah memasuki Malang pada Agresi Militer I.

Pada sore hari tepatnya tanggal 9 November 1947, Polri mengirim lebih kurang 10 pasukan Mobile Brigade untuk menjaga keamanan Desa Tlogowaru dan sekitarnya.

Saat malam peristiwa penyerangan itu terjadi bertepatan dengan terang bulan atau bulan purnama sekitar jam 2 pagi, kurang lebih 200 pasukan Belanda datang menyerbu tempat peristirahatan anggota Mobile Brigade. Mereka datang dari arah barat yang sebelumnya telah berhenti di daerah Kendal Payak yang merupakan Pos II untuk menjaga keamanan, tidak diketahui apa yang sedang terjadi di sana sebab jarak antara Tlogowaru dan Kendal Payak berjarak sekitar kurang lebih 3,5 km.

Menurut seorang saksi mata dan sekaligus korban yang bernama Warimin, melihat Belanda datang dari arah barat Tlogowaru dengan menembaki rumah penduduk. Setelah sampai di Desa Genengan pasukan Belanda mulai memisahkan diri membentang dan mengelilingi desa.

Dalam penyerbuan tersebut, pasukan Belanda mengambil senjata (Bayonet) milik anggota Mobile Brigade yang sebelum tidur mereka sembunyikan terlebih dahulu. Senjata itu diketahui oleh seorang mata-mata. Padahal persembunyian senjata itu jauh dari tempat anggota Mobile Brigade yang istirahat dan ditutupi dengan batang pisang tidak memungkinkan pihak Belanda mengetahui kecuali mereka menyusupkan seorang mata-mata.

Penyerbuan Belanda yang begitu tiba-tiba, bahkan warga yang sedang melakukan patroli ditangkap. Kusno, Durrakim, Warimin, Ali Basor yang sedang patroli di wilayah barat (Tlogowaru), kemudian dari wilayah timur, Sawi, Taki, Dukhah, Tami, Poniran, dan sebagainya. Mereka semua yang ikut menjaga desa diikat dengan tali yang terbuat dari kayu kemudian berjajar dipinggiran parit, ditendang dan dipukul menggunakan bayonet.

Setelah mereka mengikat dan menyiksa para penjaga desa bersamaan dengan itu anggota Mobile Brigade yang berada di dalam rumah Narijah, setelah mereka terbangun ditusuk menggunakan bayonet dan pisau, ada pula yang terlebih dahulu diseret keluar rumah kemudian ditusuk.

Hampir semua korban yang tewas isi perut mereka terburai keluar. Ada tiga Brigade Mobile yang selamat dalam kejadian itu karena sempat melarikan diri kearah selatan dan menceburkan diri ke sungai, mereka bernama Suwaji, Darmaji, dan Diono. Sedangkan anggota lain ada yang tewas ditemukan terbakar diatas tumpukan sampah kedelai. Seorang anggota Mobile Brigade ada yang menyiasati tubuhnya dengan melumuri darah yang diambil dari tubuh temanya yang telah tewas dengan bersembunyi di bawah tempat tidur.

Kekejaman Belanda tidak hanya sampai disitu saja, jasad para anggota polisi tersebut disandingkan pada bukit sehingga dapat menyangga tubuh.

Mereka yang telah gugur ialah: AP (Algemeene Politie/polisi umum) I Abdul Rachman, AP I Sukardi, AP II Soebadi, AP II Selo, AP II Ponidjan, AP II Amat, AP II Koesaeri, AP II Diman, AP I Abdil Madjid, AP II Imam, AP II Satelim, Alim (Sipil), Narijah (penduduk), dan Durrakim (penduduk).

Dalam Monumen Perjuangan Polri Tlogowaru yang tercatat hanya para anggota Mobile Brigade saja sedangkan penduduk yang tewas tidak ikut tercatat karena, monumen tersebut dikhususkan untuk para anggota Polri. Setelah para pahlawan gugur dimedan perang, para pasukan Belanda pergi dengan menembaki rumah-rumah penduduk menggunakan senjata milik anggota Brimob yang telah gugur.

Mereka kembali ke arah barat menuju daerah Kendal Payak bersama tawanan yang terdiri dari 4 anggota Mobile Brigade dan penduduk desa yang lain. Desa Kendal Payak merupakan pos II keamanan sebagai tempat peralatan perang dan transportasi, seperti truk yang digunakan untuk mengangkut para tawanan perang yang kemudian di bawa ke pusat kota dan diinterogasi. Sebagian tawanan ada yang dilepaskan, akan tetapi tidak diketahui apa yang menjadi sebab sehingga mereka dilepas.

Suasana desa Tlogowaru dan Genengan setelah pertempuran itu selesai penduduk setempat yang semula bersembunyi, semua keluar dan datang ke tempat kejadian untuk melihat dan menolong korban yang masih selamat. Saat itu banyak penduduk yang menyaksikan jasad-jasad para pahlawan gugur dengan cara yang tidak wajar dan berbagai gaya tubuh yang berbeda-beda, darah berceceran dimana-mana, dan banyak rumah-rumah terbakar.

Peristiwa itu menorehkan luka yang mendalam pada keluarga, teman, bahkan bangsa Indonesia. Jasad-jasad para anggota Mobile Brigade tersebut dibawa ke tempat asal mereka tinggal karena, mereka semua tidak hanya berasal dari Malang saja melainkan luar Kota Malang tetapi masih dalam satu Provinsi Jawa Timur. Tidak heran jika kemudian kisah pilu itu dihadirkan pada Monumen Perjuangan.

Source https://ngalam.co https://ngalam.co/2016/12/26/monumen-perjuangan-polri-tlogowaru/
Comments
Loading...