Masjid Tiban Dalam Tanah Mojokerto

0 442

Lokasi Masjid Tiban Dalam Tanah

Masjid Tiban Dalam Tanah terletak di Desa Pekukuhan, Mojosari, Mojokerto, Jawa Timur.

Masjid Tiban Dalam Tanah

Banyak tamu pengunjung bersilahturahmi dan beramahtamah dengan Kiai Abdul Malik, selaku pemilik pondok pesanten Mayangkoro, para tamu itu kemudian diajak masuk ke dalam ruangan dalam tanah yang biasa disebut orangorang dengan masjid di dalam tanah yang lokasinya persis di bawah rumah Kiai Abdul Malik.

Usai berwudhu, satu persatu para pengunjung itu memasuki masjid terpendam itu. Di dalam masjid itu suasana cukup gelap. Tak ada penerangan dari lampu listrik atau cahaya yang masuk dari luar sedikit pun. Dua buah lampu senter yang dibawa seorang santri Kiai Abdul Malik dan seo­rang pengunjung tak juga bisa membuat suasana di dalam ruangan itu bisa terlihat dengan sejelas-jelasnya Masjid di dalam tanah itu memiliki beberapa ruangan. Ada ruang utama sebagai tempat sholat, ruang semedi, serta ruangan yang biasa digunakan untuk gemblengan yang dilakukan Kiai Abdul Malik terhadap para pengikutnya. Selain ruangan-ruangan itu, di dalam masjid di dalam itu juga terdapat dua buah sendang atau mata air yang diper- caya airnya mengandung keistimewaan.

Karena dianggap istimewa, tidak sedikit dari pengunjung yang kemudian membawa pulang air atau bahkan mandi di air sendang itu. Kepercayaan lain, melakukan doa atau bernadzar di dalam masjid itu juga katanya mudah dikabulkan oleh Allah SWT. Tentang hal ini, Kiai Abdul Malik hanya mengatakan bahwa itu tetap saja tergantung manusianya yang berdoa atau meminta sesuatu. Jika memang niat tulus, pasti keinginannya itu akan terkabulkan.

“Di samping itu, karena berada di dalam tanah dan tempatnya sangat tenang, tentu orang akan mudah berkonsentrasi untuk melakukan doa atau permohonan kepada Allah SWT. Mungkin karena itulah maka banyak keinginan para pendatang yang dikabulkan usai berdoa di masjid ini,” ujar Kiai Nyeleneh yang selalu mengenakan udeng ini. Selain suka mengenakan udeng, Kiai Malik juga suka mengunakan training atau baju-baju lain yang sederhana.

Dari mulai berdiri hingga sekarang ini, Padepokan Mayangkoro tak pernah banyak memiliki santri. Paling banter katanya cuma sampai 10 orang. Sekarang ini, bahkan hanya seorang santri yang memilih nyantri di tempat ini. Namun, meski begitu, santri yang berasal dari sekitar lingkungan cukup banyak dan mereka tidak tinggal dalam padepokan. Jika sudah berkumpul dalam acara khusus, misalnya, santri-santri yang dulu pernah mon- dok di tempat ini juga tak ketinggalan untuk datang lagi.

Memasuki masjid yang berada di dalam tanah ini, jika tidak hafal betul lokasi di dalamnya, niscaya ia akan tersesat dan tidak bisa keluar lagi. Sebab, selain tempatnya yang gelap gulita, di dalam masjid ini juga banyak terdapat lorong-lorong yang sangat membinggungkan dan terkadang hanya bisa dilewati dengan membungkukkan badan agar kepala tidak membentur dinding ruangan di dalam masjid tersebut.

Selain bertujuan untuk membangun tempat ibadah yang nyaman dan agar jauh dari kebisingan dunia luar, pembangunan masjid ini menurut Kiai Malik juga bertujuan mengingatkan manusia tentang hari kematian. Dengan memasuki masjid ini, orang diharapkan akan berpikir tentang hari kematian dengan mengatakan dalam hatinya bagaimana seandainya dirinya terkubur dalam tanah suatu hari nanti. Karena pesan kematian itulah Kiai Malik berharap orang akan semakin mempertebal rasa keimanannya terhadap Allah SWT.

Meski tidak mengunakan penyangga beton untuk menopang bangunan yang berada di atasnya, namun masjid ini nyatanya cukup kuat dan terbebas dari longsor atau ambles. Tentang hal itu, Kiai Malik mengatakan bahwa itu merupakan hidayah dari Allah SWT. Jika Allah SWT berkehendak, katanya apa saja bisa dik­abulkan meski hal itu sungguh-sungguh tidak masuk akal.

Source http://jawatimuran.net/ http://jawatimuran.net/2016/10/02/masjid-tiban-dalam-tanah-kabupaten-mojokerto-2-2/
Comments
Loading...