Masjid Sunan Muria Kudus

0 19

Masjid Sunan Muria Kudus

Di sebelah utara kota Kudus, sekitar 18 km, terdapat sebuah desa bernama Colo, masuk dalam wilayah Kecamatan Gawe, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah. Desa kecil itu menjadi terkenal karena di situ berkubur seorang waliyuilah yang masuk dalam barisan Wali Songo, dengan gelar Sunan Muria. Namanya yang asli adalah Raden Umar Said.

Ia mendapat gelar Sunan Muria oleh karena tempat ia berdakwah menyiarkan agama Islam terletak di kaki Gunung Muria. Bahkan dalam perkembangan selanjutnya, ia membangun pesantren dan masjidnya di puncak gunung tersebut, persis di belakang masjid yang dibangunnya sendiri.

Masjid itu telah dipugar sehingga hilang keasliannya, kecuali hanya beberapa bagian saja yang masih asli. Itu pun tidak luput dari pemugaran. Saat ini masjid itu dibagi dua, yaitu masjid yang khusus untuk kaum pria, di dalamny a kita masih bisa beberapa peninggalan asli Sunan Muria, seperti mihrab (tempat imam), umpak batu (tempat penyangga tiang masjid) sebanyak empat buah yang dibawa dari Pulau Bali, dan sebuah gayor (beduk). Sedangkan, masjid yang khusus untuk wanita adalah tambahan baru hasil renovasi tahun 1976 yang peresmiannya dilakukan oleh Bupati KDH Tingkat II Kudus pada tahun 1978.

Untuk mencapai masjid dan makam Sunan Muria yang terletak di puncak Gunung Muria dengan ketinggian sekitar 1.600 meter lebih, kita harus berjalan jalan kaki lewat jalan setapak yang mendaki sejauh 1600 meter. Tetapi, jika Anda tidak sanggup jalan kaki, tersedia ojek sepeda motor dengan tarif Rp2.000 sekali jalan.

Cukup mahal memang. Tetapi, itu beralasan karena jika menumpang ojek sepeda motor, Anda akan melewati jalan tikus yang curam dengan tikungan-tikungan yang tajam dan berbahaya. Oleh karenanya, tidak ada kendaraan lain yang bisa melewati itu kecuali ojek sepeda motor. Alternatif lain selain menumpang ojek sepeda motor, ya, jalan kaki itu tadi.

Mengapa bukit atau gunung itu dinamakan Muria? Menurut hipotesa Solihin Salam dalam bukunya, Kudus Purbakala dalam Perjoangan Islam, terbitan Menara Kudus, berpendapat bahwa nama Muria itu diidentifikasikan dengan nama sebuah bukit di dekat Yerusalem, Palestina. Bukit itu bernama Gunung Moriah. Konon, Nabi Daud dan putranya, Nabi Sulaiman, membangun sebuah kenisah (semacam rumah ibadah) di puncak Gunung Moriah.

Jika nama kota Kudus diilhami oleh berdirinya Masjid al-Aqsha yang lebih populer dengan sebutan Masjid Menara Kudus (berasal dari kata al-Quds) maka nama Muria mengingatkan kita pada nama sebuah bukit di dekat kota Baitul Maqdis atau Yerusalem Darussalam.

Saat ini, daerah Colo dijadikan obyek pariwisata oleh pemerintah Kudus. Di sana telah berdiri banyak vila. Juga terdapat air terjun yang disebut Curug Monthel. Jika pada hari Minggu banyak orang berekreasi ke sana. Terutama pada Kamis Legi dan Jumat Pahing, banyak orang berziarah ke makam Sunan Muria.

Kalau Anda memasuki pintu gerbang makam, tampak di hadapan Anda pelataran yang dipenuhi 17 batu nisan. Menurut juru kunci makam, itu adalah makamnya para prajurit dan punggawa (orang terdekat keraton).

Di batas utara pelataran ini berdiri bangunan cungkup makam beratap sirap dua tingkat. Di dalamnya terdapat makam Sunan Muria. Di samping sebelah timur terdapat sebuah nisan yang konon diyakini sebagai makamnya putri Sunan Muria yang bernama Raden Ayu Nasiki. Tepat di sebelah barat dinding belakang Masjid Muria (sebelah selatan mihrab) terdapat makam Panembahan Pengulu Jogodipo. Konon, ia adalah putra sulung Sunan Muria.

Source http://duniamasjid.islamic-center.or.id http://duniamasjid.islamic-center.or.id/1313/masjid-sunan-muria-kudus/
Comments
Loading...