situsbudaya.id

Masjid Al Makmur Sawah Lio Jakarta Barat

0 66

Masjid Al Makmur Sawah Lio

Bangunannya berada di tengah permukiman dengan batas-batas lingkungan sebelah utara berbatasan dengan permukiman, sebelah selatan dengan Jl. Sawah Lio II, sebelah barat dengan gang Sawah Lio dan permukiman, sebelah timur berbatasan dengan permukiman.

Dilihat dari keletakan pintu masuk-keluar utama, bangunan masjid Sawah Lio memiliki arah hadap selatan, sedangkan denahnya berupa empat persegi panjang mengarah utara-selatan berukuran 12 m x 14,40 m. Pada bagian depan terdapat halaman terbuka yang sempit. Serambi depan memiliki lebar yang cukup sempit, hanya 150 cm dibatasi oleh tiang-tiang persegi empat yang membentuk lengkung yang distilisasi. Dinding muka masjid memiliki tiga pintu dengan dua daun berbahan kayu. Pintu utama yang seringkali digunakan sehari-hari adalah pintu bagian tengah. Pintu tengah memang terlihat lebih raya dibandingkan dua pintu lainnya dalam hal hiasan.

Perbedaan dapat dilihat dari daun pintu dan kusennya. Bersisian dengan pintu terdapat jendela tanpa daun yang disekat oleh teralis kayu. Bentuk jendela terbuka, berteralis kayu, bentuk ini terdapat hampir di setiap sisi dinding masjid. Dindingnya dilapisi oleh keramik berwarna hitam bercorak. Di atas pintu tidak dilengkapi dengan ventilasi, mungkin disebabkan oleh jendela yang digunakan adalah jendela terbuka pada beberapa bagian. Selain jendela terbuka, masjid ini memiliki beberapa jendela dengan dua daun berpanel kaca yang hanya terdapat di bagian muka masjid. Dua pintu lain juga terdapat di sisi timur dan barat masjid.

Berdasarkan pengamatan pada keletakan pintu dan jendela, dapat diambil kesimpulan bahwa kusen, daun pintu dan jendela telah mengalami pergeseran tempat. Kemungkinan juga dengan dindingnya. Hal tersebut dapat dilihat dari ketebalan kusen pintu dan jendela yang lebih tebal dibandingkan dengan tebal dinding. Kemudian bagian kusen pintu dan daun pintu tampak telah mengalami pemotongan. Untuk kasus ini kemungkinan dapat disebabkan oleh peninggian lantai. Sedangkan untuk dinding tampaknya memang telah mengalami pergeseran bersamaan dengan perluasan masjid. Hal tersebut dapat dilihat juga melalui keletakan menara yang saat ini berada dalam ruang masjid.

Masuk ke bagian dalam akan didapati lantai yang memiliki beda tinggi antara bagian tepi dengan tengah yang dibatasi oleh pilar-pilar berbentuk empat persegi, yang dilapis keramik putih sejumlah 14 buah. Pilar ini memperlihatkan bentuk hiasan lama, begitu juga dengan material yang digunakan untuk plesternya. Di bagian atas tiang-tiang ini terhubung oleh balok kayu sehingga membentuk denah empat persegi di bagian atasnya. Di bagian tengah dari jajaran tiang empat persegi tersebut terdapat tiang-tiang dengan jumlah empat yang dapat dikatakan sebagai saka guru.
Keempat tiang ini menyangga atap masjid yang memiliki atap tumpang dua. Tiang saka gurunya memiliki dasar berdenah  segi enam dengan bentuk ke atas berupa silindris yang mengecil ke bagian atas. Terdapat anak tangga dari kayu untuk naik ke lantai kayu yang ditopang oleh tiang saka guru. Lantai kayu tersebut saat ini hanya digunakan untuk menyimpan sejumlah barang. Sedangkan bagian lain di bawah atap ditutup menggunakan asbes sebagai plafon. Adanya penambahan luas masjid tentu saja berpengaruh pada bagian atapnya. Model atap yang lama adalah atap tumpang dua, namun saat ini sudah sulit dilihat karena telah tertutup oleh bagian bangunan yang baru.

Bagian menara masjid adalah bagian yang cukup menarik. Melihat bentuknya, menara tersebut dipengaruhi gaya dari Asia Tengah. Berdenah lingkaran dengan dinding silindris menjulang ke atas makin mengecil di ujungnya. Menara ini dapat dimasuki hingga bagian puncaknya. Penerangan alaminya adalah jendela-jendela bentuk pelengkung yang beberapa bagian telah dibuatkan daun sebagai pengaman. Beberapa bagian pada dinding luar, terutama pada penyangga lantai luar dari bagian lantai atas menara terlihat seperti menggunakan beton, sedangkan atapnya menggunakan bentuk kubah. Hal tersebut memberikan dugaan bahwa menara dibangun pada masa kemudian, kemungkinan sudah masuk abad ke-20.

Hal tersebut juga dapat dilihat dari profil dinding menara yang menggunakan gaya tahun-tahun awal abad ke-20. Masjid ini semula bernama Masjid Jamik Kampung Sawah yang didirikan pada tahun 1130 H (1717 M). Masjid ini mempunyai peranan yang cukup besar dalam perjuangan kemerdekaan Republik Indonesia, di bawah pimpinan Kyai Haji Mohammad Mansyur. Pada tahun 1948 masjid ini digrebeg dan ditembaki oleh serdadu NICA. Pada saat itu Kyai Haji Mohammad Mansyur ditangkap oleh Belanda karena mengibarkan bendera merah putih di menara masjid.

Source https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/bpcbbanten/ https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/bpcbbanten/masjid-al-makmur-sawah-lio-jakarta-barat/
Comments
Loading...