Masjid Kiai Gede Kotawaringin, Tertua di Kalimantan Tengah

0 113

Masjid Kiai Gede Kotawaringin, Tertua di Kalimantan Tengah

Masjid Jami Kiai Gede di Kotawaringin merupakan masjid tertua di propinsi Kalimantan Tengah warisan dari kesultanan Kotawaringin. Kesultanan Kotawaringin merupakan kesultanan pertama dan satu satunya yang pernah berdiri di wilayah propinsi Kalimantan Tengah. Nama Kiai Gede yang menjadi nama masjid ini merupakan nama dari nama seorang Ulama dari tanah jawa yang berjasa menyebarkan Islam di Kotawaringin.

Masjid tua dari kayu ulin yang masih berdiri kokoh dan menjalanakan fungsinya dengan baik hingga hari ini. Kesultanan Kotawaringin awalnya merupakan sebuah kepangeranan yang menjadi bagian dari Kesultanan Banjar di Kalimantan Selatan. Wilayah Kesultanan kotawaringin kini masuk dalam dalam wilayah administrasi Kabupaten Kotawaringin Barat yang berpusat di Kota Pangkalan Bun, Propinsi Kalimantan Tengah.

Masjid Kiai Gede berada di desa Kotawaringin Hulu, Kecamatan Kotawaringin Lama, Kabupaten Kotawaringin Barat, Provinsi Kalimantan Tengah. Sekitar 61km menyusuri sungai Limandau dari kota Pangkalan Bun (ibukota kabupaten Kotawaringin Barat), Kota Pangkalan Bun sendiri berjarak sekitar 449Km dari Palangkaraya ibukota propinsi Kalimantan Tengah. Pada pencitraan satelit tahun 2002 di google earth lokasi masjid ini masih belum terlihat jelas, Selain kualitas foto penginderaan nya yang masih beresolusi rendah ditambah dengan gumpalan awan menutupi lokasi nya.

Masjid Kiai Gede menghadap Sungai yang membelah Kota Waringin Barat karena sarana angkutan air masih menjadi pilihan utama. Kontruksi kayu pilihan dan pondasi panggung memungkinkan bangunan lebih tahan menghadapi perubahan cuaca. Arsitektur yang dipilih bersusun, meski tidak sama persis dengan Masjid Agung Demak, namun memiliki struktur yang sama.

Masjid Jami Kiai Gede di bangun tahun 1632 Miladiyah yang bertepatan dengan tahun 1052 Hijriyah. Saat itu Kerajaan Banjarmasin yang membawahi Kasultanan Kotawaringin dengan pemerintahan dipegang Pangeran Adipati Muda (1010-1055 H). Jauh sebelum masuknya kaum imperialis kolonial Belanda, Kotawaringin merupakan wilayah kerajaan/kesultanan.

Menurut catatan sejarah kota berdasarkan penanggalan Hijriyah berturut-turut tampil sebagai pemimpin, Pangeran Adipati Antakusuma (893-908 H), Pangeran Mas Adipati (908-939 H), Pangeran Penembahan Anom (939-954 H), Pangeran Prabu (954-1010 H), Pangeran Adipati Muda (1010-1055 H), Pangeran Penghulu (1055-1095 H), Pangeran Ratu Begawan (1095-1162 H), Pangeran Ratu Anom Kusuma Yuda (1162-1225 H).

Pangeran Ratu Imanuddin (1225-1275) atau sekitar tahun 1814 Miladiyah pusat pemerintahan yang semula di Kotawaringin dipindahkan ke Pangkalan Bun. Di pusat pemerintahan yang baru ini Pangeran Ratu Imanuddin membangun istana yang megah dan bernama Istana Indra Kencana.

Pangeran Ahmad Hermansyah (1275-1281 H), Pangeran Anom Kesuma Udha (1281-1323 H), Pangeran Ratu Sukma Negara (1323-1333 H). Pangeran Ratu Sukma Alamsyah memerintah setelah mengalami masa kekosongan pada tahun 1914-1939 Miladiyah. Setelah mangkat beliau digantikan Pangeran Ratu Anom Alamsyah yang memerintah tahun 1939-1947 Miladiyah.

Ketika Kerajaan Majapahit memerintah di Tanah Jawa, daerah ini menjadi bagian wilayah kekuasaan Majapahit. Setelah Majapahit runtuh dan digantikan Kasultanan Demak Bintoro bergantilah penguasa, demikian halnya dengan Kerajaan Banjarmasin pernah menguasai daerah ini.

Source http://bujangmasjid.blogspot.com http://bujangmasjid.blogspot.com/2012/02/masjid-kiai-gede-kotawaringin-tertua-di.html
Comments
Loading...