Menelusur Kenangan Tanamur, Diskotek Pertama Asia Tenggara

0 83

Menelusur Kenangan Tanamur, Diskotek Pertama Asia Tenggara

Mendung berangsur pergi meninggalkan langit Jakarta. Hujan surut. Pengendara motor mulai hilir-mudik. Pejalan kaki kelimpungan mengatur langkah agar tak terkena cipratan bahkan terjerembap kubangan air di sepanjang jalan Tanah Abang Timur, Jakarta Pusat.

Tiga juru parkir di depan sebuah gedung tua tak kalah sibuk. Mereka mendatangi tiap motor terparkir, melepas ikatan kantong plastik keresek hitam nan sebelum hujan sengaja mereka pasang di masing-masing helm.

Dari dalam gedung tua nomor 14, seorang lelaki senja bertubuh tinggi dan berambut panjang memutih keluar menyapa. “Lagi sering hujan. Siang panas banget tahu-tahu sorenya hujan,” kata si lelaki asal Merauke, Papua kepada MerahPutih.com beberapa waktu lalu. Dia mengajak masuk untuk berbincang-bincang.

Begitu melintasi pagar, air hujan nan barusan pamit malah menyisakan basah di beberapa guratan huruf pada dinding penampang bagian atas menjadi mudah dibaca. Guratan huruf merangkai tulisan Tanamur, identitas sang gedung tua.

“Si Om”, panggilan akrab para juru parkir dan pedagang di kanan-kiri gedung, lantas memandu kami melakukan semacam tur singkat. Kebisingan dan hiruk pikuk kendaraan di luar mulai memudar berganti sunyi. Seakan kebisingan dan kesunyian hanya dimarkahi pagar.

Sebelum memasuki ruang utama, masih di teras depan, langkah kakinya terhenti, melempar pandang menerawang sekilas, lalu mulai bercerita tentang kenangannya bersama gedung nan kini menjadi tempat peraduannya sehari-hari. “Sayang kamu belom ada di masa itu, jadi enggak sempat tahu gimana gilanya tempat ini,” katanya menggoda, lalu melanjutkan langkah memasuki ruang utama.

Ruang utama Tanamur masih sama seperti masa jayanya. Gelap menyaru temaram di beberapa sudut. Dinding ruangan pun juga serupa konsep artistik tata ruang kala lalu, ‘seperti bangunan belum jadi’. Sekilas tampak sama, tapi bedanya tak ada lagi dentuman keras musik funk, swing, jazz, rock, dan pop menghentak.

Nihil pengunjung nan berajojing ria sembari bernyanyi keras, menggila, di bawah siraman lampu gemerlapan. Juga absen denting suara gelas minuman berisi Whiskey, Vodka, Tequila, beradu menyusul kemudian teriakan “Cheers!”.

“Semua tinggal kenangan,” jawab Vincent singkat. Ruang utama kini tinggal puing berteman debu tebal. Terbunuh sepi. Di antara sisa pondasi-pondasi bekas panggung, pembatas ruangan, dan tempat bar, pernah terselip cerita para pendiri melambungkan harap setinggi langit kepada Tanamur.

Harapan itu kerap menjadi bahan bakar Ahmad Fahmi Alhady kepada sang sekretaris Merry Angkoso saat merancang acara di Tanamur selama setahun penuh. “Dia ingin Tanamur menjadi pionir diskotek pertama, untuk semua kalangan tanpa terkecuali,” kata Merry menirukan harapan Fahmi.

Fahmi memang bukan pemilik tunggal Tanamur. Masih ada dua nama masih terhitung saudaranya, Anis dan Kadim, tercatat sebagai pemegang saham mayoritas. Anis merupakan pemilik rumah nan kemudian berubah menjadi diskotek Tanamur. Sementara, Kadim mengurus keuangan Tanamur. Khusus mengurus konsep dan pelaksanaan merupakan otoritas Fahmi. “Ide bikin diskotek emang muncul dari Pak Fahmi sendiri, saat sekolah di Jerman,” kata Merry.

Dia sempat dikirim ayahnya ke Jerman untuk menempuh studi Tehnik Industri agar mahir meneruskan bisnis tekstil keluarganya. Ayahnya, Zein Alhady, salah satu saudagar besar tekstil dan batik di pasar Tanah Abang. Lain kemauan sang ayah, lain kehendak Fahmi. Dia justru menekuni dunia baru nan sangat melenceng jauh dengan dunia pertekstilan.

Selama di Jerman, Fahmi tinggal di sebuah apartemen. Saat melintasi lobi, telinganya sering mendengar suara keras hentakan musik. Penasaran, Fahmi pun memberanikan diri berkunjung di saat luang kesibukan kuliah. Dia terkagum melihat kemeriahan musik disko dan merasa tak ada hiburan semacam ini di Indonesia.

Ide membuat diskotek pun muncul. Saat kembali ke tanah air, Fahmi lantas mengekplorasi, mengajak berbagai pihak terutama saudara dan teman-teman, untuk merealisasikan idenya.

Bermodal uang sebesar Rp 25.000.000 (25 juta rupiah), Fahmi melenggang mendirikan tempat hiburan baru di atas rumah tua milik saudaranya. Setelah semua rampung, tepat pada 12 Desember 1970, Tanamur resmi dibuka untuk semua pengujung hiburan malam.

“Tiap peringatan ulang tahun Tanamur, biasanya kami membuat acara seru. Pernah menutup sepanjang jalan untuk pesta besar. Juga kadang kami menggratiskan minum untuk para tamu setelah jam 12.00 malam berlalu. Pokoknya selalu meriah,” kenang Merry berapi-api.

Tak cuma pada peringatan ulang tahun dan hari besar, setiap hari pun terutama akhir pekan, pesta dansa dan ajojing ria selalu meriah dan penuh sesak di Tanamur. Muda-mudi dan tetamu warga negara asing sedang terjangkit musik Disko.

Sejarawan Rushdy Hoesein sempat canggung ketika berkunjung ke Tanamur pada tahun 1971. Dia menatap kepadatan orang di dalam ruang beratap rendah dengan kepulan asap rokok begitu tebal. Para tetamu, kebanyakan orang asing, menari ‘kesetanan’ meningkahi hentakan musik Disko.

“Saya asing dengan musiknya. Tapi beberapa lagu macam The Beatles masih bisa dinikmatin biarpun musiknya agak beda,” kenangnya. Para pengunjung berkala di Tanamur sebagian besar memang para warga negara asing. Kemunculan Tanamur kebetulan seperti mendapat restu zaman. Pemerintah Orde Baru begitu ramah dengan perkembangan budaya kontemporer Barat.

Selain sejalan dengan kebijakan pemerintah, mencuatnya oil boom juga memainkan peran besar menyemarakkan kehangatan lantai dansa Tanamur. Sejak tahun 1967 hingga 1970, penanaman modal asing di bidang minyak bumi terutama eksplorasi semakin meningkat mencapai angka USD 70.000.000. Produksi minyak pun melonjak.

Pemerintah Orde Baru di bawah pimpinan Presiden Soeharto, seturut Richard Robinson pada Indonesia: The Rise of Capital, menerapkan kebijakan ekonomi pintu terbuka bagi pengusaha asing untuk menanamkan modal di Indonesia. Jumlah para investor asal Amerika melesat saat terjadi oil boom. Mereka pun mulai membuka kantor-kantor dan biro perusahaan di Ibu Kota Jakarta.

Kehadiran lonjakan pekerja asing memicu kebutuhan akan tempat hiburan pelepas penat di Ibu Kota. Mereka mendamba tempat hiburan yang sedang hits di tempat asalnya. Diskotek. Sasaran mereka berajojing ria satu-satunya, Tanamur. “Sekitar 75 persen pengujung Tanamur itu orang asing dari berbagai negara,” imbuh Merry.

Pengunjung bule sangat cepat beradaptasi dengan crowd. Mereka bisa betul-betul menggila, membuka baju selagi berajojing, bernyanyi keras, bahkan melompat ke tengah lantai dansa saat suasana mulai semarak. “Pernah kami membuat Beach Party. Orang-orang asing begitu maksimal datang memakai bikini dan celana pendek, kayak orang mau ke pantai,” ungkap Merry.

Selain pengujung orang-orang asing, tetamu muda-mudi Ibu Kota pun tak kalah meriah memadati Tanamur. Mereka bisa saling membaru tanpa batasan ras, suku, kepercayaan, negara, maupun agama.

Semua tumpek blek jadi satu dengan tujuan ajojing bersama. Keinginan mereka berdisko semakin kuat juga lantaran dipelopori aksi-aksi eksentrik John Travolta pada film Saturday Night Fever.

Film besutan John Badham berhasil menampilkan ‘demam’ disko sesungguhnya dengan Tony Manero diperankan John Travolta sebagai raja disko. Demam disko kontan melanda berbagai kota-kota besar termasuk Jakarta.

Para pemuda ingin tampil bak Tony Manero, sementara pemudi mau serupan Anette, menjadi raja dan ratu disko. Para pedisko di Tanamur pun tersengat demam Saturday Night Fever. Mereka selalu update, baik tontonan maupun hiburan.

Pengujung Tanamur pada masa oil boom hingga melesatnya pamor Saturday Night Fever menampakan grafik kenaikan secara signifikan. Dari jumlah sekira 300 hingga 500-an lalu melonjak sampai terhitung ribuan penggila disko.

DJ Vincet muncul saat demam disko sedang panas-panasnya. Dia sampai harus membuka kancing baju atau menggunakan kaos tipis saat tampil di akhir pekan lantaran begitu padat. Meski musik-musik di tangga lagu urutan teratas sedang digandrungi, setlist-nya tak pernah terganggu.

Dia pantang selalu mengikuti arus memainkan lagu-lagu kondang. “Saya mixing sendiri lagu bahkan enggak disko banget, menjadi enak untuk bergoyang. Misalnya, intro saya buat berbeda tapi tiba-tiba masuk lagu I Can`t Get No punya The Rolling Stone,” ungkap Om Vincent.

Segala jenis lagu dimainkan. Rumusan Vincet paling penting soal lagu, bisa enak buat ajojing. Dia tak pernah asal bermain. Menata setlist harus sama baiknya dengan memixing lagu. “Psikologis pengunjung juga perlu dipelajari. Jangan sampai jadi asyik sendiri,” imbuh Vincent. Lagu-lagu di Tanamur selalu update.

Hubungan para DJ Tanamur dengan pengunjung pun terjalin erat. Mereka terkadang sering bertemu di luar. Entah untuk sekadar berbincang soal musik, dunia perdiskoan, hal remeh-temeh, hingga jalinan asmara. “Enggak kehitung. Tapi saya pernah kencan dengan gadis dari berbagai negara,” jawab Vincent sembari tertawa lepas.

Pernah suatu ketika seorang perempuan asal Rusia menelepon langsung Tanamur. “Vincent sedang main?” tanya perempuan itu tiru Vincent. Dia meminta agar telepon jangan ditutup karena ingin mendengar langsung tembang kesukaannya dimainkan. “Dia hafal susunan lagu saya, dan rindu suasana Tanamur. Maka, dia telepon tepat pas lagu kesenangannya saya mainkan,” kenang DJ Vincent.

Tanamur memang enggan ketinggalan zaman. Fahmi, sang pemilik, sangat mengerti perkembangan musik dan selera artistik. Dia selalu mewanti-wanti para karyawan termasuk para DJ untuk terus memperbaharui permainan piringan hitam juga perkembangan musik.

“Biasanya di tangga laga musik belum ada, kita udah punya piringan hitamnya,” kenang DJ Ian Hamnur yang mulai bermain di Tanamur pada dekade 80-an akhir. DJ Ian selalu berbincang bersama soal pilah-pilih lagu. Mereka selalu mendapat info terbaru dari penjual piringan hitam di luar negeri. Tak heran bila jumlah piringan hitam Tanamur begitu banyak. “Ribuan jumlahnya,” kata Ian.

Tanamur kala itu bukan tanpa pesaing. Di tahun 1970-an muncul pula dua diskotek lain. Guwarama di dalam Hotel Indonesia dan Minidisco di Gondangdia. Ketiga diskotek itu, masing-masing memiliki karakteristik.

Tanamur sangat kental sebagai diskotek bagi semua kalangan. “Mulai orang berjas sampai datang dengan celanaan pendek dan sendal jepit,” kenang Ian Hamnur. Semua pengujung sama. Tak dibeda-bedakan. Mau pejabat, artis, pengusaha, orang asing, kaum kere, pokoknya diperlakukan sama. Tempat khusus pun tak ada. “Semua orang bisa duduk di mana saja. Intinya, siapa lebih cepat,” tandasnya.

Konsep semua diperlakukan sama, bukan omong kosong. DJ Vincent ingat betul betapa artis, pesohor, dan olahragawan ternama asal luar negeri berbaur dan tak diistimewakan. “Muhammad Ali pernah, Chuck Norris, Ruud Gulit, dan masih banyak lagi. Mereka diannuonce pun enggak. Biasa saja,” kata Vincent.

Sementara, Guwarama tampil lebih eksklusif dengan meja-meja harus dipesan khusus untuk bisa bersantai. Para muda-mudi berkocek cukup tebal bisa berdansa-dansi dengan lagu-lagu hits pada masanya.

Di lain sisi, Minidisco kebalikan Guwarama. Diskotek di daerah Gondangdia tersebut berkonsep diskotek rumah. Dari luar, sekilas, gedung Minidisco serupa rumah makan padang. Pengunjung memang bisa lebih cair lantaran konsep rumah dan saling mengenal.

“Tapi memang beda. Saya dulu tuh sering juga ke beberapa diskotek di Jakarta, tapi enggak pernah dapat suasana se-enjoy Tanamur,” ungkap Elly, salah seorang pengunjung berkala di Tanamur.

Di mata Elly, Tanamur sangat istimewa karena konsep acaranya anti-mainstream. Tanamur selalu bikin pesta dengan tema, seperti pesta pantai, pesta kostum, dan juga ada acara khusus pada momen istimewa seperti Valentine, Halloween, Ulang Tahun Jakarta, Saint Patrick, dan Bastille Day.

Elly mengaku serasa harinya kurang sempurna bila tak mengujungi Tanamur. Dalam seminggu dia bisa beberapa kali datang ke sini. “Saya dulu sampai dorong mobil pas mau disko ke Tanamur. Mobil mogok di tengah jalan. Itu demi mau ke Tanamur,” selorohnya.

Tanamur memang menjadi sorotan bagi penggila disko di ibu kota. Tiap malam selalu penuh sesak. Mereka menggila bersama di bawah siraman cahaya. “Biasanya agak sepi itu malam Selasa,” ingat Merry. Tapi sesepi Tanamur, parkir kendaraan sampai harus meminjam lahan orang, bahkan para tamu bisa parkir di Rumah Sakit Budi Kemuliaan.

Masifnya jumlah pengunjung dapat dilihat dari besarnya pendapatan Tanamur. Merry mengaku saat penuh pengujung, Tanamur dalam semalam mampu mengantongi pendapatan sebanyak Rp 80 juta. Sementara, saat sepi paling banter Rp 10 juta. “Itu jumlah di tahun 90-an, loh,” katanya disambi tawa.

Tiket sekali masuk berkisar antara Rp 10 ribu dan Rp 20 ribu. Pengujung bisa mendapat satu gelas minuman gratis dari penukaran tiket. Keuntungan bukan semata melimpah untuk Tanamur. Di luar gedung, para warga juga beroleh berkah dari jasa parkir. Sekali parkir, satu mobil bisa dihargai Rp 5.000. Tamu para pesohor dan para pejabat tak mungkin mengasih harga pas. Pasti lebih.

Tapi, nemasuki tahun 2000-an Tanamur mulai ditinggalkan tamu setianya. Pemicunya krisis moneter di tahun 1997 dan kerusuhan 1998. Omzet tentu saja merosot tajam. Tanamur berjalan terseok-seok. Bom Bali pun turut membebani langkah berat Tanamur menghidupi diri. Pada tahun 2002, gemerlap lampu disko Tanamur benar-benar padam selamanya.

Meski tutup, DJ Vincent tetap setia menunggu bangunan tempat dia dibesarkan sebagai DJ. Saat Tanamur berjaya hingga surut, berkali-kali tawaran dari diskotek lain masuk. Termasuk ajakan bermain berkala di berbagai diskotek luar negeri, mulai Australia, Singapura, Eropa, Belanda, Belgia. “Tapi saya tolak semua. Saya nge-DJ bukan hanya mencari uang, tapi juga lebih kepuasan hati dan atmosfer, seperti yang saya dapatkan di Tanamur,” katanya keras.

Vincent pun setia pada Tanamur bahkan menua bersama di antara gedung-gedung pencakar langit di ring satu pusat pemerintahan. “Tanamur telah menjadi bagian dari sejarah dan perjalanan hidup. Kami tidak akan melupakan Tanamur,” tutup Vincent.

Source https://merahputih.com https://merahputih.com/post/read/menelusur-kenangan-diskotek-tanamur
Comments
Loading...