Masjid Jamik Al Baitul Amin Jember

0 380

Lokasi Masjid Jamik Al Baitul Amin

Masjid Jamik Al Baitul Amin terletak di sebelah Utara masjid jamik yang la­ma, di seberang jalan raya yang membelah Alun-alun kota Jember, terletak di sebelah Barat Alun-alun kota, Jawa Timur.

Masjid Jamik Al Baitul Amin

Pembangunan Masjid dipelopori oleh K.H. Ahmad Siddiq mewakili ulama dan Bapak Mulyadi, Kepala Dinas PUD Kabupaten Jember me­wakili pihak Pemerintah Daerah. Menurut informasi, dari kedua tokoh ini timbul ide perencanaan masjid ini dengan tema tawaf. Tawaf adalah suatu bagian dari ibadah haji di Tanah Suci di mana umat berlari-lari kecil mengelilingi Ka’bah. Ide itu akan dicerminkan dengan adanya bangunan pusat yang dikelilingi oleh sembilan bangunan pelengkapnya. Angka sembilan diambil dari angka keramat mubaligh Islam di tanah Jawa yakni Wali Songo yang sembilan orang itu,Maksud membangun masjid jamik dengan ide bentuk tawaf ini mendapat sambutan simpatik sekaligus ditunjukkan seorang perencana/arsitek berasal dari Ban­dung yakni Ir. Ya Ying K. Kesser.

Pada tahun 1978 bersama-sama dengan peresmian Pasar Besar “Tanjung” maka di- resmikan pula penggunaan Masjid Jamik ini dan dinamai Masjid Jamik “Al Baitul Amien” Jember. Masjid Jamik “Al Baitul Amien” dibangun diatas tanah seluas 1,75 ha, yang terdiri dari persil Kantor Kehutanan dan persil-persil milik masyarakat. Di sebelah Selatan Alun-alun terdapat kompleks Kantor Pemerintah Daerah Kabupaten Dati II Jem­ber, di sebelah Timur Alun-alun terdapat bangunan hotel dan kantor-kantor pemerintah, demikian pula di sebelah Utaranya merupakan daerah perkantoran pemerintah.

Jalan masuk samping ada dua buah masing-masing dapat dicapai dari Jalan Semeru dan dari Jalan Raya Sultan Agung. Halaman depan terasa amat sempit sedangkan halaman belakangnya cukup luas. Tata bangunan dibuat simetris yang terdiri dari satu bangunan berkubah besar dengan tiga kubah yang semakin mengecil di samping depan kiri dan samping kanan. Batas belakang dan samping areal masjid dipagari de­ngan dinding tembok setinggi lebih kurang dua me­ter, sedangkan pada bagian depan diberi pagar besi dengan bentuk pola cekungan yang berulang, merupakan pola kebalikan dari pola bentuk yang cembung.

Kepengurusan masjid jamik lama dan masjid baru merupakan satu manajemen, karena tujuan awal pembangunan masjid jamik baru merupakan perluasan dan pengembangan dari mas­jid jamik lama. Dengan bertambahnya sarana baru ini maka kegiatannya kepengurusan masjid tetap menjadi satu.

Masjid Jamik Al Baitul Amien digunakan sebagai masjid jamik, artinya digunakan untuk kegiatan sembahyang Jumat dan sembahyang Hari Raya Idul Fitri dan Idul Adha. Sedangkan Sembahyang rawatib yang dikerjakan sehari-hari dilakukan di dua tempat dengan pembagian waktu tersendiri. Untuk waktu malam hari yakni untuk keperluan salat Maghrib, Isyak dan Subuh digunakanlah masjid baru sedang­kan masjid yang lama ditutup. Sedangkan pada siang hari untuk keperluan sembahyang Dhuhur dan Ashar disediakan di masjid lama, dan masjid baru ditutup. Aturan ini dimaksudkan agar kedua masjid ini masih tetap digunakan sehari-hari dan demi kepraktisan masjid lama dipakai sembahyang di siang hari karena di situ terdapat kegiatan Perpustakaan, Kantor Takmir Masjid dan Ruang Pengadilan Agama.

Dengan demikian maka fungsi masjid sebagai pusat peribadatan diwujudkan pada masjid baru se­dangkan fungsi sebagai pusat kebudayaan diwujud­kan pada kompleks masjid lama.Bentuk Masjid Jamik Al Baitul Amin yang baru ini bulat denahnya dan dilindungi de­ngan bentuk kubah/dome dengan ditumpu oleh balok-balok beton berbentuk busur. Dilihat dari komposisi massanya terlihat bahwa terdapat suatu komposisi yang seolah-olah terbentuk gambar abstrak yang memperlihatkan bentuk garuda yang baru terbang ke arah kiblat, dengan kepalanya berada pada mihrab masjid dan ekornya pada plaza di depan bangunan masjid.

Source http://jawatimuran.net/ http://jawatimuran.net/2016/09/30/masjid-jamik-al-baitul-amin-jember/
Comments
Loading...