Masjid Agung Payaman

0 136

Masjid Agung Payaman

Kalau ada masjid di suatu daerah yang ratusan jamaahnya 24 jam nonstop selalu siap menunggu imam, barangkali hanya ada di Masjid Agung Payaman, Kecamatan Secang, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah.

Masjid Agung yang berlokasi di pinggiran Jalan Raya Secang, Magelang ini tidak memiliki nama khusus. Sehingga sampai kini pun, meski masjid ini cukup terkenal di Jawa Tengah, kita tidak menemukan papan nama di depan bangunannya seperti halnya masjid-masjid atau bangunan yang lain.

“Entah sejak kapan dan siapa yang pertama kali menyebut masjid ini sebagai Masjid Agung. Hanya saja yang kami tahu dari orang-orang tua dulu, di daerah Magelang ini dulunya hanya ada dua kiai yang cukup kesohor, yaitu Kiai Haji Syirod dan Kiai Haji Dahlar. Kiai Syirod adalah orang yang memangku (mengurus) masjid ini. Sedangkan, Kiai Dahlar adalah kakek Mbah Mad Watucongol Magelang yang terkenal itu,” jelas H. Mudris (53 tahun), takmir Masjid Agung Payaman.

Sejak kapan masjid ini didirikan, tidak ada catatan yang dapat dijadikan acuan faktual. “Hanya, menurut cerita turun-temurun, masjid ini pertama kali dipugar oleh Kiai Ibrahim. Sehingga dialah yang di¬anggap sebagai pendiri masjid ini,” tambahnya.

Di zaman sekarang ini, yang namanya pengajian umum di masjid, musholah atau bahkan di lapangan yang disampaikan dalam bentuk – :amah, sudah memasyarakat sampai ke pelosok dusun. Tetapi konon, : a ia masa penjajahan, yang namanya pengajian umum adalah kegiatan i r.gka dan tentu prestasi tersendiri. Konon, di masjid inilah pada iahunl930-an pengajian umum atau yang disebut majelis taklim per- ;jia kali diselenggarakan.

“Hal itu dapat terselenggara berkat hubungan yang erat antara Kiai – :rod dan Kanjeng Bupati Magelang saat itu, R. Danuningrat,” ungkap iciah seorang sesepuh masyarakat setempat.

Malah dahulu ketika usai Clash E, penyerahan tentara sekutu dari : aerah Kedu ke wilayah Semarang dilakukan di halaman masjid ini. Dan, di masa revolusi fisik Laskar Hizbullah juga selalu singgah di ~3sjid ini untuk meminta doa restu kepada Kiai Syirod. “Entah benar ? tau tidak, bambu runcing yang dibuat oleh Mbah Kiai Subki Parakan ang sangat terkenal itu, konon asal mulanya dari sini,” tambah H. Mudris lagi.

Seperti dituturkan sesepuh desa, pada masa Clash H, masjid ini sering menjadi tempat transit Laskar Hizbullah. Konon, Panglima Besar Jenderal Soedirman juga pernah transit di masjid ini ketika akan merebut
kota Ambarawa. “Masjid ini juga sering didatangi pejabat negara untuk bermujahadah atau bertukar pikiran mengenai masalah-masalah ke¬negaraan. Yang pernah ke sini antara lain K.H. Idham Chalid, Mr. Ali Sastroamijoyo, dan Mr. Wongsonegoro. Itu yang saya ingat/’ ujar H. Mudris lagi.

Yang paling istimewa dari keberadaan masjid ini adalah jamaahnya yang tidak pernah sepi selama 24 jam. Sebab, setiap saat sekitar seratus jemaah yang berasal dari berbagai daerah terutama Jawa Tengah, umumnya kaum bapak dan ibu yang usianya 50-an tahun ke atas, sengaja tinggal di sekitar masjid untuk mengikuti shalat berjamaah selama 40 hari. Untuk menampung mereka, masyarakat setempat membuatkan semacam asrama berlantai dua. Di sebelah halaman masjid untuk kaum ibu, dan di bawah lantai ruang masjid untuk kaum bapak. Sedangkan, sisanya yang tidak tertampung, tinggal menumpang di rumah-rumah penduduk.

Bahkan, menurut warga setempat, setelah nazar mereka untuk Shalat berjamaah selama 40 hari di Masjid Agung Payaman telah selesai, ada beberapa orang yang tidak ikut pulang dan memilih tinggal menetap sampai meninggal dunia di Kampung Kauman Payaman itu.

“Tetapi, mulai beberapa tahun belakangan ini kami tertibkan secara administrasi. Jadi, kalau ada yang ingin mondok sementara di sini harus ada yang mengantar dan bertanggung jawab, termasuk melapor kepada Ketua RT. Sehingga, kalau yang bersangkutan sakit, kami dapat segera menghubungi keluarganya,” jelas Ketua RT setempat.

Sambil menunggu waktu shalat tiba, mereka yang bernazar atau berkeinginan berjamaah selama 40 hari itu mengaji Al-Qur’an di ruangan masjid. Mereka hanya shalat dan mengaji saja. Sedangkan, untuk kebutuhan sehari-hari, ada yang membeli di warung-warung makan sekitar masjid, ada piala yang dikirimi keluarganya, dan ada pula yang membayar uang makan bulanan kepada warga setempat seperti lazimnya anak kos.

Untuk hari-hari biasa, mereka yang tinggal sementara di masjid itu ada sekitar seratus orang. Tetapi, kalau bulan Ramadhan bisa mencapai 300-an orang.

Ruang utama Masjid Agung Payaman berukuran 10 x 10 m. Masjid ini juga memiliki serambi kanan dan kiri, sedangkan serambi depan yang diberi kubah pada bangunannya itu berukuran 14 x 10 m.

Masjid Agung Payaman pertama kali direnovasi oleh Bupati Magelang, R. Danuningrat, pada tahun 1930-an dan yang kedua direnovasi oleh masyarakat tahun 1974. Beberapa tahun yang lalu diperbaiki lagi di sana-sini. Seperti halnya masjid-masjid bersejarah lainnya, masjid ini juga sarat dengan berbagai kegiatan syiar islam.

Source http://duniamasjid.islamic-center.or.id http://duniamasjid.islamic-center.or.id/1217/masjid-agung-payaman/
Comments
Loading...