Mesjid Baitul Makmur

0 15

Mesjid Baitul Makmur

Alkisah, awalnya bangunan ini merupakan tempat tinggal Syekh Umar bin Ahmad Al Ba-nashir. Pada awal-awal berdirinya kesultanan Pontianak, beliau merupakan Qadi, yang dikenal sebagai orang yang memiliki ilmu agama serta kewibawaan yang sangat tinggi.

Ditempat ini, selain sebagai tempat tinggal beliau, juga menjadi tempat menggaji. Banyak orang yang belajar agama kepada beliau. Makin lama, makin banyak yang datang menuntun ilmu agama. Dan pondok tempat pengajian itu pun dijadikan surau dan tak muat lagi menampung. Ada yang menyebutkan surau ini awalnya dinamakan surau batang lontar atau surau batang hari.

Syekh Umar kemudian mendirikan lagi bangunan di sebidang tanah yang agak ke belakang, lebih ke darat, sedikit agak menjauhi tepian sungai sebagai tempat tinggalnya,. Seiring dengan perjalanan waktu, lokasi ini pun semakin ramai dan kemudian menjadi sebuah perkampungan.

Tak seberapa lama setelahnya Syekh Umar bin Ahmad Al Ba-nashir wafat. Bukti otentik yang menjelaskan wafatnya beliau adalah batu nisan berbentuk gada. Keberadaan batu nisan ini awalnya diketahui dari tukang kayuh Syekh Umar yang bernama H Abdul Rahim. Di batu nisan, tertulis tanggal 19 Jumadil Akhir 1227 H/Oktober 1773 Masehi. Ini berarti wafatnya Syekh Umar hanya berselang dua tahun semenjak awal cikal bakal berdirinya Kesultanan Pontianak.

Namun belum ada data serta sumber otentik yang menyebutkan berapa usia Syekh Umar saat beliau wafat.  Keberadaan batu nisan saat ini tersimpan di mesjid Baitul Makmur, Sementara makam Syekh dapat ditemukan di Komplek Pemakaman Raja-Raja Pontianak di Batu Layang.

Keberadaan surau ini kemudian diperbesar dan dikembangkan oleh putranya yang bernama Syaikh Ahmad Bin Umar Bansir. Oleh masyarakat kemudian lebih dikenal dengan Surau Bansir. Nama atau kata Bansir ini merupakan pelafalan dari Ba-nashir; Banasher. Mulanya Surau Bansir hanya menjadi tempat pengajian agama dan untuk tempat shalat lima waktu. Sedangkan untuk shalat Jumat, jamaah masih dilakukan di Masjid Jami’ Sultan Abdurrahman.

Dikemudian hari, sejarah mencatat sejak hari Senin, 5 Mei 1941 surau Kampung Bansir berubah menjadi masjid. Dan pada saat pendudukan balatentara Jepang, suasana menjadi kurang aman dan mencekam akibat peperangan. Jika sebelumnya warga Bansir dan sekitarnya melaksanakan shalat Jumat di Masjid Jami’. Maka mulai saat itu di Mesjid Kampong Bansir diperkenankan menyelenggarakan shalat Jumat.

Waktu pun berjalan, pada sekitar tahun 1968-1969 sejarah mencatat nama Mesjid Kampong Bansir kemudian diubah menjadi Masjid Baitul Makmur. Kini, sebagai salah satu bangunan mesjid tua di Kota Pontianak. Mesjid Baitul Makmur Berada di areal kurang lebih 180 meter persegi. Berada di tepi sungai Kapuas kecil, tepatnya di jalan imam bonjol gang ramadhan, Bansir laut, Pontianak selatan.

Jika kita memandang dari dalam mesjid kearah kanan, maka akan langsung terlihat aktifitas di sungai Kapuas. Inilah yang membuat mesjid ini dan mesjid/surau lainnya di tepian sugai Kapuas memiliki nuansa yang khas.

Sama seperti semenjak awal. Mesjid Baitul Makmur terdiri atas satu lantai dan berbentuk panggung. Atap masjid terbuat dari bahan kayu sirap. Namun karena bahan baku sirap yang makin sulit di dapatkan, di beberapa bagiannya kini menggunakan genteng metal berwarna warna hijau. Pada kaki-kaki atap terdapat ukiran dengan corak yang khas, seperti ukiran kebanyakan rumah/ bangunan melayu dan diberi warna cat hijau.

Di bagian luar, terdapat anak tangga yang langsung menyambung ke teras. Satu berada di sebelah kiri mesjid atau yang mengarah ke gg ramadhdan, berjumlah tiga anak tangga. Kini terbuat dari batu cor dan diberi warna merah. Satunya lagi berada di bagian belakang. Berjumlah lima anak tangga dan masih menggunakan kayu belian. Tak seberapa jauh di bawah bagian anak tangga sebelah ini terdapat tempat mengambil air wudhu. Terbuat dari tangga berundak dan langsung menuju tepian sungai.

Bagi anda yang tidak tinggal di tepian sungai Kapuas ini, mengambil wudhu di tempat ini akan memberi nuansa tersendiri. Apalagi ketika kapal besar yang lewat, akan membuat air berombak. Kita pun seolah akan terhempas. Penasaran? Sile’ suatu saat anda datang ke mesjid kedua tertua di kota Pontianak ini. Setelah mengambil wudhu dan dua rakaat tahiyal mesjid. Istirahat di beranda sejenak, dengan semilir angin dari arah sungai. Mungkin anda akan terbayang bagaimana dulu syekh umar al ba-nashir pertama kali datang ke tempat ini. Atau ramainya suasana pengajian di surau ini dulunya.

Kembali ke bagian-bagian mesjid. Teras mesjid hampir mengelilingi sebagian sisi luar bagian mesjid. Berada di sebagian sisi Selatan. dan bagian belakang (timur). Terbuat dari kayu belian dan kayu mabang. Terdapat juga pagar serambi setinggi kurang lebih 60-80cm. dengan pintu dorong yang terdiri dari dua bagian.

Untuk masuk kedalam ruang utama mesjid terdapat dua buah Pintu. Yang pertama, sisi sebelah Selatan (kiri) yang mengarah langsung ke gg ramadhan. Pintunya berukuran 1 x2,5 m. terbuat dari kayu, berwarna putih dengan list hijau. Terdapat tiga bagian kaca di pintu sebelah ini. Di atasnya terdapat tulisan MESJID BAITUL MAKMUR PONTIANAK. dengan dasar berwarna hijau tua. Tulisan berwarna emas. Sedang pada pintu disisi Timur, kurang lebih berukuran sama dengan pintu di sisi selatan. Hanya saja, pada sisi ini tidak terdapat bagian kaca.

Di ruang utama mesjid, keseluruhan lantai ditutupi dengan hamparan sajadah. Pilar-pilar masjid ini terdiri dari kayu belian, yang kini dilapisi dengan keramik dengan warna gelap. Dinding-dinding interiornya juga terbuat dari kayu belian. Dan pada beberapa bagian juga dilapisi keramik putih. Untuk Plafon atau langit-langitnya dicat berwarna kuning gading.

Di bagian depan, terdapat sebuah mimbar sebagai tempat khatib menyampaikan khotbah. Disebelah kanan mighrab terdapat ruangan kecil yang diperuntukkan menyimpan barang-barang keperluan mesjid. Ada pula rak buku tempat menyimpan mushaf di salah satu sisi masjid.

Mengingat letaknya di tepian dekat dengan Sungai Kapuas, dari jendela masjid, kita bisa menyaksikan lalu lintas perahu atau kapal motor yang kebetulan melintas. Jendelanya pun dibuat dengan ukuran yang besar. Sekitar 1,5 x 1m. Tentunya sebagai bagian dari ventilasi udara agar di dalam ruangan mesjid tetap berasa sejuk.

Sebagai mesjid kedua tertua yang ada di kota Pontianak. Bentuk, cerita, dan sejarah Mesjid Baitul Makmur, tentu telah menjadi bagian yang tak mungkin terpisahkan dari sejarah kota ini. Untuk itu sudah sepatutnya ia di jaga. Bukan hanya menjaga bangunannya saja. Namun juga menjaga sejarah yang menyertainya.

Source https://pontianakheritage.wordpress.com https://pontianakheritage.wordpress.com/2015/05/11/mesjid-baitul-makmur/
Comments
Loading...