Masjid Jami’ Al Islam Tanah Abang Jakarta Pusat

0 45

Masjid Jami’ Al Islam Tanah Abang Jakarta Pusat

Masjid Jami’ Al Islam terletak di Jl. K.S. Tubun No. 61, Kelurahan Petamburan, Kecamatan Tanah Abang, Jakarta Pusat, berdirinya tahun 1770 diinisiatifi oleh Sultan Raja Burhanuddin Syekh al-Masri bersal dari Minangkabau, Sumatera Barat dibantu oleh berbagai pihak.

Tanah Abang tempo dulu nyaris tidak jauh berbeda peran dan fungsinya dengan Tanah Abang saat ini, yakni sama-sama sebagai pusat perdagangan dan ekonomi.

Karena menjadi pusat perdagangan, tak pelak Tanah Abang pun menjadi daerah tempat berkumpulnya semua suku bangsa, baik yang berasal dari luar negeri, seperti Cina, Arab dan India, maupun suku dari seluruh pelosok Nusantara. Di tempat inilah terjadi interaksi sosial dan budaya dengan segala akibat baik-buruknya.

Dari pengamatannya sekilas atas aktivitas orang-orang Minang di Pasar Tanah Abang, Sultan Raja Burhanuddin menyimpulkan bahwa para pedagang dari kampungnya saat itu jauh dari agama. Mereka, karena kesibukan dagangnya, seringkali lupa menunaikan shalat dan tak pernah tersentuh dakwah. Letak masjid yang cukup jauh dari pasar, membuat mereka enggan datang ke masjid.

Sejak itu Sultan Raja Burhanuddin langsung berinisiatif mendirikan masjid yang cukup mudah dijangkau dari lokasi pasar dan pemukiman masyarakat pedagang di Tanah Abang, dengan dibantu oleh berbagai pihak, berdirilah kemudian di tahun 1770 Masjid Jami Al-Islam.

Secara keseluruhan, bentuk bangunan Masjid Al Islam terdiri atas bentuk arsitektur Jawa, Timur Tengah, dan Kolonial Belanda. Bentuk arsitektur Jawa direpresentasikan oleh atap bangunan berbentuk tumpang dua dengan konstruksi saka guru nya. Belanda. Bentuk arsitektur Timur Tengah direpresentasikan oleh atap kubah bawang aluminium di puncak atap bangunan masjid dan Menara. Bentuk arsitektur Kolonial Belanda direpresentasikan oleh bentuk empat tiang saka guru yang bergaya Klasik.

Proses akulturasi arsitektur yang terjadi adalah adaptasi, di mana bentuk arsitektur lokal (Jawa) lebih dominan dibandingkan bentuk arsitektur non lokal (Timur Tengah dan Kolonial Belanda).

Di dalam ruang utama terdapat empat tiang saka guru. Keempat tiang ini berbentuk bulat bergaya Klasik (Order Dorik Yunani). Keempat tiang saka guru merupakan bagian utama struktur bangunan yang menyangga atap berbentuk tumpang dua. Bentuk atap seperti ini mencerminkan seni budaya Jawa. Di antara tumpang pertama dan kedua terdapat lubang cahaya di sekelilingnya. Plafon interior ruang utama mengikuti bentuk atapnya. Dari sisi luar, pada puncak atap ditempatkan kubah kecil berbentuk bawang berbahan aluminium.

Ruang utama masjid dilingkupi oleh dinding-dinding pada keempat sisinya. Pada dinding pelingkup ketiga sisinya: sisi selatan, utara, dan timur, yang juga merupakan dinding-dinding pembatas dengan teras selatan, teras utara, dan teras timur terdapat masing-masing 3 pintu dan 4 jendela. Pintu-pintu berupa panil berdaun dua, pada bagian atasnya berbentuk lengkung setengah lingkaran rangka besi yang tersusun atas bentuk belah ketupat. Jendela-jendela tanpa daun jendela dan bagian atasnya berbentuk lengkung setengah lingkaran. Dalam bidang jendela terisi rangkaian ornamen besi.

Pada bidang sisi barat terdapat mihrab yang menjorok keluar. Bagian atas mihrab berbentuk lengkungan. Di dalam mihrab ditempatkan mimbar kayu dan dua buah jam kayu antik. Di dinding bagian atas sebelah kanan dan kiri mihrab terdapat masing-masing 4 buah lubang angin yang bentuknya melengkung setengah lingkaran bagian atasnya. Lubang angin ini diberi rangkaian ornament besi berbentuk susunan belah ketupat. Bentuk-bentuk lengkungan pada pintu, jendela dan lubang angin mengingatkan pada unsur-unsur budaya Timur Tengah.

Pada sisi luar dinding bagian barat bagian atas terdapat jejeran bentuk lengkung setengah lingkaran tanpa tiang-tiang penyangganya, melainkan menggantung pada struktur atasnya. Pada sudut kanan dan kiri atas bentuk-bentuk lengkung setengah lingkaran ini terdapat hiasan berbentuk bintang.

Di sebelah barat laut bangunan masjid terdapat menara berbentuk segi empat, setinggi kurang lebih 20 meter. Pada seluruh bidang pada keempat sisinya berupa kerawang dicat warna hijau. Pada bagian paling atas terdapat selasar yang berpagar besi keliling. Pada puncak Menara terdapat atap berbentuk kubang bawang aluminium.

Source https://gpswisataindonesia.info https://gpswisataindonesia.info/2019/03/masjid-jami-al-islam-tanah-abang-jakarta-pusat/
Comments
Loading...