Masjid Al-Baqiyatussholihat Cibarusah Bekasi

0 14

Masjid Al-Baqiyatussholihat

Di kawasan Cibogo, Cibarusah, Kabupaten Bekasi berdiri sebuah masjid di tengah pondok pesantren Al-Bagqiyatussholihat, sebuah masjid tua dengan nama yang sama dengan nama pondok pesantren tersebut, Masjid Al-Baqiyatussholihat. Masjid ini dibangun oleh KH. Raden Ma’mun Nawawi di tahun 1956. Pesantrennya sendiri sudah berdiri sejak tahun 1938, di masa penjajahan Belanda.

Pondok Pesantren Assalafiyyah Al-Baqiyatussholihat kini di asuh oleh KH. R. Jamaluddin Nawawi yang merupakan putra dari KH. Raden Ma’mun Nawawi, pendiri Ponpes dan Masjid Al-Baqiyatussholihat. Ponpes Al-Baqiyatussholihat, hingga kini masih setia dengan sistem pendidikan pesantren dengan mengkaji kitab kuning sebagaimana pesantren pesantren tradisional pulau Jawa lainnya. Nama KH. Raden Ma’mun Nawawi kini di abadikan sebagai nama jalan raya Cibarusah yang membentang di depan komplek Ponpes ini.

Masjid Al-Baqiyatussholihat dibangun pada pada tanggal 1 Agustus 1956 atau bertepatan dengan bulan Muharram 1376H oleh KH.R.Ma’mun Nawawi, seorang tokoh pejuang Bekasi yang selama revolusi kemerdekaan bahu membahu dengan KH. Noer Ali di Laskar Hisbullah menentang penjajahan Belanda. Cukup menarik menilik sejarah masjid ini dan sang pembangunnya. Gelar Raden pada nama KH. Raden Ma’mun Nawawi, merupakan gelar yang memang beliau peroleh dari garis keturunannya..

Beliau adalah putra dari KH. Raden Anwar, ulama Bekasi yang juga pernah menjadi murid KH. Hasyim Asy’ari. Dalam wawancara dengan Hidayatullah edisi 113, KH.R. Jamaluddin yang merupakan putra dari KH.R.Ma’mun Nawawi menjelaskan bahwa beliau (KH.R. Jamaluddin ) adalah keturunan ke 11 dari Maulana Hasanudin (Sultan Banten Pertama) dan keturunan ke 24 dari Rosulullah.

Dalam sejarah Masjid Jami Al-Mujahidin Cibarusah disebutkan bahwa : kawasan Cibarusah pertama kali dibuka dan dibangun oleh Pangeran Senapati, salah satu putra dari Pangeran Jayakarta yang diperintahkan oleh Pangeran Jayakarta untuk menyingkir dari Jayakarta paska kekalahan pasukan kesultanan terhadap pasukan Belanda. Pangeran Jayakarta sengaja meminta putranya menyingkir sejauh mungkin dari pusat kota untuk menghindari penangkapan oleh pasukan belanda dan untuk menyebar luaskan agama Islam.

Pangeran Jayakarta adalah putra dari Pangeran Ra(Tu) Bagus Angke. Tubagus Angke sendiri adalah menantu dari Sultan Maulana Hasanudin (Pangeran Sabakingking) – Sultan pertama di Kesultanan Banten. Konon di tahun 1619M Pangeran Jayakarta memerintahkan putranya, Pangeran Senapati menyelamatkan diri dari kepungan Belanda, paska kekalahan Sunda Kelapa dalam perang melawan Belanda di bulan April-Mei 1619M, sekaligus membangun pertahanan di kawasan pesisir dan pedalaman.

Perjalanan panjang Pangeran Senapati bersama pasukannya menyusuri pantai utara Jawa, melewati daerah Cabang Bungin, Batujaya, Pebayuran, Rengas Bandung, Lemah Abang, Pasir Konci hingga sampai di sebuah kawasan hutan jati, yang kini dikenal sebagai kecamatan Cibarusah di Kabupaten Bekasi. Keturunan pangeran Senapati dan bangsawan yang pergi bersamanya itu tetap menggunakan gelar kebangsawanan hingga kini.

Source https://bujanglanang.blogspot.com https://bujanglanang.blogspot.com/search?q=masjid+bogor&updated-max=2012-05-06T04:58:00-07:00&max-results=20&start=24&by-date=false
Comments
Loading...