Masjid Pincuran Gadang Sumatera Barat

0 90

Lokasi Masjid Pincuran Gadang

Masjid Pincuran Gadang berada di Nagari Matua Hilir Kecamatan Matur Kabupaten Agam, Sumatera Barat.

Masjid Pincuran Gadang

Berdasarkan catatan Pemerintah Kabupaten Agam, masjid ini dibangun pada sekitar tahun 1885 oleh Tuanku Alam Putiah, seorang ulama yang memasyarakatkan agama Islam di daerah Matur. Balai Pelestarian Peninggalan Pur­bakala Batu Sangkar, yang membawahi Sumbar, Riau, dan Kepulauan Riau telah menetapkan Masjid Pincuran Gadang sebagai Situs Cagar Budaya.

Bangunan masjid saat ini kondisinya relatif masih baik walaupun terkesan kurang terpelihara. Dinding terbuat dari pasangan batu kali dan batu bata dari pasir. Atapnya berupa seng dengan bentuk atap bertingkat khas atau berbentuk tumpeng yaitu atap bersusun tiga dengan bentuk semakin ke atas semakin kecil. Bentuk atap ini menyerupai masjid-mesjid tua di Pulau Jawa yang terpengaruh dengan bentuk bangunan budha atau hindu yang lebih dahulu masuk ke Indonesia. Dahulunya atapnya terbuat dari ijuk.

Tiang-tiang masjid terbuat dari kayu yang berasal dari hutan sekitar. Bangunan utama ditopang oleh 9 tiang dari bahan kayu yang posisinya secara persegi konsentris dengan sebuah tiang di tengah.

Bagian depan yang berfungsi sebagai mihrab atau tempat imam dilengkapi dengan bangunan berukuran sekitar 7 x 4 m. Bentuk bangunan yaitu segi delapan. Bentuk atap berupa kubah ciri khas mesjid timur tengah. Sebelum atap kubah dikelilingi oleh jendela-jendela kaca sehingga cahaya dan udara bebas masuk ke dalam masjid.

Yang unik dari Masjid Pancuran Gadang adalah pada bagian luar terdapat bangunan menara yang berada di pintu masuk kompleks masjid berupa bangunan bata berspesi tanpa atap, berbentuk persegi delapan dengan tinggi 3,5 m dan keliling lingkaran 4 m. Pintu masuk berada di barat laut menghadap ke mesjid. Pada bagian atas pintu terdapat tulisan Arab dalam bidang setengah lingkaran. Menara ini dahulunya berfungsi untuk tempat azan. Keberadaan bangunan menara ini hampir sama dengan yang ada pada Masjid Agung Banten. Keberadaan Menara ini bukanlah tradisi masjid-masjid yang ada di Indonesia.
Di sekitar masjid juga terdapat sumber mata air yang sangat jernih sehingga bisa diminum langsung. Dari sumber air langsung masuk ke kolam serta dialirkan pada pencuran tempat penduduk mandi. Karena sumber airnya besar maka pincurannya juga besar maka karena itu dinamakan pincuran gadang. Pincuran yang ada juga berjumlah tujuh buah. Dari kolam tersebut kemudian dialirkan ke sungai dan irigasi untuk persawahan. Dahulunya di samping kolam tersebut terdapat kincir yang digerakkan dari air yang berasal dari mata air. Kincir tersebut berfungsi untuk mengupas padi menjadi beras. Namun sekarang ini sudah tidak berfungsi lagi, tapi bekas kincir tersebut masih ada terlihat sekarang.
Source https://cintamasjid15.blogspot.co.id https://cintamasjid15.blogspot.co.id/2016/10/masjid-pincuran-gadang.html
Comments
Loading...