Makam Tuanku Imam Bonjol Sulawesi Utara

0 69

Makam Tuanku Imam Bonjol

Makan Tuanku Imam Bonjol, yang bernama asli Muhammad Shahab, berada di Jalan Pineleng-Kali, Desa Lotta, Kecamatan Pineleng, Kabupaten Minahasa, Sulawesi Utara. Muhammad Shahab lahir di Bonjol pada 1772. Ayahnya bernama Bayanuddin dan ibunya bernama Hamatun.

Makam ini adalah satu-satunya bangunan berbentuk rumah adat Minangkabau di Minahasa. Berukuran 15 meter x 7 meter. Di Batu nisannya tertulis:

Peto Syarif Ibnu Pandito Bayanuddin bergelar Tuanku Imam Bonjol Pahlawan Nasional. Lahir tahun 1774 di Tanjung Bungo/Bonjol Sumatera Barat, wafat tanggal 6 November 1854 di Lota Minahasa, dalam pengasingan pemerintah kolonial Belanda karena berperang menentang penjajahan untuk kemerdekaan tanah air, bangsa dan negara”.

Perbedaan pandangan antara kaum Padri dengan kaum Adat

Kehadiran Tuanku Imam Bonjol ke daerah Minahasa tidak terlepas dari Perang Padri yang terjadi di Sumatera Barat (1821-1837). Perang Padri sendiri terjadi karena adanya perbedaan pandangan antara kaum Padri dengan kaum Adat. Perang terjadi dalam tiga masa. Pertama tahun 1821-1825 ditandai dengan meluasnya perlawanan Padri di seluruh Minangkabau. Kedua, 1825-1830 adalah masa dimana pertempuran mulai mereda karena Belanda mengadakan perjanjian-perjanjian dengan kaum Padri. Kaum Adat yang mulai terdesak saat itu meminta bantuan kepada Belanda melawan Kaum Padri. Masa ketiga, 1830-1838 adalah masa dimana perlawanan kaum Padri kepada Belanda kembali meningkat. Belanda kemudian melakukan penyerbuan besar-besaran.

Salah satu tempat yang diserbu Belanda adalah Benteng Bonjol. Dalam benteng tersebut, terdapat salah satu pemimpin kaum Padri, yaitu Tuanku Imam Bonjol. Menghadapi pasukan yang jumlahnya lebih banyak dan dengan persenjataan yang lebih lengkap, pasukan Tuanku Imam Bonjol akhirnya menyerah pada 25 Oktober 1837. Setelah ditangkap, Tuanku Imam Bonjol kemudian diasingkan ke Cianjur. Tak lama di Cianjur, kemudian dipindahkan ke Ambon pada 1839.

Dua tahun di Ambon, Tuanku Imam Bonjol dipindahkan ke Minahasa hingga meninggal. Tuanku Imam Bonjol diangkat sebagai Pahlawan Nasional Indonesia berdasarkan SK Presiden RI Nomor 087/TK/Tahun 1973, tanggal 6 November 1973. Kondisi Makam masih terawat dan terjaga. Makamnya kini dijaga oleh keturunan pengawal setia Imam Bonjol bernama Apolos Minggu. Kini di kompleks sekitar makam Tuanku Imam Bonjol, terdapat sedikitnya 20 kepala keluarga. Merekalah yang setiap hari mengurus keberadaan makam Imam Bonjol.

Source https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/ditpcbm/ https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/ditpcbm/makam-tuanku-imam-bonjol-dan-makam-kyai-mojo-menjadi-cagar-budaya-nasional/
Comments
Loading...