Masjid Jami Sultan Abdurrahman Alkadrie

0 39

Masjid Jami Sultan Abdurrahman Alkadrie

Empa belas perahu menyusuri sungai Kapuas. Mengiringi Syarif Abdurrahman Alkadrie yang memimpinnya dari Mempawah. Ia adalah putra seorang penyiar Islam dari Semarang, Al Habib Husein. Ibunya bernama Nyai Tua. Putri Sultan Kamaludin dari Kerajaan Matan di Ketapang. Pada 23 Oktober 1771, bertepatan dengan 24 Rajab 1181 Hijriah, sampailah keempat belas perahu itu di pertemuan Sungai Landak dan Sungai Kapuas. Di tempat inilah mereka membuka pemukiman baru.

Pemukiman baru itu berkembang menjadi perkampungan yang ramai. Bangunan Istana dibangun di tepi timur Sungai Kapuas. Satu surau berdinding kayu dan beratap rumbia berdiri di sebelah baratlaut istana. Hutan hijau di tepi sungai Kapuas itu pun berkembang menjadi pelabuhan yang ramai. Tempat para saudagar berdagang.

Syarif Abdurrahman Alkadrie akhirnya dinobatkan sebagai Sultan Pontianak pada Senin, 8 Sya’ban 1192 Hijriah. Dari namanya inilah kesultanan baru itu dikenal dengan Kesultanan Kadriah. Ia memerintah hingga akhir hayatnya pada 1808. Ketika itu putranya yang bernama Syarif Usman masih kecil. Belum dapat menggantikan posisi ayahnya sebagai Sultan. Untuk sementara pamannya yang bernama Syarif Kasim yang mengisi posisi itu.

Ketika Syafif Usman telah dewasa, pucuk pemerintahan di kesultanan ini dilanjutkannya. Ia memerintah dari 1822 hingga 1855. Sultan Syarif Usman berinisiatif untuk memugar masjid kayu yang dirasa tidak lagi dapat menampung jemaah. Setelah masjid baru yang megah itu selesai dibangun, ia beri nama sesuai dengan nama sang ayah, Masjid Jami Sultan Syarif Abdurrahman Alkadrie.

Bangunan beratap tumpang itu berada di tepi timur Sungai Kapuas. Di sebelah baratlaut Istana Kayu yang indah. Keduanya terpisahkan jalan yang tidak terlalu lebar. Seolah menjadi ikon di antara rumah-rumah panggung di Kampung Beting, Kelurahan Dalambugis. Suatu jejak bersejarah yang berada di Kecamatan Pontianak Timur. Tidak terlalu jauh dari pusat Kota Pontianak.

Bangunan beratap sirap kayu ulin ini berdenah empat segi panjang, dan berukuran 33,27 x 27,74 meter. Tubuh masjid terbuat dari Kayu ulin atau belian. Bercat kuning khas Melayu yang melambangkan keagungan. Atapnya yang tertutup plafon bercat hijau ditopang 20 tiang kayu. Enam tiang kayu berbentuk silinder berdiameter hampir setengah meter, dan 14 tiang kayu berbentuk balok.

Atap Masjid Jami ini bertingkat empat. Terbuat dari lembaran sirap kayu belian. Di antara atap pertama dan kedua terdapat deretan jendela kecil berbentuk persegi. di antara atap kedua dan ketiga terdapat bagian sepeti teras. Di setiap sudutnya terdapat menara kecil seperti gardu beratap limas. Atap paling atas berbentuk limas, dengan garis tepi seperti genta.

Ada tiga pintu utama setinggi tiga meter yang berada di baratdaya, tenggara dan timurlaut. Di sebelah kiri dan kanan pintu utama di dinding baratdaya dan timurlaut terapat tiga pintu yang lebih rendah setinggi dua meter. Sementara di sebelah kiri dan kanan pintu utama di dinding tenggara hanya ada dua pintu. Pintu seperti ini juga terdapat di dinding baralaut. Di sebelah kiri dan kanan mihrab. Pintu-pintu itu berjumlah 20, berdaun pintu dua bilah, dan dibuka ke arah luar. Sama seperti pintu utama.

Lantainya panggung setinggi 50 centimeter. Mihrabnya unik, mirip geladak kapal. Berdenah segi enam dengan mimbar bercat kuning, berpahatkan ukiran berwarna emas. Di atasnya terdapat prasasti berhuruf Arab. Menerangkan bahwa Sultan Syarif Usman membangun masjid ini pada Selasa, Muharram 1237 Hijriah. Sultan Syarif Usman adalah sultan ketiga yang membangun masjid megah ini. Menggantikan masjid kecil (mushola) yang dibangun Ayahnya, Sultan Syarif Abdurrahman.

Source https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/ditpcbm/ https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/ditpcbm/masjid-jami-sultan-abdudrrahman-alkadrie/
Comments
Loading...