Masjid Agung Sewulan

0 103

Masjid Agung Sewulan

Pembangunan Masjid Agung Sewulan di kerjakan langsung oleh beliau Kyai Ageng Basyariyah dan menantu beliau, (R. Mas Muh Santri / Tumenggung Alap-Alap Kuncen, Caruban, Madiun) sebelum membangun Masjid tersebut Kyai Ageng Basyariyah menghendaki posisi bangunan Masjid agak ke selatan dari posisi pengimaman dengan harapan semua anak cucunya kelak menjadi orang ‘Alim dan Sholeh, sedang menantunya (R. Mas Muh Santri) menghendaki letak pengimaman di sebelah utara dengan harapan agar semua anak cucunya kelak menjadi orang yang terhormat atau seorang Umaro’, akhir kesepakatan adalah pengimaman Masjid di letakkan tepat berada di tengah seperti yang ada seperti sekarang ini dengan harapan anak cucunya kelak selain menjadi orang yang terhormat atau seorang priyayi juga menjadi seorang Ulama’.

Bangunan Masjid dengan pondasi dan tembok dari bata merah yang berukuran ± 20 cm X 40 cm yang di pasang dengan adonan tanah liat dan badeg tebu agar bangunan tersebut kuat dan tidak mudah retak. Sedang atap masjid terbuat dari kayu yang di bentuk Sirap, pada tahun 1922 atap masjid yang berupa sirap diganti dengan genting yang terbuat dari tanah liat di karenakan sudah banyak sirap yang lapuk karena di makan usia, tahun 1924 lantai masjid di renofasi dengan tegel, di tahun 1986 genting masjid di ganti lagi dengan genting baru yang lebih berkualitas.

Kolam yang berukuran 4 x 5 meter itu sendiri sekarang jarang digunakan. Maklum masyarakat biasanya lebih memilih berwudu di tempat yang sudah disediakan. Tapi sebagian warga pendatang masih percaya bahwa air dalam kolam itu bisa mempercepat balita untuk bisa berjalan. Biasanya setelah mandi di kolam itu, beberapa bulan selanjutnya bisa berjalan

Banyaknya ukiran kaligrafi disetiap sudut membuat nuansa Islam semakin kental. Apalagi mimbar (tempat untuk kutbah) yang ada sekarang juga merupakan warisan sejak berdirinya masjid tersebut. Meskipun demikian mimbar itu masih terlihat cukup elegan.

Sewulan sendiri berasal dari kata sewu (seribu) dan wuwul (ukuran luas sama dengan hektar) jadi sewu wuwul adalah 1.000 ha. Dari nama tersebut dapat diartikan bahwa Desa Sewulan adalah tanah hadiah yang luasnya 1000 ha. Oleh Raja yang berkuasa pada waktu itu. Ada juga berdasarkan cerita tutur berasal dari seribu bulan (Sewu Wulan) karena bertepatan dengan bulan ramadhan disaat Laillatul Qodar

Berdasarkan cerita rakyat sewulan, pendiri Desa Sewulan adalah Bagus Harun, seorang santri dari Tegalsari Ponorogo. Pada masa pemerintah Kasunanan Paku Buwono II di Kartasura, terjadi pemberontakan orang-orang Tionghoa terhadap kekuasaan Kompeni Belanda di bawah pimpinan Tai Wan Sui. Pada tahu 1741 terjadi peperangan hebat di Kartasura. Susuhunan Paku Buwono II meminta bantuan kepada Kyai Hasan Besari di Tegalsari, tetapi oleh Kyai besari hanya di kirim seorang santrinya bernama Bagus Harun. Bagus Harun dapat memenangkan pertempuran di Kartasura, kemudian Bagus Harun di beri hadiah tanah yang dipilihnya sendiri seluas 1000 wuwul / ha. Maka sejak tahun 1742 Desa Sewulan mendapatkan kemerdekaan penuh dan secara turun temurun dipimpin oleh seorang Kyai keturunan Bagus Harun atau yang terkenal dengan Kyai Ageng Basyariah.

Makam Kyai Ageng Basyariyah berada di kompleks makam Sewulan di belakang Masjid Agung Sewulan, tepatnya di cungkup utama. Di cungkup utama tersebut, makam Kiai Ageng Basyariyah diapit oleh putrinya (Nyai Muhammad Santri) dan menantunya (Kiai Muhammad Santri). Ketiga makam tersebut di naungi kain berwarna hijau. Tepat di depan makam Kiai Ageng Basyariyah terdapat songsong tiga tingkat berwarna hijau ( Songsong Tunggul Nogo). Songsong ini dihias dengan sepasang naga di bawahnya dan difungsikan sebagai rak sederhana untuk tempat Al Quran dan surat yasin.

Source http://satriotomo-gombal.blogspot.com http://satriotomo-gombal.blogspot.com/2010/07/sejarah-tanah-perdikan-sewulan.html
Comments
Loading...