Masjid Al Wustho di Surakarta

0 226

Lokasi Masjid Al Wustho

Masjid ini terletak di Jl. RA. Kartini No. 3, RT 03 / RW 09, Ketelan, Banjarsari, Ketelan, Banjarsari, Kota Surakarta, Jawa Tengah. Letak Masjid Al Wustho Mangkunegaran Solo hanya sekitar 60 meter dari pertigaan jalan samping ke Puro Mangkunenaran

Sejarah Masjid Al Wustho

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Masjid Al Wustho Mangkunegaran awalnya dibangun atas prakarsa Pangeran Sambernyawa atau KGPAA Mangkunegara I (7 April 1725 – 28 Desember 1795 ) sebagai Lambang Panatagama. Masjid itu sebelumnya berada di wilayah Kauman, Pasar Legi, lalu dipindahkan ke tempatnya yang sekarang oleh Mangkunegara II. Nama Al Wustho pertama kali digunakan pada 1949 oleh Raden Tumenggung KH Imam Rosidi yang menjadi Penghulu Pura Mangkunegaran. Al-Wustho berarti tengah atau pertengahan, merujuk pada ukuran masjid yang tidak sebesar Masjid Agung   Keraton Kasunanan Surakarta namun tidak sekecil Masjid Kepatihan.

Karakteristik Masjid Al Wustho

Tembok luar masjid tidak rata, tinggi rendah membentuk kuncup-kuncup daun besar kecil berselang-seling, sedikit lebih tinggi dari orang dewasa. Pandangan pojok pada ruang utama Masjid Al Wustho Mangkunegaran berukuran 24 x 22 m, memperlihatkan keelokan jajaran empat sakaguru dan 12 sakarawa (penyangga pembantu) yang juga menjadi ciri khas masjid di Jawa. Warna dominan adalah hijau dengan warna keemasan pada ornamen. Kaligrafi Arab menghiasi bagian bawah sakaguru.

Mimbar kayu berukir penuh dan indah dengan motif bunga dan suluran berada diluar mihrab, di sisi kanan. Bagian mihrab yang berbentuk kuncup juga dihias tulisan kaligrafi huruf Arab yang diukir pada kayu mengikuti lekuk lubang mihrab. Selain lampu gantung kristal di tengah, juga ada beberapa lampung gantung kristal yang lebih kecil pada keempat sisi. Di kompleks masjid seluas 4.200 m2 ini terdapat sebuah bangunan berbentuk lingkaran yang disebut maligen yang dibangun oleh Mangkunegara V untuk khitanan putra kerabat Mangkunegaran. Sejak Mangkunegara VII, maligen boleh digunakan oleh perkumpulan Muhammadiyah sebagai tempat khitanan masyarakat umum.

Pandangan pojok Masjid Al Wustho Mangkunegaran yang memperlihatkan atap masjid yang berbentuk tajug tumpang tiga dengan mustaka di puncaknya, khas Jawa, hasil rancangan ulang Herman Thomas Karsten, seorang arsitek Belanda, ketika dilakukan renovasi besar-besaran pada masjid ini atas prakarsa Mangkunegara VII.

Pada serambi berukuran 22 x 11 meter itu juga terdapat sebuah bedug besar bernama Kanjeng Kyai Danaswara yang terlihat kulitnya masih baru dan kentongan kayu tinggi digantung di sisinya. Semua pintu masuk dari serambi terkunci, namun pintu samping yang berada di dekat tempat wudhu dibuka, sehingga saya bisa masuk ke dalam ruang utama masjid setelah mengambil air wudhu.

 

Source Masjid Al Wustho Surakarta
Comments
Loading...