Monumen Melati Malang

0 26

Monumen Melati

Monumen Melati atau Monumen Kadet Suropati berada tepat di poros Jalan Ijen Malang dan lokasinya di depan Museum Brawijaya. Sebuah monumen tinggi yang khas dengan melati di atasnya. Monumen ini adalah bentuk penghargaan terhadap sekolah darurat di awal pembentukan Tentara Keamanan Rakyat (sekarang TNI) di daerah.

Selain itu juga sebagai wujud penghormatan untuk mengenang seluruh pendiri, tenaga pendidik dan senior-senior di TNI. Bunga melati berwarna coklat merupakan penghargaan dan apresiasi atas terbentuknya Sekolah Tentara Keamanan Rakyat (TKR). TKR merupakan cikal bakal Tentara Nasional Indonesia (TNI) yang sekarang. Sekolah TKR yang memiliki nama Sekolah Tentara Divisi VII Suropati tersebut terkenal dengan simbol bunga melatinya. Maka diambillah bunga melati sebagai bentuk monumen atas kebanggaan terhadap TKR.

Monumen ini berbentuk dua buah pilar utama setinggi 7 m yang melambangkan dua brigade yang ada di sana. Pada puncaknya terdapat sebuah kelopak melati terbuat dari perunggu berhelai 11, melambangkan bulan lahirnya Sekolah Kadet Suropati. Gambar Hongaarse Krul pada pilar utama melambangkan badge yang dulu dipakai oleh siswa didik Sekolah Kadet Suropati. Monumen Melati ini diresmikan pada tanggal 17 Desember 1982 oleh KASAD Jend. TNI Poniman.

Sekolah ini diberi nama Sekolah Tentara Divisi VIII. Pada tahun 1946 nama Divisi VIII Suropati berganti nama menjadi Sekolah Tentara Divisi VII Suropati dengan simbol melati. Di Malang, sekolah ini lebih dikenal dengan nama Sekolah Kadet Malang, karena siswanya biasa disebut dengan kadet. Gagasan pendirian sekolah ini berawal dari Kepala Staf Operasi Divisi VIII, Mayor Mutakad Hurip, sepulangnya dari pertempuran di Surabaya yang pertama, sebelum meletus pertempuran 10 November 1945. Selain di Malang, pada masa itu ada juga sekolah kadet yang didirikan oleh pimpinan militer setempat seperti di Bukittinggi, Palembang, Brastagi, Mojoagung dan Tangerang. (Baca Juga: Sejarah Sekolah Kadet Malang)

Pembukaan Sekolah Kadet ini diumumkan oleh Mayor Jenderal Imam Sujai selaku Komandan Divisi VIII pada awal bulan November 1945. Ditegaskan lulusan sekolah tentara Divisi VII Malang sama dan sederajat dengan Akademi Militer di Jogyakarta. Sekolah Tentara mula-mula menempati bekas gedung Meisjes HBS (Hoogere Burger School). Beberapa bulan kemudian pindah ke gedung Europeesche Lagere School (Susteran Cor Jesu).

Setelah sekolah ini benar-benar tidak mampu menampung peminat, akhirnya dipindahkan ke bekas asrama marine Belanda di Jalan Andalas, komplek Angkatan Laut sampai tahun 1947. Setelah setahun, dari jumlah kurang lebih 250 orang kadet, tinggal sekitar 80 orang kadet. Pada tanggal 30 November 1946 para kadet angkatan pertama sebanyak 68 orang dilantik menjadi menjadi Vaandrig oleh Panglima Divisi VII, Jenderal Mayor Imam Sudja’i.

Direktur pertama Sekolah Kadet ini adalah Mayor Moetakat. Pelamar Sekolah Kadet haruslah berijasah minimal MULO. Rencananya lama pendidikan adalah setahun. Ketika Agresi Militer Belanda I, 1947, sekolah yang semula di Malang, dipindahkan ke Malang Selatan. Angkatan kedua Sekolah Kadet dibuka pada bulan September 1947. Lama pendidikan kadet angkatan kedua adalah tiga tahun, sama seperti Akademi Militer di Jogjakarta. Kemudian dalam perkembangannya diadakan integrasi antara Sekolah Kadet Malang angkatan kedua dengan Akademi Militer Yogyakarta pada 7 Juni 1948. Di Sekolah Kadet Malang inilah timbul istilah Perwira sebagai pengganti Opsir dan Taruna sebagai pengganti Kadet. Selanjutnya istilah ini diakui secara nasional. Di samping itu, para kadet telah memiliki lagu mars kadet Malang yang berjudul ‘Mars Taruna Perwira’.

Source http://ngalam.id http://ngalam.id/read/5053/monumen-melati/
Comments
Loading...