Masjid Tua Al-Mujahidin Aruhu Sinjai Sulawesi Selatan

0 175

Lokasi Masjid Tua Al-Mujahidin Aruhu Sinjai

Masjid Tua Al-Mujahidin Aruhu Sinjai terletak di Bulu Lohe Kecamatan Bulupo’do Kabupaten Sinjai, Sulawesi Selatan.

Masjid Tua Al-Mujahidin Aruhu Sinjai

Sekilas masjid ini tampak sederhana, namun keberadaannya memendam sejarah penting masuknya Islam di Kerajaan Lamatti. Bahkan, jamaah masjid ini menyebut Al-Mujahidin sebagai masjid tertua di Kabupaten Sinjai.

Masjid Al-Mujahidin dibangun tahun 1613 M oleh Raja Lamatti VIII, Watesuro Ina Muttamaengngi Saddah Tanah. Konon, Watesuro diislamkan oleh Datuk ri Tiro, sosok penyebar agama Islam yang dikenal gigih berdakwah di Tanah Bugis, termasuk di wilayah Kabupaten Sinjai pada abad ke 17.

Masjid yang semula bernama masjid Bulu Lohe Aruhu ini, dipugar pertama kali oleh Raja Lamatti XXXVI, Andi Makkuraga Daeng Pagau Matinroe Ri Masiginna. Andi Makkuraga lahir tahun 1809, dan saat wafat pada tahun 1919, ia dimakamkan di dalam area masjid dan hingga kini makam tersebut menjadi bagian peninggalan sejarah di lokasi masjid Al-Mujahidin.

Selain menjadi sentra kegiatan dan penyiaran agama Islam di Kerajaan Lamatti, pada tahun 1817 M, masjid Al-Mujahidin juga digunakan sebagai pusat perlawanan terhadap penjajah Belanda. “Dulu ini satu-satunya masjid di sini, jadi orang-orang dari Tompo Bulu di sini semua sembahyang Jum’at, kalau hari Kamis datangmi ke sini bermalam, orang-orang dari Bone juga di seberang datang ke sini sembahyang Jum’at, desa ini kan berbatasan dengan Bone hanya dibatasi sungai Tangka,” kata Ado, imam Masjid Al-Mujahidin.

Sejak awal berdirinya, masjid Al-Mujahidin dibangun dengan arsitektur sederhana. Tak heran, bila masjid ini jauh dari kesan megah, sebagaimana masjid raya di kota-kota besar di Indonesia.

Hingga kini, tiang penyangga masjid pun masih terbuat dari kayu. Sebelum dipugar, dinding masjid ini bahkan menggunakan bambu, berlantai tanah dan atapnya rumbia. Saat dipugar oleh Raja Lamatti XXXVI Andi Makkuraga, lantai masjid Al-Mujahidin sempat diganti batu kerikil yang konon perekatnya memakai cairan putih telur.

Pemugaran berikutnya, dilakukan pada tahun 1805. Saat itu, makam Andi Makkuraga dan keluarganya dikeluarkan dari induk bangunan masjid, atau ditempatkan pada posisi teras di sebelah kiri depan area utama masjid.

Berdasarkan sejarahnya, masjid Al-Mujahidin juga pernah memiliki koleksi Al Qur’an raksasa dan tasbih sepanjang kurang lebih 3 meter. Meski sudah beberapa kali dipugar, namun arsitektur masjid Al-Mujahidin masih memiliki kesamaan dengan masjid tua lainnya di tanah air, seperti atapnya yang bertingkat empat dengan kuncup dipasangi keramik.

“Bilal itu dulu ada di sini, kalau khatib mau naik di mimbar, bilal berdiri dulu, memberikan himbauan kepada jamaah, menyampaikan narekko elonni dibaca khatobbae fada mammekkonni, nakarana ko engka puada ada ada to lino deggaga ammala sokku naruntu, artinya tidak sempurna amalannya kalau ada jamaah yang berbicara saat khatib membaca khutbah,” ujar Ado.

Rehabilitasi terakhir masjid Al-Mujahidin dilakukan oleh Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan tahun 1992 silam. Meski begitu, bentuk asli dan arsitektur sederhana masjid ini tidak dihilangkan, justru kian kokoh berdiri di tengah kawasan pemukiman Aruhu dan menjadi bukti sejarah penyebaran agama Islam di wilayah Kabupaten Sinjai.

Source http://chalimustang.blogspot.co.id/ http://chalimustang.blogspot.co.id/2014/07/masjid-tua-al-mujahidin-aruhu-sinjai.html
Comments
Loading...