Masjid Angke Jakarta

0 62

Lokasi Masjid Angke

Masjid Angke terletak di Kampung Angke1, tepatnya di Jalan Tubagus Angke, Gang Masjid Nomor 1, Kecamatan Tambora, Jakarta Barat.

Masjid Angke

Daerah Khusus Ibukota (DKI) Jakarta adalah salah satu daerah (setingkat dengan provinsi) yang ada di Indonesia. Daerah ini tidak asing lagi bagi masyarakat Indonesia karena ibukotanya (kota Jakarta) sekaligus menjadi ibukota negara. Di sana banyak dijumpai berbagai peninggalan sejarah yang berupa bangunan-bangunan tua. Salah satu diantaranya adalah mesjid Angke yang telah ditetapkan sebagai benda cagar budaya (bangunan bersejarah) berdasarkan Surat Keputusan Gubernur Kepala Daerah Khusus Ibukota Jakarta No. Cb. 11/12/1972 tanggal 10 Januari 1972.

Mesjid ini mempunyai keunikan tersendiri karena arsitekturnya adalah percampuran dari arsitektur Jawa, Cina dan Eropa. Arsitektur Jawa terlihat tidak hanya dari denah bangunannya yang berbentuk persegi dan bentuk atapnya, tetapi juga sistem struktur sakaguru yang menopang atapnya. Kemudian, arsitektur Cina terlihat dari detail konstruksi pada skur atap bangunan yang bertumpuk seperti kelenteng. Sedangkan, arsitektur gaya Eropa terlihat pada bentuk pintu dan jendelanya yang berukuran besar, lebar dan tinggi.

Mesjid Angke yang sekarang terkenal dengan nama Masjid Al-Anwar sangat erat kaitannya dengan orang-orang Cina yang ada di Batavia (sekarang Jakarta). Pada masa itu mereka bersitegang dengan Gubernur Jenderal Batavia, yaitu Jenderal Adrian Valekenier (1737–1741). Ketegangan itu mencapai puncaknya pada tahun 1740. Ketika itu orang-orang Cina yang bersenjata menyelusup dan menyerang Batavia. Kejadian ini membuat Valekenier memerintahkan pasukannya untuk mengadakan pembunuhan massal terhadap orang-orang Cina di Batavia.

Dan, peristiwa tersebut diketahui oleh Pemerintah Belanda sehingga Valekenier diminta pertanggungjawabannya dan dianggap sebagai Gubernur Jenderal tercela. Kemudian, dia ditangkap dan dipenjarakan di Batavia tahun 1742. Waktu terjadi pembunuhan tersebut sebagian orang Cina yang bersembunyi dilindungi oleh orang-orang Islam (Banten) dan hidup berdampingan hingga tahun 1751. Mereka inilah, khususnya salah seorang yang kawin dengan orang Banten, yang kemudian mendirikan Masjid Angke pada tahun 1751.

Pada masa kemerdekaan (1945) masjid ini digunakan oleh para ulama Angke untuk mengobarkan semangat juang para pemuda di sana. Melalui khotbah-khotbah yang disampaikannya, para ulama melakukan provokasi untuk meningkatkan semangat juang menentang Belanda yang ingin kembali menjajah Indonesia. Di masjid ini juga sering digunakan oleh para pemuda untuk mengadakan rapat-rapat rahasia agar tidak tercium oleh pihak Belanda.

Source http://uun-halimah.blogspot.co.id/ http://uun-halimah.blogspot.co.id/2008/05/masjid-angke-jakarta-barat.html
Comments
Loading...