Masjid An Nur Empang Bogor

0 6

Masjid An Nur Empang Bogor

Masjid An Nur Empang atau dikenal luas dengan nama Masjid Keramat Empang Bogor adalah salah satu masjid tertua di kota Bogor, lokasinya memang berada di kawasan Empang Kota Bogor, tidak jauh dari alun alun dan Masjid Agung At Thohiriyah.

Masjid An Nur Empang ini tidak difungsikan sebagai masjid, mungkin karena letaknya yang memang tidak terlalu jauh dari Masjid Agung At Thohiriyah. Papan penanda nama dan pembangunan masjid ini dipasang di fasad depan atap masjid dalam aksara Arab, papan kayu berbentuk segitiga dilengkapi dengan sebatang ornament hias, dan ini menjadi satu satunya petunjuk yang menyebut bangunan ini sebagai masjid.

Masjid ini dibangun sekitar tahun 1828 M. Dibangun oleh seorang ulama besar pada masanya, yaitu Habib Abdullah bin Muhsin Alatas yang berasal dari Hadramaut, Yaman. Kenapa dijuluki Empang? Karena dahulu area sekitar masjid itu dikelilingi oleh empang. Maka dijulukilah oleh masyarakat sekitar Masjid Empang Bogor.

Saat beliau wafat, jenazah Habib Abdullah bin Muhsin Alatas dimakamkan di belakang (sisi barat) masjid An-Nur ini. Kini Setiap malam Jumat, masjid ini selalu ramai dikunjungi oleh masyarakat, baik yang ingin berziarah, atau bahkan ingin berjualan di sekitar masjid.

Setiap tahun pun, acara Maulid Nabi yang diselenggarakan di masjid ini selalu ramai oleh para jamaah, bahkan dari luar daerah Bogor. Beberapa kali juga, Mantan Presiden Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono turut hadir saat beliau masih menjabat. Jajaran ulama, dai, hingga tokoh politik pun acap kali terlihat hadir saat maulid diselenggakan di Masjid Empang.Acara pengajian rutin setiap malam Jumat, selalu diadakan pembacaan kitab Maulid Nabi Ad-diba’i, karya Syekh abdurrahman Ad-diba’i, yang dibacakan di dalam masjid, tepatnya di ruang tengah yang hanya dibuka saat pengajian malam Jumat.

Rumah seluas 200 m2 yang merupakan peninggalan Habib Abdullah, rumah itu menyimpan benda-benda peninggalan Habib Abdullah Bin Mukhsin Al Athas, yaitu gamis, sorban, tempat tidur, dan tongkat. Di rumah ini ada kamar khusus untuk zikir, dan 100 kitab agama dari jumlah semula 850 buku, kabarnya sebagian besar kitab kitab lainnya itu kini disimpan di “Jamaturkhair atau di Rabitoh”, Tanah Abang Jakarta.Di samping Masjid Empang, masih berdiri rumah peninggalan sang pendiri masjid, yang kini ditempati oleh keturunannya. Jika ingin mengunjungi rumah tersebut, memang tak mudah. Karena, dijaga oleh Khalifah Empang yang merupakan keturunan beliau. Khalifah ini diamanahi untuk menjaga masjid, makam, dan rumah Habib Abdullah. Sehingga, kunjungan ke rumah tersebut harus seizin Khalifah Empang tadi.

Diantara kitab karangan Habib Abdullah Bin Mukhsin Al Athas adalah Faturrabaniah, Ratibul Ahtas dan Ratibul Hadad. Dua kitab terakhir diajarkan setiap magrib secara rutin kepada murid-muridnya ketika ia masih hidup.

Source http://bujanglanang.blogspot.com http://bujanglanang.blogspot.com/2018/08/masjid-nur-empang-bogor.html
Comments
Loading...