Makam Wali Gurunya Para Wali di Kebumen

0 128

Makam Wali Gurunya Para Wali

Syekh Mubin memiliki nama asli Syekh Muhammad Najmuddin ‘Ali Mubin. Ia adalah seorang buyut dari wali sekaligus ulama sejagat raya yang sering dikirim do’a oleh kaum muslimin ketika bertawassul yakni Syekh Abdul Qadir Al-Jailani. Sykeh Mubin biasa di khaul-kan setiap bulan Rawah Minggu pertama (tepatnya tanggal 1 rawah). Namun, karena tanggal 1 rawah tidak pasti harinya bertepatan, maka untuk memudahkannya adalah dengan menetapkan khaul Syekh Mubin setiap Minggu pertama pada bulan Rawah. Kalau pembaca ada waktu, silakanlah untuk mengikuti khaul Syekh Mubin pada tanggal dan waktu tersebut.

Sebagaimana orang-orang pada umumnya, untuk meyakinkan bahwa beliau (baca: Syekh Mubin) merupakan seorang wali yang mempunyai nasab baik pastinya mempunyai nasab atupun silsilah yang baik pula. Sudah dikatakan diatas, bahwa Syekh Mubin masih keturunan dari Syekh Abdul Qadir Al-Jailani. Urutan silsilahnya adalah Syekh Mubin bi Syekh Musan bin Syekh Wahab bin Syekh Abdul Qadir al-Jailani. Itu berarti secara tidak langsung Syekh Mubin juga keturunan dari Baginda Rasulullah Muhammad SAW. Sebab Syekh Abdul Qadir Al-Jailani juga masih keturunan Nabi Muhammad SAW.

Syekh Mubin atau yang masyarakat sekitar lebih mengenalnya dengan Mbah Mubin adalah seorang ulama yang berasal dari Gujarat, India. Ia dikirim oleh sang guru untuk ditugaskan berdakwah (menyebarkan ajaran agama Islam) ke tanah Jawa tepatnya diantara sungai Progo, Kulon Progo dengan sungai Serayu, Cilacap. Sekitar tahun 1646M Syekh Mubin menyebarkan dakwah islamiyahnya di tanah Kebumen ini, khususnya dibagian pesisir pantai selatan Desa Ayam Putih, Buluspesantren.

Berdasarkan data yang penulis peroleh dari hasil wawancara dengan juru kunci sekaligus masih keturunan Syekh Mubin yakni Susdarto Saeful Wahid (43), bahwa Syekh Mubin merupakan guru dari para wali di tanah Jawa termasuk Wali Songo. Sebagaimana para guru pada umumnya, ia juga mempunyai satu murid yang sangat disayangi yaitu Sultan Hanyokro Kusumo (anak pertama dari Amangkurat I (Raja Mataram Islam ke-III). Mataram pada saat itu merupakan Kerajaan yang pro dengan VOC dan Sultan Hanyokro Kusumo tidak setuju dengan pertalian yang dilakukan pihak Kerajaan dengan VOC (Belanda) tersebut.

Karena, jika hal itu terus berlangsung maka secara tersirat rakyat pun akan selalu menderita. Dalam arti untuk mencari pangan dan pakan pun akan susah, sebab perekonomian pribumi diusung habis oleh Belanda. Oleh sebab itu, Sultan Hanyokro Kusumo menentang pertalian ayahandanya yang notabene orang nomor satu di Kerajaan Mataram Islam. Ia lari dari lingkungan Kerajaan kemudian sampailah di sebuah daerah pesisir selatan (Buluspesantren, Kebumen) hingga bertemu Syekh Mubin sekaligus mengabdi (berguru) kepadanya.

Di kawasan makam Syekh Mubin juga terdapat situs peninggalan berbentuk kayu dari jenis kayu laban. Konon, kayu ini dulu sebagai tempat bertapa salah satu dari sekian banyak murid Syekh Mubin yaitu Sultan Hanyokro Kusumo. Oleh karenanya, kayu ini pun dipercaya memiliki kekuatan yang tidak sembarangan. Menurut Suswanto (43) dan berdasarkan cerita fakta rakyat sekitar makam, kayu ini tidak mempan dipotong. Setiap akan memotongnya, setiap akan menghancurkannya dengan wadung (baca: kampak) ataupun dengan alat pemotong kayu lainnya, kayu ini berpindah tepat dengan sendirinya.

Bahkan kampaknya pun akan hilang sendiri dengan sekejap ketika akan memotongnya, tak tahu kemana. Kayu laban memang pada dasarnya terkenal sebagai jenis kayu yang keras.

Lokasi pemakaman ini berjarak sekitar 1,5 kilometer dari jembatan Desa Pandan Lor, Klirong (Jl. Dendels, Jalur Selatan Kebumen-Yogyakarta) tak disangka terdapat situs Islam yang bersejarah. Tepatnya di Desa Ayam Putih, Kecamatan Buluspesantren, Kabupaten Kebumen. Disana sudah berdiri tegak sebuah lokasi bangunan yang diberi nama “Makam Waliyulloh Syekh Mubin”.

Source http://www.laduni.id http://www.laduni.id/post/read/39661/ziarah-makam-wali-gurunya-para-wali-di-kebumen.html
Comments
Loading...