Masjid Al-A’la Desa Jatuh Barabai Kalimantan Selatan

0 132

Lokasi Masjid Al-A’la

Mesjid Al-A’la terletak di Desa Jatuh Barabai, Kalimantan Selatan.

Masjid Al-A’la

Mesjid yang berdiri pada simpang tiga sungai dikampung Jatuh telah merupakan masjid yang sangat tertua, diperkirakan didirikan pada pertengahan abad ke 17. tempat ibadah ini bernama masjid Al A’la (Bahasa Arab : A’la = tinggi), suatu nama yang disesuaikan pula menurut kepercayaan penduduk tentang tingginya halaman masjid tersebut.  Sedangkan sungai yang bercabang dau tersebut bernama Batang Banyu Jatuh yang mengalir menuju Hilir Banua dan cabangnya barnama sungai Ringsang menuju kampung Pamatang. Cabang sungai ini sudah mati dan ditumbuhi pohon rumbia.

Antara Panji-panji dan Al-Qur’an yang mengandung nilai-nilai historis dengan masjid Al-A’la ini tampaknya seakan-akan ada kaitannya satu sama lain. Berdasarkan cerita setempat seperti yang diuraikan ini memanglah hal itu demikian.

Suatu sumber yang memberikan catatan tentang pembinaan masjid Al-A’la ini mengatakan bahwa orang yang masih dikenal sebagai pembina utama ialah Penghulu Muda Yuda Lelana pada awal abad ke 19 . Baliau adalah pimpinan agama didaerah ini.

Disamping itu beliau juga dikenal sebagai Pimpinan Pasukan Baratib yang mengadakan perlawanan bersenjata terhadap penjajah Belanda. Pasukan Baratib maksudnya adalah pasukan rakyat yang selalu berzikir menyebut nama Allah, lebih-lebih pada saat bertempur.

 Sebuah pertempuran yang sengit terjadi di anak kampung Pinangin yang berhasil menewaskan beberapa serdadu belanda termasuk diantaranya pimpinan pasukan kapiten Van der Heide. Pada saat itu masjid Al-A’la berfungsi sebagai markas pasukan Baratib guna mengatur siasat pertempuran.

Panji-panji peninggalan kuno yang bertulisan zikir tersebut telah turut memberi semangat kepatriotan rakyat melawan tentara penjajah belanda, karena Panji-panji inilah yang dipakai sebagai bendera Pasukan Baratib tersebut. Sedangkan kampung Pamatang disebelah timur nya pada waktu dulu dikenal dengan nama kampung Pematang Paunduran, suatu benteng pertahanan terakhir ketika rakyat disitu mengadakan perlawanan terhadap Belanda. Pematang Paunduran merupakan istilah Bahasa Daerah Banjar yang berarti “Dataran tempat untuk mundur” yaitu daerah untuk bertahan.

Tanah tempat berdirinya Masjid Al-A’la ini adalah tanah wakaf yang berasal dari turunan keatas dari Penghulu Muda Yuda Lelana. Setelah meninggalnya Yuda Lelana masjid tersebut diteruskan pembinaannya oleh kedua putra beliau, yaitu Haji Abdurrahman dan Abu Hamid (Buamid).

Source https://www.blogger.com/about/?r=1-null_user http://masjidjatuh.blogspot.co.id/
Comments
Loading...