Monumen Lubang Buaya Banyuwangi

0 94

Monumen Lubang Buaya

Monumen lubang buaya di Dusun Cemetuk, Desa/Kecamatan Cluring, merupakan salah satu tempat bersejarah di Banyuwangi. Di tempat itu, sebanyak 62 kader Gerakan Pemuda (GP) Ansor dibantai dan dikubur masal oleh para aktivis Partai Komunis Indonesia (PKI). Karena monumen itu, Desa Cluring pada tahun 2013 ini ditetapkan sebagai Desa Wisata.

Monumen Lubang Buaya yang berlokasi di sekitar perumahan penduduk di Dusun Cemetuk, Desa/Kecamatan Cluring, terlihat tidak berubah seperti tahun-tahun sebelumnya. Malahan, kondisinya tampak semakin mengenaskan karena kurangnya perawatan. Hampir semua bangunan dari monumen tersebut, catnya sudah memudar. Tulisan yang mengelupas pada bagian monumen kian meluas, hingga nyaris tak bisa terbaca.

“Belum pernah ada perbaikan atau dicat lagi sejak dibangun pada 1995 lalu,” cetus Sopingi, 53, penjaga Lubang Buaya Cemetuk. Meski belum pernah ada perbaikan, kondisi monumen memang masih terlihat kokoh. Burung Garuda yang menghadap ke arah timur, terlihat masih gagah perkasa. Begitu juga dengan diorama yang ada di sebelah utara dan di bawah patung Garuda Pancasila. “Sebenarnya perlu perbaikan, tapi sulit mendapatkan dana,” katanya.

Di antara bangunan yang masih terlihat baik, itu hanya tiga lubang yang ada di belakang burung Garuda. Ketiga lubang dengan ukuran 3 X 3 meter, 3 X 4 meter, dan 3 X 5,5 meter ini masih bagus karena sudah dibangun dengan keramik. “Di tiga lubang itu, dulu korban (62 orang kader GP Ansor) dikubur,” terang Sopingi. Puluhan kader Ansor dari wilayah Kecamatan Muncar, tidak lama berada di tiga kubangan tersebut. Karena setelah itu, oleh keluarganya dipindah ke daerah asalnya di Kecamatan Muncar.

“Para korban keganasan PKI itu dikubur di lubang buaya ini hanya tiga hari,” jelas Sopingi. Para korban yang dikubur di lubang buaya itu, tidak semua dibantai atau dibunuh di lokasi itu. Sebagian besar, dibawa ke lubang buaya setelah sudah meninggal, pingsan, atau tidak berdaya. “Banyak yang dibantai di luar daerah, lalu dikumpulkan dan dikubur di sini (Cemetuk),” tuturnya. Aksi pembantaian dan pemakaman masal oleh PKI ini, tidak dilakukan pada 30 September 1965 seperti yang terjadi di Jakarta.

Tapi, peristiwa di Cemetuk ini terjadi pada 18 Oktober 1965. “Peristiwanya sangat bersejarah, semua tergambar dalam diorama,” terangnya. Para pelajar yang ada di Kabupaten Banyuwangi, selama ini banyak yang datang ke monumen ini dengan didampingi guru kelasnya. Mereka ini datang untuk mengenal lebih dalam sejarah keganasan PKI di Cemetuk. “Sekarang yang banyak datang itu anak-anak SD, dulu anak SMP juga banyak,” sebutnya.

Tempat bersejarah yang banyak menjadi jujugan warga, terutama kalangan pelajar, ternyata tidak ditangkap baik oleh Pemkab Banyuwangi. Karena sampai saat ini, pemerintah juga belum pernah mengucurkan dananya untuk perbaikan monumen. Bukan hanya itu, jalan beraspal menuju ke lokasi monumen juga sudah rusak berat. Kondisi jalan yang rusak ini, sudah berlangsung sejak lima tahun lalu. “Kita sudah berulang kali mengajukan perbaikan, tapi belum dipenuhi juga,” sebut Kepala Desa (Kades) Cluring, Sunarto.

Akses jalan menuju ke Monumen Lubang Buaya ini, memang sudah cukup parah. Dari jalan poros jurusan Banyuwangi- Jember, jarak monument ini sekitar satu kilometer dan aspal jalan hamper mengelupas semua. “Oleh warga diurugtanah karena berlubang dan membahayakan,” cetusnya. Meski kurang mendapat perhatian dari Pemkab Banyuwangi, monument ini ternyata mendapat perhatian serius dari Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf ) RI.

Pada tahun 2013 ini, Desa Cluring ditetapkan sebagai Desa Wisata. “Sebagai Desa Wisata karena ada Monumen Lubang Buaya,” sebutnya. Penetapan desa wisata ini, bersamaan dengan dikucurkan program PNPM Pariwisata. Untuk wilayah Kabupaten Banyuwangi, desa wisata ini hanya ada dua yakni Desa Sumberasri, Kecamatan Purwoharjo, dan Desa Cluring. “Sumberasri sebagai desa wisata karena memiliki Wisata Bedul,” jelasnya.

Dengan ditetapkan sebagai desa wisata, pada tahun anggaran 2013 ini Desa Cluring mendapat kucuran dana Rp 75 juta. Dana ini, dipakai untuk kegiatan yang mendukung seni dan pariwisata, termasuk pembuatan gazebo di Monumen Lubang Buaya. “Kami bangga dipercaya sebagai desa wisata, semoga pemkab lebih memperhatikan dengan memperbaiki jalannya, harapnya.

Source http://maliharjonews.blogspot.com http://maliharjonews.blogspot.com/2013/09/tidak-hanya-dijakartadi-jluring.html
Comments
Loading...