Masjid Raden Sulaiman Cikal Bakal Kesultanan Sambas

0 18

Masjid Raden Sulaiman Cikal Bakal Kesultanan Sambas

Masjid yang terletak berada di pertigaan Sungai Sambas Besar, Sungai Sambas Kecil dan Sekura ini merupakan masjid yang pertama kali di Sambas, sebelum Kesultanan Sambas.

Saya berkesempatan mengunjungi situs bersejarah tersebut. Dengan mengendarai Vespa, dari dermaga penyeberangan di Pasar Sebawi kurang lebih 15 menit. Sesampainya di dermaga, saya pun melanjutkan perjalanan menuju Dusun Kota Bangun, yang terletak persis di pertigaan Sungai Sambas Besar.

Rute yang saya lintasi tidak seperti yang saya bayangkan sebelumnya. Melainkan harus melintasi jalan permukiman padat penduduk dengan lebar hanya satu meter. Sehingga jika ada kendaraan yang ingin melintas, salah satunya harus berhenti atau menepi.

Setelah kurang lebih setengah jam perjalanan, akhirnya tiba di masjid yang dimaksud. Masjid yang menjadi situs sejarah asal usul Kesultanan Sambas.

Setibanya di masjid itu, saya langsung masuk ke dalam masjid. Semua bagian masjid. Mulai dari dinding, lantai hingga bagian langit-langit. Ada bagian yang mulai keropos.

Sepintas, masjid ini luput dari perhatian semua pihak serta pemda setempat. Menurut Jono Odang, Kepala Dusun Kota Bangun Desa Sebangun, Kecamatan Sebawi, masjid ini sudah beberapa kali direnovasi. Namun sayang, dalam perbaikan tidak memperhatikan makna/nilai sejarah yang yang ada. Telah terjadi perubahan dari sruktur bangunan lama.

Dari proses renovasi itu, setidaknya masih ada empat buah tiang tengah yang terbuat dari kayu belian masih dapat kita jumpai di dalam masjid. Tiang itu sengaja tidak dibongkar dan dipertahankan sebagai warisan dari mesjid lama. Bahan lainnya sudah diganti dengan yang baru.

Selain empat tiang penyangga, ada beberapa peninggalan lainnya. Yakni berupa dua buah tempayan kecil yang konon dijadikan kubah masjid. Satu diletakkan sebagai kubah di bangunan utama. Yang satunya diletakkan di kubah mihrab.

Sekarang, pada bangunan baru kubahnya sudah berubah dengan menggunakan alumunium yang dibentuk sedemikian rupa. Terlihat sangat bagus, mengkilat apalagi kalau tertimpa sinar mata hari pagi. Namun tidak akan dapat menggantikan nilai sejarah yang pernah ada.

Di depan pendopo masjid nasih ada terlihat tempayan besar yang terbuat dari batu. Dulu digunakan untuk mencuci kaki ketika mau masuk masjid. Sekarang kegunaannya masih sama. Masih dimanfaatkan masyarakat untuk mencuci kaki ketika akan masuk masjid.

Selain beberapa situs peninggalan yang terdapat di masjid itu, ada pula tongkat khatib yang dibuat dari kayu belian. Konon, tongkat ini kegunaannya sebagai tongkat ketika khatib sedang membacakan khotbah.

Menurut Urai Riza Fahmi, Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Sambas, masjid atau Surau Raden Sulaiman merupakan situs tonggak sejarah berdirinya kesultanan Sambas.

Masjid tersebut dibangun pertama kali oleh Raja Tengah pada saat pertama kali masuk ke Sambas pada abad ke 16. Pada saat itu, kata Ura Riza, Raja Tengah  membuka lahan di muara sungai Sambas Besar yang dinamai Kota Bangun. “Di situ pertama kali yang dibangun adalah masjid atau surau,” kata Urai Riza, sekaligus juru bicara Kesultanan Sambas.

Masjid itu, atau sekarang Surau tersebut dinamai Surau Raden Sulaiman. “Sampai sekarang masih ada, tetapi bentuknya sudah berubah. Di situ lah tapak awal selain menjadi sultan, beliau juga sebagai mubalig, penyebar agama Islam di Kesultanan Sambas,” pungkasnya.

Source https://www.pontianakpost.co.id https://www.pontianakpost.co.id/masjid-raden-sulaiman-cikal-bakal-kesultanan-sambas
Comments
Loading...