Masjid Hizbullah, Monumen Perjuangan Laskar Hizbullah Malang

0 109

Masjid Hizbullah, Monumen Perjuangan Laskar Hizbullah Malang

Selain Masjid Sabilillah dan Masjid Jami‘ yang merupakan masjid yang penuh sejarah. Di Malang ada masjid lain yang juga punya sejarah. Masjid itu bernama Masjid Hizbullah.

Masjid Hizbullah terletak di Singosari dan konon didirikan sejak tahun 1907. Masjid ini didirikan di atas tanah wakaf dari KH Masjkur, sosok ulama yang menjadi pemimpin perang jihad melawan Belanda.

Sejarah Laskar Hizbullah berasal dari keinginan dari para ulama yang menginginkan umat islam ikut mengangkat senjata, Akhirnya pada 22 Oktober 1945 dideklarasikan seruan jihad fi sabilillah yang belakangan dikenal dengan istilah ‘Resolusi Jihad’ di kantor ANO (Ansor Nahdlatul Oelama).

Barisan santri bergabung dengan laskar Hizbullah, sementara barisan Kiai bergabung di laskar Sabilillah, markas besar dari dua laskar itu berada di Malang. Jika Laskar Sabilillah punya markas di Masjid Sabilillah, maka Laskar Hizbullah punya markas di Masjid Hizbullah.

Wilayah Singosari punya peranaan penting bagi dua laskar ini, karena pada November 1945 wilayah di sebelah utara Kota Malang ini menjadi tempat berkumpul. Tidak sedikit pondok pesantren yang mengirimkan santrinya untuk berjuang. Keberanian mereka berjuang atas nama agama juga mendapatkan motivasi dari ulama di Malang pada waktu itu.

Meski bermodalkan senjata yang jauh dari kata layak seperti bambu runcing hingga ketapel, pasukan yang tergabung dalam Hizbullah dan Sabilillah mengalir ke medan pertempuran di Surabaya. Di antara mereka ada yang gugur di daerah pertempuran mulai Wonokromo, Waru, Baduran dan lainnya.

Selain pertempuran di Surabaya, pada saat agresi milter Belanda pertama pada 1947, Singosari juga menjadi benteng yang membuat Belanda kesulitan memasuki Malang. Hingga akhirnya Belanda yang dipimpin Jenderal Spoor menyerang lagi di pagi buta dan menembakkan meriam dan mortir hingga Singosari hancur berantakan. Dari Singosari yang merupakan wilayah vital, pasukan Belanda kemudian dipecah menjadi dua, ada yang melalui Bandara Abdurrahman Saleh, ada yang kemudian terus menuju ke Kota Malang.

Setelah perjuangan selesai, pengelolaan aset-aset Hizbullah diserahkan kepada Nahdhatul Ulama (NU). Pertama, sebidang tanah hasil rampasan dari Jepang yang terdapat di Kauman Dalam, sekarang digunakan sebagai Kantor Pengurus Cabang NU. Kedua, gedung di Jalan Celaket nomor 10, sekarang menjadi SMU Salahuddin. Ketiga, gedung di Jalan Kartini nomor 2, sekarang menjadi SMU Islam. Keempat, tanah seluas 2500 m2 di Kebonsari, Kebonagung yang kini di atasnya dibangun gedung Sekolah Al-Hidayah.

Gedung-gedung itu tidak diberikan ke tentara, tapi untuk kepentingan pendidikan. Laskar Hizbullah ingin aset-aset itu nanti bisa berguna untuk perjuangan umat dalam bidang pendidikan. Sementara di Singosari Masjid Jami’ yang berdiri kokoh akhirnya berganti menjadi Masjid Hizbullah pada tahun 1996 sebagai penanda sekaligus monumen.

Source https://ngalam.co https://ngalam.co/2017/01/20/masjid-hizbullah-laskar-hizbullah/
Comments
Loading...