Masjid Agung Bente

0 132

Masjid Agung Bente

Adalah merupakan sebuah peninggalan dan salah satu fakta sejarah masa lampau yang memiliki keunikan tersendiri. Berada ditengah-tengah Benteng Tua seluas tujuh hektar di atas bukit Desa Ollo. Masjid Agung Bente didirikan kurang lebih pada tahun 1401, oleh seorang haji yang bernama H. Pada merupakan pesiar yang terdampar di Kaledupa karena pada zaman dulu terdapat beberapa pesohor dari Nusa Tenggara Timur yang dua perahu terdampar di Buton dan Kaledupa. H. Pada yang menurut cerita adalah haji yang sembahyang di atas pada (alang-alang) dan sebagaian juaga menafsirkan bahwa H. Pada adalah Haji yang berasal dari Padang.

Pada saat mendirikan Mesjid ada seorang gadis yang berpakaian adat (anak tunggal yang perawan ) dikubur hidup-hidup ditengah mesjid menjadi simbol pusat dari masjid. Masjid Agung Bente telah mengalami renovasi. Bentuk awal dari masjid tersebut beratap alang-alang dan mempunyai satu tiang penyangga. Namun setelah terjadi kebakaran atap masjid diganti atap seng dan tiang penyangga tengahnya empat tiang. Stukur dinding masjid terbuat dari campuran batu dan kapur. Pemugaran perrtama pemugaran pondasi pada tahun 80-an, sedangakan pemugaran lantai dilakukan pada tahun 1995.

Jumlah ruas kayu yang ada dalam masjid menggambarkan jumlah tulang yang ada pada manusia. Pintu masuk : tangga Masjid Agung Bente menggambarkan dua kaki manusia sedangkan di depan pintu masuk masjid terdapat beberapa batu yang diletakan sebagai lantai masjid, menggambarkan organ dalam manusia, seperti hati, paru-paru, limpa dan lain-lain. Dibagian depan teras masjid trdapat dua goje-goje (serambi/saung) yaitu tempat bermusyawarah “sarah” dari dua Limbo yaitu sebelah selatan tembat duduknya sarah dari Umbosa dan sebelah timur tempat duduknya sarah dari Slova.

Dikedua pinggir tangga masjid terdapat dua buah guci tua tempat mengambil air wudhu. Dulu, kerajaan kaledupa terdiri dari sembilan Limbo, menggambarkan sembilan lubang yang terdapat pada tubuh manusia. terbagi atas lima Limbo dalam benteng dan empat Limbo di luar benteng. Masjid Agung Bente mempunyai dua khotib Umbosa, Siopa dan satu imam. Pembacaan khotbah sama denganpelaksanaan pembacaan khotbah di Masjid Keraton Buton, yaitu pengkhotbahnya memakai jubah dan tongkat serta naskah khotbah digulung. Tiap khotbah kedua menerangkan keadaan kesultaan Buton. Masjid Agung Bente memiliki ukuran panjang pondasi seluruhnya 20 m, lebar pondasi 17,80 m, tinggi pondasi 2 m, panjang bangunan masjid 13,40 m, Lebar bangunan Masjid 13,20 m, dan tinggi bangunan 2 m.

Source http://darismayanti.blogspot.com http://darismayanti.blogspot.com/2014/09/wisata-sejarah-wakatobi.html
Comments
Loading...