Masjid Raya Ganting Kota Padang

0 132

Lokasi Masjid Raya Ganting Kota Padang

Masjid Raya Ganting Kota Padang terletak di Jalan Ganting No 16, Depan Masjid Raya Ganting, Kelurahan Parak Gadang,, Kecamatan Padang Timur, Ganting Parak Gadang, Padang Tim., Padang Sumatera Barat, Sumatera Barat 25132.

Masjid Raya Ganting Kota Padang

Mulai dibangun pada tahun 1805, masjid ini tercatat sebagai masjid tertua di Padang dan salah satu yang tertua di Indonesia serta telah menjadi cagar budaya. Masjid yang pembangunannya melibatkan beragam bangsa ini menjadi pusat pergerakan reformasi Islam di daerah tersebut pada abad ke-19, dan presiden pertama Indonesia, Soekarno, pernah mengungsi ke masjid ini pada masa perjuangan kemerdekaan.

Masjid Raya Ganting ini termasuk bangunan yang tetap utuh setelah gelombang tsunami menerjang kota Padang dan sekitarnya akibat gempa bumi tahun 1833, walaupun mengalami kerusakan cukup berarti akibat gempa tahun 2005 dan 2009. Saat ini, selain digunakan sebagai aktivitas ibadah umat Islam, masjid satu lantai ini juga digunakan sebagai sarana pendidikan agama dan pesantren kilat bagi pelajar serta menjadi salah satu daya tarik wisata di kota Padang.

Terlepas dari perbedaan-perbedaan mengenai tahun mulai berdirinya masjid ini, dari sejumlah catatan diketahui bahwa pembangunan masjid di pusat Minangkabau di Padang abad ke-18 dan ke-19 ini diprakarsai oleh tiga tokoh masyarakat setempat, yaitu Angku Gapuak (saudagar), Angku Syekh Haji Uma (kepala kampung Ganting), dan Angku Syekh Kapalo Koto (ulama), sementara biayanya banyak diperoleh dari para saudagar dan ulama Minangkabau di sejumlah tempat di Sumatera. Masjid ini juga tercatat sebagai salah satu bangunan yang tetap utuh dari terjangan gelombang tsunami yang merambah sebagian besar Padang akibat gempa bumi Sumatera pada tahun 1833, hanya saja lantai batunya kemudian diganti dengan lantai campuran kapur kulit kerang dan batu apung Pada tahun 1910, Belanda mendirikan pabrik semen di Indarung, Padang.

Untuk mentranspor semen ke Pelabuhan Teluk Bayur, Belanda membuka jalan batu melewati tanah Masjid Raya Ganting. Hampir sepertiga dari luas tanah wakaf untuk masjid ini digunakan untuk jalan. Sebagai kompensasi atas tanah tersebut, Belanda membantu mengembangkan masjid ini melalui Komandan Korps Genie wilayah Pesisir Barat Sumatera (wilayah yang meliputi Sumatera Barat dan Tapanuli sekarang). Pengembangan yang dilakukan termasuk perpanjangan bilik muka sepanjang 20 meter dan pembuatan bagian depan (fasad) masjid bergaya Portugis.

Selain itu, lantai masjid diganti dengan semen yang didatangkan dari Jerman. Pada tahun 1900, dimulailah pemasangan tegel dari Belanda yang dipesan melalui NV Jacobson van den Berg.Pemasangan tegel tersebut ditangani oleh tukang yang ditunjuk langsung oleh pabrik dan selesai pada tahun 1910. Sementara itu, etnis Cina di bawah komando Kapten Lo Chian Ko ikut mengerahkan tukang-tukang Cina untuk mengerjakan kubah yang dibuat persegi delapan mirip atap vihara. Begitu juga, pada mihrab tempat imam memimpin salat dan menyampaikan khotbah dibuat ukiran kayu mirip ukiran Cina.

Di bagian tengah masjid juga dibangun sebuah muzawir berukuran 4 × 4 m² berbentuk panggung dari kayu dan diberi ukiran Cina. Muzawir berfungsi sebagai tempat mengumandangkan adzan dan penyambung suara imam sehingga makmum dapat mengikuti gerakan imam. Setelah ada pengeras suara, muzawir tidak digunakan lagi sehingga pengurus masjid membongkar bangunan tersebut pada tahun 1974 (atau 1978). Setelah itu, pembangunan masjid dilanjutkan pada tahun 1960 dengan pemasangan keramik pada 25 tiang ruang utama yang aslinya terbuat dari batu bata. Kemudian, menara pada bagian kiri dan kanan masjid selesai dibangun pada tahun 1967. Pada tahun 1995, dilakukan pemasangan keramik pada dinding ruang utama.

Source http://forumpecintabangunankuno.blogspot.co.id/ http://forumpecintabangunankuno.blogspot.co.id/2015/07/masjid-raya-ganting-kota-padang.html#more
Comments
Loading...