Menara Osing Banyuwangi

0 255

Menara Osing

Memasuki Banyuwangi lewat jalur utara pasti pernah melihat bangunan menara dengan pucuk bertuliskan Osing. Membangun sebuah infrastruktur, bangunan, bahkan kota perlu perawatan, agar bisa tumbuh berkembang dengan baik. Umurnya pun akan panjang jika dirawat dengan benar. Tak sedikit, bangunan-bangunan ditinggalkan terbengkalai tak terawat.

Tidak ada orang yang mau tinggal atau menetap di tempat itu. Bangunan itu menjadi mati, sepi, kotor, dan tak jarang menimbulkan nuansa mistis. Biaya mahal pun jadi mubazir jika tempat yang dibangun itu hanya menjadi teronggok tak berguna.

Terletak di bawah bukit yang hampir berbatasan dengan hutan, bangunan berwarna merah tersebut berdiri tegak di atas lahan seluas 4.200 meter persegi. Menara Osing itulah sebutan bagi bangunan dengan tinggi 20 meter tersebut. Menara yang berada di Dusun Selogiri, RT02, RW05, Desa Ketapang itu berdiri sejak tahun 2000.

Tahun 1989 sebelum dibangun Menara Osing, lahan tersebut merupakan pabrik pupuk organik, yang memanfaatkan kotoran kelelawar sebagai pupuk alami. Namun, karena bangkrut akhirnya pabrik ditutup dan tidak ada lagi aktivitas di lahan tersebut.

Melihat lahan yang mangkrak, tahun 2000 sang pemilik yang berasal dari Surabaya berinisiatif membangun menara untuk sarang bagi burung walet. Karena melihat potensi burung walet yang mendominasi di wilayah tersebut.

Ahmad Zaini, 45, warga Dusun Selogiri, Desa Ketapang mengatakan, usai dibangun dan berdiri kukuh dengan ketinggian 20 meter, sang pemilik punya ide dengan meletakkan tepat di atas menara tulisan ”Osing”.

”Bangunan tersebut selesai selama dua tahun dan menghabiskan biaya Rp 200 juta pada tahun itu. Dulu pabrik pupuk ramai dan produknya dikirim ke Japan. Tapi karena kualitasnya kurang bagus, akhirnya lama-lama bangkrut dan tutup serta banyak pekerja yang diberhentikan,” jelas Ahmad.

Anehnya, kesalahan fatal dilakukan oleh sang pemilik. Bangunan tersebut diberi cat warna merah. Karena burung walet takut dengan warna yang cerah akhirnya tidak ada satu ekor pun yang masuk dan membuat sarang di bangunan setinggi 20 meter itu. Bangunan tersebut akhirnya dibiarkan begitu saja setelah satu tahun didirikan.

Sejak saat itu, bangunan menjadi mangkrak dan tidak terurus lagi. Lahan sekitar bangunan juga terbengkalai dan ditumbuhi oleh banyak semak belukar. ”Pemilik lahan tidak pernah menyambangi tempat tersebut dan dibiarkan begitu saja. Orang-orang juga jarang yang masuk ke dalam menara karena dirasa angker dan lama tidak ada aktivitas,” ungkap Ahmad.

Source https://radarbanyuwangi.jawapos.com https://radarbanyuwangi.jawapos.com/read/2018/02/08/47476/lama-mangkrak-jadi-spot-swafoto-dan-pre-wedding
Comments
Loading...