Masjid Nurul Iman Nunukan

0 34

Masjid Nurul Iman Nunukan

Bangunan masjid lantai dua berdiri kokoh tepat di pinggir jalan utama Nunukan, yakni di Jalan Tanjung, Kecamatan Nunukan, Kalimantan Utara. Nyaris hanya trotoar yang menjadi pembatas antara bangunan utama masjid dengan jalan raya. Di atas lahan sempit inilah, sejarah mencatat pernah berdiri masjid pertama di Nunukan.

Adalah Imam Basran, bekas imam Masjid Nurul Iman yang mengisahkan sejarah awal berdirinya masjid tersebut. Bangunan masjid yang tetap mempertahankan arsitektur aslinya sama tersebut tak lepas dari perkembangan syiar agama Islam di Pulau Nunukan.

Basran menceritakan, Islam saat itu berkembang pesat di Surabaya. Dari Pulau Jawa, Islam kemudian menyebar ke Sulawesi, Sumatera lalu ke Kalimantan, yakni di Kalimantan Selatan. Islam di Nunukan yang banyak dipengaruhi dari Kalimantan Selatan.

“Jadi orang-orang dari Kalsel yang datang membawa Islam ke sini. Mereka datang membawa Islam, benar-benar berdasarkan Al Quran,” ujarnya saat ditemui di kediamannya.

Pulau Nunukan yang saat itu dihuni penduduk asli Kalimantan seperti Tidung dan Banjar, seluruh warganya beragama Islam. “Tidak ada kafir di sini. Semua Islam waktu itu,” tutur Imam Basran.

Berkembangnya agama Islam di Nunukan juga tak lepas dari sejarah berdirinya Masjid Nurul Iman. Dengan jumlah sekitar 200 rumah tangga, pada tahun 1940-an, penduduk setempat mendirikan masjid di Jalan Tanjung. Pembangunan mulai zaman Belanda.

Bangunan masjid masih sangat sederhana. Dengan luas sekitar 12 x 12 meter persegi berdirilah bangunan masjid bertiang kayu ulin, berlantaikan kayu ipil atau merbau dengan atap sirap dari kayu ulin. Meskipun telah mendirikan masjid, namun tak banyak aktivitas keagamaan yang dilakukan saat itu.

“Dulu yang menjadi imam pertamanya itu orangtuanya Pak Jagung. Orang Inhutani,” kata Imam Basran. Ia pun tercatat pernah menjadi imam masjid di sini selama sekitar 10 tahun, sebelum ditugaskan menjadi imam di Masjid Agung Al-Mujahidin.

Pria yang berasal dari Tana Lia, Pulau Mandul ini sebelumnya banyak mendapatkan pendidikan agama dari ayahnya.

“Bapak saya belajar agama langsung dari orang Banjar. Benar-benar belajar dari Al Quran. Saya belajar pada beliau,” kenangnya.

Setelah menikah, pada 1955 sekitar Agustus, Imam Basran dan istrinya hijrah ke Liang Bunyu, di Pulau Sebatik. Satu tahun lebih berada di Liang Bunyu, dia berpindah lagi ke Pulau Nunukan. Awalnya Basran bertugas sebagai muadzin. Tak lama, dia diminta menjadi khatib. Dan akhirnya dipercaya menjadi imam masjid.

Tak banyak memang saksi sejarah yang bisa mengisahkan perkembangan awal Islam dan sejarah berdirinya Masjid Nurul Iman. “Orang-orang tua dulu sudah habis meninggal,” ujarnya.

Basran masih mengingat, pada 1957 sempat dilakukan renovasi bangunan masjid. Saat itu papan yang rusak diganti, begitu pula atap bangunan. Namun tak banyak yang berubah dari masjid tersebut. Saat Nunukan telah menjadi kecamatan, masjid sempat direnovasi.

Bangunan permanen masjid direncanakan dibuat tiga tingkat. Hanya saja karena lokasi yang tidak tersedia, akhirnya bangunan hanya dibuat bertingkat dua.

Source http://kaltim.tribunnews.com http://kaltim.tribunnews.com/2015/06/30/masjid-nurul-iman-pertahankan-arsitektur-asli?page=2
Comments
Loading...