Mengunjungi Museum Wasaka Banjarmasin Diatas Air

0 77

Mengunjungi Museum Wasaka Banjarmasin Diatas Air

Museum Waja Sampai Kaputing atau kerap disingkat Museum Wasaka menyimpan banyak benda bersejarah saksi bisu perjuangan rakyat Kalimantan Selatan melawan penjajahan Belanda. Lokasinya di Jalan Kampung Kenanga Ulu RT 14, Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Di sini ada koleksi senjata-senjata modern hingga tradisional rakyat Banjar.

Contohnya yaitu senapan angin yang badannya dari kayu. Kemudian ada juga pakaian barajah yang bertulisan mantra-mantra tertentu agar kebal dari serangan musuh. Pakaian barajah ini seperti baju kaus dalam, baju luar, ikat kepala dan babat. Ceritanya, pemakainya yaitu para pahlawan kemerdekaan Kalimantan Selatan dulu sengaja meminta pakaian mereka dirajahkan. Biasanya, mereka yang bisa merajah ini adalah orang-orang yang ahli di bidangnya seperti para ulama.Kini, pakaian barajah milik mereka disimpan di museum ini. Tak hanya itu, di museum ini juga dipamerkan senjata-senjata tajam tradisional seperti mandau dan tombak.

Di bagian depan museum ini dipamerkan foto-foto mereka yang pernah menjadi gubernur Kalimantan Selatan hingga gubernur yang sekarang masih menjabat, yaitu H Rudy Ariffin. Di bagian tengah, di lorong sebelah kanan, dipamerkan teks proklamasi pernyataan warga Kalimantan Selatan untuk bergabung sebagai bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Masuk ke bagian dalamnya lagi, ada baju-baju barajah dan berbagai senjata yang dipakai oleh rakyat Kalsel melawan Belanda dulu. Di sini juga ada berbagai peralatan memasak dan makan yang dipakai para pejuang dulu saat bergerilya. Ada juga beberapa kamera zaman dulu, tas, radio dan mesin ketik yang dulu kerap dipakai para pejuang untuk berbagai keperluan memperebutkan kemerdekaan.

Masuk lagi ke bagian belakang, ada replika pembuatan senjata tajam dan pistol milik para pejuang. Replikanya dilengkapi patung si pembuat senjatanya. Menurut penjaga museum ini, Usin, replika itu dibuat di Yogyakarta. Sementara benda-benda bersejarah lainnya sengaja dikumpulkan dari keluarga para pejuang itu yang tersebar di beberapa daerah di Kalsel. Museum ini diresmikan pada 10 November 1991 oleh Gubernur Kalimantan Selatan kala itu, HM Said. Museum ini, uniknya berupa rumah tradisional Banjar berbentuk rumah panggung, yaitu Bubungan Tinggi.

Bangunan ini tidak dengan sengaja dibuat untuk dijadikan museum, tetapi memang sudah ada sejak lama. Dulu, rumah ini milik warga setempat yang kemudian dibeli oleh Pemerintah Daerah Kalimantan Selatan.Pemiliknya dulu adalah sepasang suami istri bernama H Jailani dan Hj Kamsiah. Rumah ini tergolong spesial karena bertipe Bubungan Tinggi. Di masa lalu, rumah tipe ini hanya untuk para bangsawan atau orang-orang kaya.

Usin yang masih keturunan dari H Jailani bercerita kalau ayahnya adalah cicit dari H Jailani. “Kata ayah saya, dulu H Jailani itu seorang yang kaya. Dia juragan jukung atau perahu tambangan. Jukung tambangan adalah salah satu alat transportasi sungai khas suku Banjar. H Jailani konon memiliki memiliki beberapa jukung tambangan yang dipakainya untuk berniaga ke berbagai daerah di Indonesia ini,” ujar PNS Dinas Pemuda, Olahraga, Kebudayaan dan Pariwisata Kalimantan Selatan ini.

Seiring berjalannya waktu, rumahnya ini kian lapuk karena semuanya berbahan kayu ulin. Setelah dijadikan museum oleh Pemda Kalsel, rumah ini direnovasi dengan masih menggunakan kayu ulin sebagai bahan utamanya untuk mempertahankan nilai tradisionalnya. Rumah ini masih tampak lengkap unsur tradisionalnya seperti tangganya, ukirannya, watun atau kayu pembatas di bagian bawah pintu-pintunya hingga lalungkang atau jendelanya yang khas Banjar. Di seberangnya ada dermaga dan Sungai Martapura.

Adapun pengunjung yang berdatangan selalu menggunakan kendaraan pribadi atau disebut juga kelotok. Pengunjung kemari lebih suka memakai alat transportasi sungai seperti kelotok. Mereka biasa diturunkan di dermaga di seberang museum ini. Biasanya, mereka berombongan dan kunjungan mereka sepaket dengan ke Pasar Terapung Lokbaintan di Kabupaten Banjar. Nah, museum ini sangat ramai pada hari libur dan weekend sedangkan senin, museum ini selalu tutup. museum ini, cukup membayar parkir Rp 3.000 jika Anda menggunakan mobil atau sepeda motor. Kalau masuk ke dalam museumnya gratis.

Pengunjung museum ini tak hanya warga Kalsel, tetapi juga dari daerah lain seperti Yogyakarta, Jakarta dan Bali. Museum ini beroperasi tiap Selasa hingga Kamis pukul 09.00-12.00 Wita, Jumat pukul 09.00-11.00 Wita serta Sabtu.

Source Mengunjungi Museum Wasaka Banjarmasin Diatas Air Banjarmasin Post
Comments
Loading...