Masjid Asasi Kota Padang Panjang Sumatera Barat

0 42

Masjid Asasi Kota Padang Panjang Sumatera Barat

Masjid Asasi terletak di Nagari Gunung, Kelurahan Sigando, Kecamatan Padang Panjang Timur, Kota Padang Panjang, Provinsi Sumatera Barat. Masjid yang berdiri di atas tanah seluas 300 meter persegi ini, di antara permukiman penduduk dan pada ketinggian 575 meter diatas permukaan laut.

Tak sulit menemukannya, Masjid Asasi hanya berjarak 500 meter dari ruas jalan raya Padang Panjang – Batusangkar. Setelah berbelok ke kiri di Simpang Ekor Lubuk. Tidak beberapa lama kemudian akan terlihat gerbang masjid yang bertuliskan Masjid Asasi, Nagari Gunung.

Terdapat beberapa versi mengenai asal mula berdirinya masjid. Dua diantaranya adalah seorang peneliti Belanda yang mendapatkan referensi bahwa masjid didirikan pada tahun 1685 dan Surat Pernyataan Pembentukan Baitulmal Masjid Asasi Nagari Gunung yang mengatakan bahwa pada tahun 1775 berdiri masjid di atas Surau Gadang. Menurut e-Book: Masjid-Masjid Kuno di Sumatera Barat, Riau dan Kepulauan Riau oleh Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Batusangkar 2005, bahwa Masjid Asasi mulai dibangun pada tahun 1702 oleh masyarakat Batipuh Koto dan mulai dipakai sebagai tempat ibadah pada tahun 1770. Terlepas dari beberapa sejarah mengenai pendirian masjid, Masjid Asasi Nagari Gunung merupakan masjid tertua di Padang Panjang.

Arsitektur masjid ini menerapkan konsep arsitektur tradisional Minangkabau, yaitu seperti bentuk “Rumah Gadang”. Ini terlihat atap masjidnya berbentuk tumpang bersusun tiga dan seluruh dinding dipenuhi dengan ragam hias flora. Sedangkan, kubahnya sebagai ciri sebuah masjid, berbentuk atap limas bertingkat tiga, sebagai perlambang bahwa Nagari Gunung dikuasai oleh 3 unsur, yakni agama, unsur adat, dan unsur pemerintah.

Masjid dikelilingi pagar besi di bagian selatan dan pagar tembok di bagian barat dan utara. Untuk memasuki kawasan masjid, terdapat pintu gerbang di sebelah selatan. Bangunan masjid itu sendiri berbentuk panggung, berdenah persegi panjang, dan terbuat dari kayu.

Mihrab dan serambi masjid menjorok keluar dari bangunan utama. Atap masjid bersusun tiga terbuat dari bahan seng, dimana bagian atap mihrab dan serambi bergonjong dua.

Dinding ruang utama terbuat dari kayu papan berukir khas tradisional Minangkabau di bagian luar, sedangkan di bagian dalam ditambahah lapisan papan polos baru. Lantai masjid juga terbuat dari papan kayu. Adapun pintu untuk memasuki ruangan utama berada di sebelah timur dengan melalui tujuh buah anak tangga. Pintu tersebut memiliki dua buah daun pintu.

Pada bagian tengah bangunan utama terdapat satu tiang soko guru yang dikelilingi oleh 7 tiang lainnya. Tiang soko guru ini ukurannya lebih besar dari tiang-tiang lainnya dan pada bagian dalamnya terbuat dari kayu, sedangkan pada bagian luarnya dilapisi beton. Adapun 7 tiang lainnya terbuat dari kayu. Pada bagian atas dari tiang soko guru terdapat hiasan kelopak bunga matahari.

Atap mihrab berbentuk gonjong dan di dalamnya terdapat mimbar yang terbuat dari kayu papan. Jendela kaca berdaun dua masing-masing berjumlah empat buah berada di dinding utara dan selatan ruang utama. Jendela serupa juga dapat ditemui di sisi utara dan selatan mihrab.

Serambi masjid berada di sebelah timur berupa ruangan tertutup tanpa jendela. Ruangan serambi ini disekat dari ruang utama, memiliki pintu di sebelah barat ruang utama, dan difungsikan sebagai ruangan pengurus masjid.

Kemudian, di bagian depan masjid sebelah utara terdapat bangunan panggung seperti tempat penyimpanan padi (rumah tabuh) yang digunakan untuk tempat bedug yang terbuat dari kayu kelapa. Bangunan tersebut terbuat dari kayu, dinding berupa papan berukir, dan atap terbuat dari seng dengan bentuk gonjong empat. Pintu masuknya berada di sebelah timur.

Tempat wudhu berada diluar pagar, di bawah bangunan rumah garin masjid. sumber air berasal dari mata air yang ada di sekitar masjid. Pintu masuknya berada di sebelah barat dengan melalui tangga menurun.

Bentuk bangunan masjid ini masih asli dan belum mengalami perubahan. Menurut penjaga masjid, penggantian atap yang semula memakai atap ijuk menjadi atap seng dilakukan pada tahun 1905 dan penggantian dinding yang sudah lapuk pada tahun 1956.

Source https://gpswisataindonesia.wordpress.com https://gpswisataindonesia.wordpress.com/2015/03/12/masjid-asasi-kota-padang-panjang-sumatera-barat/
Comments
Loading...