Masjid Al Ikhlas dan Kelenteng Tri Dharma di Jalan Kartini, Kota Sanggau

0 62

 Masjid Al Ikhlas dan Kelenteng Tri Dharma di Jalan Kartini, Kota Sanggau

Keberadaan Masjid Al Ikhlas dan Kelenteng Tri Dharma di Jalan Kartini, Kota Sanggau menjadi simbol keharmonisan antarumat beragama. Dua tempat ibadah ini berdiri berdampingan. Namun, pengurus dan umat yang beribadah di sana tak pernah sekali pun berselisih.

Setelah perjalanan hampir dua jam dari Kota Ngabang Kabupaten Landak, akhirnya saya pun tiba di Kota Sanggau. Kota ini memegang peranan penting bagi perkembangan wilayah pedalaman Kalimantan Barat.

Di kota yang dijuluki Kota Dara Nante itu, saya berkesempatan mengujungi salah satu masjid yang menurut saya cukup unik, yakni masjid Al Ikhlas. Masjid ini terletak di Jalan Kartini, Kelurahan Ilir Kota, Kota Sanggau.

Masyarakat sekitar masjid ini menjulukinya Masjid Padang. Julukan itu tentu bukan tidak ada alasan. Ya, Masjid Al Ikhlas dibangun pertama kali pada 1980. Pembangunannya digagas seorang tokoh masyarakat Padang, Sumatera Barat yang menjadi pedagang di sekitar pasar tersebut. Ide ini muncul mengingat saat itu tidak ada tempat ibadah di lokasi pasar.

Untuk mengantisipasi Salat Jumat dan salat lima waktu, maka para pedagang di pasar sepakat mendirikan musala. “Dulunya masjid ini musala. Dibangun karena pada waktu itu di sekitar sini memang tidak ada masjid,” ujar Juprizal, Pengurus Masjid Al Ikhlas.

Hari demi hari, jumlah jemaah semakin ramai, sehingga dilakukanlah perluasan bangunan musala. Statusnya pun meningkat menjadi masjid. Namun sayang, pada 1997, di sekitar pasar terjadi peristiwa kebakaran. Masjid yang terletak tidak jauh dari lokasi kebakaran pun turut dimakan api dan tinggal puing.

Pascakebakaran, masjid tersebut kemudian dibangun kembali dengan dana swadaya masyarakat dan donasi dari beberapa pihak. “Alhamdulillah masjid bisa langsung dibangun kembali, seperti yang terlihat sekarang,” katanya.

Masjid Al Ikhlas memiliki interior yang terbuat dari bahan kayu. Di dalam masjid ini, ada empat pilar utama yang berukir khas Jepara. “Interior ini sebenarnya tidak ada makna khusus. Kami hanya mengambil keindahan seninya,” ujar Juprizal.

Masjid ini sangat unik karena letaknya berdempetan dengan kelenteng atau pekong. Di Kota Singkawang, memang terdapat dua tempat ibadah yang juga berdekatan, yakni Masjid Raya Singkawang dan Vihara Tri Dharma Bumi Raya di pusat kota. Namun, jaraknya sekitar 200 meter.

Di Sanggau ini, Masjid Al Ikhlas nyaris berdempetan dengan Pekong Tri Dharma. Jarak antara kedua tempat ibadah tersebut sangat dekat. Tidak lebih dari satu meter. Kendati demikian, tidak pernah terjadi perselisihan di antara masing-masing pengurus dan umat yang melaksanakan ibadah di sana. Hal ini karena keduanya saling menghormati dan menghargai satu sama lain.

“Dengan pekong ini, alhamudillah sejalan. Toleransi, saling menghargai dalam hal kegiatan keagamaan,” kata Juprizal. Ketika masjid mengadakan kegiatan di hari besar keagamaan, pengurus pekong akan menghormati dan saling menjaga. Demikian juga sebaliknya. Jika pekong mengadakan kegiatan keagamaan, umat Islam di sini pun saling menghormati. Saling menjaga keamanaan.

“Contohnya saat acara Imlek atau Cap Go Meh. Silakan mengadakan kegiatan, tapi jika tiba waktu ibadah, istirahat sejenak. Hingga saat ini tidak ada gesekan,” jelasnya.

Source https://www.pontianakpost.co.id https://www.pontianakpost.co.id/harmonis-meski-berdempetan
Comments
Loading...