situsbudaya.id

Masjid Auliya Sentono Gedong Kediri

0 46

Lokasi Masjid Auliya Sentono Gedong

Masjid Auliya Sentono Gedong terletak di Jl. Dhoho, Setono Gedong, Kec. Kota Kediri, Kota Kediri, Jawa Timur.

Masjid Auliya Sentono Gedong

Pada serangan tentara Islam Demak ketiga tahun 1524 atas Daha (Kadhiri) yang dipimpin langsung Djakfar al-Shodiq (Sunan Kudus), berhasil merebut Ibukota Kerajaan Majapahit di Daha (Kadhiri). Sunan Kudus adalah anak Rahmatullah (Sunan Ngudung) yang telah memimpin serangan pertama dan ke dua, beliau gugur pada serangan ke dua. Sunan Kudus membangun sebuah “Monumen Peringatan” untuk mengenang jasa-jasa ayahnya yang gugur dalam serangan kedua. Monumen tersebut bukan makam dari Rahmatullah (Sunan Ngudung), karena menurut Hikayat Hasanudin dimakamkan di dekat Masjid Demak. Yang kubur di Setono Gedong adalah sesuatu yang melambangkannya, seperti aksesoris yang selalu dikenakan olehnya. Lebih tepatnya monumen itu dijadikan lambang kemenangan tentara Islam Demak atas Kerajaan Majapahit di Daha (Kadhiri).

Selanjutnya pada tahun 1897 M, di halaman situs Setono Gedong telah dijadikan tempat ibadah oleh penduduk setempat yang beragama Islam, dengan hanya beralaskan tanah. Masjid inilah oleh penduduk setempat disebut Masjid Tiban. Namun nama “Tiban” sekarang menunjuk pada sumur tua di sebelah utara situs. Pada tahun 1967 M barulah dibangun masjid di depannya atau di sebelah timurnya dengan nama Masjid Auliya’ Setono Gedong. Pada saat itu juga baru disertifikatkan tanah negara tersebut sebagai bangunan masjid hingga sekarang.

Perkembangan Islam sangat lambat penyebabnya karena masih kuatnya pengaruh dari Kerajaan Hindu-Budha yang antara lain, masa Wangsa Isyana(Mpu Sindok), masa Airlangga, Jenggala dan Kadhiri pada kurun waktu abad XI-awal abad XIII Masehi, serta dilanjutkan masaSinghasari dan Majapahit pada abad XIII-XV Masehi. Pada saat keruntuhan Majapahit inilah mulai muncul kerajaan-kerajaan Islam di Pulau Jawa, yang salah satunya adalah Kerajaan Demak yang merupakan kerajaan Islam Pertama di Pulau Jawa dan didirikan oleh keturunan Majapahit yang bernama Raden Patah.

Ciri-ciri umum bentuk bangunan masjid pada masa peralihan agama Islam masih banyak terpengaruh gaya budaya Hindu-Budha dengan adanya: Arsitektur masjid menunjukkan gaya dari masa Hindu-Budha. Seperti penggunaan atap tumpang pada bangunan Masjid Jawa; Ragam hias pada dinding masjid, seperti relief bersayap yang melambangkan kelepasan, pintu masjid yang berbentuk paduraksa atau bentar dengan ukiran-ukiran bunga teratai yang dalam Agama Hindu maupun Budha sebagai lambang surgawi. Bunga matahari sebagai lambang penerangan dan ketangguhan, dan pola hias tanaman menjalar sebagai ornamen tambahan; Seni hias kaligrafi Islam, yaitu tulisan-tulisan dengan memakai arab yang ditulis pada dinding masjid maupun makam yang menunjukkan gaya seni.

Source http://jawatimuran.net/ http://jawatimuran.net/2016/09/30/masjid-auliya-setono-gedong-kota-kediri-2/
Comments
Loading...