Masjid Raya Lubukpakam, Masjid Khas Melayu Berusia Ratusan Tahun

0 12

Masjid Raya Lubukpakam, Masjid Khas Melayu Berusia Ratusan Tahun

Berusia lebih dari seratus tahun, masjid Raya Lubukpakam hingga kini masih berdiri dengan kokoh. Lokasinya berada di Pasar II Jln Tengku Raja Muda Lubukpakam Kabupaten Deliserdang. Meski di Kota Lubukpakam banyak masjid yang lebih megah dibangun namun masjid ini punya cerita tersendiri ketika pembangunannya dilakukan tahun 1893. Pendirinya adalah Tengku Amir Mustafa yang mendapat gelar Raja Muda Serdang.

Meski sudah beberapa kali dilakukan renovasi namun ciri dan khas melayu pada bangunan masjid masih melekat. Pada bagian luar bangunan masjid lebih dominan bewarna kuning. Sementara itu pada bagian pintu, jendela dan beberapa bagian lainnya dicat dengan warna hijau. Sebagai lambang kesucian pada bagian dalam masjid dinding pun dicat dengan warna putih. Tulisan kaligrafi yang tertulis di bagian dinding dalam masjid membuat rumah ibadah ini terasa semakin indah.

Di dalam masjid ini juga terdapat empat tiang yang menjulang. Tiang tiang ini pun tampak bercat hijau muda sehingga menambah kenyamanan ketika orang berada di dalamnya. Satu hal yang juga tidak kalah menarik dari masjid ini adalah banyaknya jendela yang terpasang. Selain di bagian bawah, jendela kayu khas buatan melayu juga tampak mengelilingi bangunan masjid.

Satu diantara warga yang masih mengetahui sejarah berdirinya masjid ini adalah Ir H Tengku Mustafa yang rumahnya tidak jauh dari bangunan masjid. Ia menceritakan bangunan masjid berdiri tidak terlepas karena kejadian banjir tahun 1889 yang terjadi di pusat kerajaan serdang yang berada di Kampung Besar Desa Rantau Panjang Kecamatan Pantai Labu. Saat itu Sultan Sulaiman pindah ke kawasan Perbaungan Kabupaten Serdangbedagai dan mendirikan Istana Darul Arif di Desa Kota Galuh. Disebut Sultan Sulaiman merupakan keponakan dari Tengku Raja Muda.

“ Tengku Raja Muda ini punya anak namanya Tengku Muhammad Noer yang merupakan kakek saya. Jadi saat berada di Perbaungan itu Tengku Raja Muda itu diperintahkan oleh Sultan Sulaiman untuk tinggal di Lubukpakam. Karena saat itu Belanda juga pindah dari Kampung Besar ke Lubukpakam setelah banjir. Sultan Sulaiman tidak mau tinggal di Lubukpakam karena Belanda di Lubukpakam makanya kemudian disuruhnya Tengku Raja Muda tinggal di Lubukpakam, “ujar Tengku Mustafa.

Untuk saat itu, lanjut Mustafa, Tengku Raja Muda tinggal hanya sekitar 50 meter dari masjid raya ini dan sekarang sudah berdiri panti asuhan. Disebut masjid ini dari awal mula dibangun tidak pernah berubah lebar dan panjangnya. Meski demikian Mustafa menyebut saat ini bagian atasnya sudah dinaikkan dan semakin meninggi.

“Kalau renovasi sudah gak terhitunglah. Masjid ini memang sudah diserahkan ke masyarakat dari dulu. Jadi berbeda sama masjid peninggalan yang lain kalau mau renovasi mesti izin dulu sama pemegang kesultanan sekarang. Kalau dulu lantainya semen dan sekarang sudah keramik. Warna kuning khas melayu itu bisa diartikan kesetian terhadap raja. Kalau hijau itukan lambang islam. Masjid raya ini sekarang bukan masjid ke Sultanan karena memang sudah dihibahkan ke masyarakat oleh Tengku Raja Muda,”kata Mustafa.

Source http://medan.tribunnews.com http://medan.tribunnews.com/2017/06/21/masjid-raya-lubukpakam-masjid-khas-melayu-berusia-ratusan-tahun
Comments
Loading...