Makam Syekh Yusuf di Kobbang Makassar

0 51

Makam Syekh Yusuf

Terletak di jalan yang berbatasan dengan antara kabupaten Gowa dan kota Makassar, tepatnya di jalan Syekh Yusuf, terletak makam ini. Gerbang kota Sungguminasa terlihat dari sini. Di Timur kota Makassar, makam ini berhampiran dengan masjid yang juga dinamai Masjid Syekh Yusuf. Biasa juga kawasan ini disebut dengan Kobbang. Dalam keterangan penjaga makam yang akrab dipanggil Daeng Liong, penyebutan Kobbang sebenarnya berasal dari kata kubah. Karena pengaruh bahasa Makassar maka berubah menjadi pelafalan Kobbang atau Ko’bang.

Peziarah kerap datang dengan semangat yang beragam. Menjadi pemandangan yang lazim jika menyaksikan diantara para pengunjung adalah anak kecil bahkan bayi, orang sakit bahkan dengan kondisi lumpuh, orang tua. Di sisi depan jalan sudah tersedia perlengkapan untuk berkunjung. Bunga pandan dan air yang biasa digunakan orang-orang Sulawesi Selatan untuk nyekar tersedia lengkap. Maka bagi peziarah yang menggunakan kelengkapan itu, tidak perlu mempersiapkan sendiri, cukup membelinya di sekitaran makam. Bahkan juga tersedia minyak goreng yang disiapkan dalam botol bekas salah satu merek minyak gosok.

Minyak ini biasanya digunakan untuk melumuri nisan utama. Dalam kepercayaan penjaga kunci, nisan utama terbuat dari endapan sungai Nil, Mesir. Tidak ada pembayaran apapun ketika berkunjung ke makam. Kalaupun ada pemberian atau sedekah yang diberikan kepada petugas atau pembaca doa, maka urusan jumlah diserahkan kepada masing-masing pengunjung. Makam ini menjadi daya dukung perekonomian masyarakat sekitar masjid. Tumbuh di sisi jalan toko penjual minuman dan makanan. Penyedia jasa bunga dan air putih, juga minyak. Begitupula para penjual kambing dan ayam kampung. Sekecil apapun jumlanhnya dengan keberadaan makam ini menjadi penggerak ekonomi.

Syekh Yusuf salah satu ulama besar di zaman kolonial. Bahkan karena ketakutan penjajah akan pengaruhnya, maka Syekh Yusuf dibuang ke Faure, Cape Town, Afrika Selatan. Di saat kekalahan kerajaan Gowa, Syekh Yusuf memilih pindah ke Banten. Di wilayah Sultan Ageng bersama dengan 400 orang pendukungnya mereka membantu perjuangan kerajaan Banten melawan Belanda. Ketika Sultan Ageng dikalahkan Belanda, Syekh Yusuf ditangkap kemudian diasingkan ke Sri Lanka. Di sana, beliau tetap aktif menyebarkan Islam dan mengajar murid-muridnya. Kekhawatiran Belanda masih saja terjadi karena mengetahui adanya kontak Syekh Yusuf dengan murid-muridnya di Nusantara. Kembali Belanda mengasingkan ke tempat yang lebih jauh yaitu Afrika Selatan. Ketika jenazah dibawah pulang ke Lakiung, Gowa muncullah kepercayaan kalau makam Syekh Yusuf terdapat di lima tempat yaitu di Sri Lanka, Banten, Sumenep, Makassar dan Afrika. Di setiap tempat itulah persinggahan jenazah mayat Syekh Yusuf ketika dipulangkan ke tanah Makassar. Prakarsa ini muncul dari I Mappadulung Daeng Muttiang, Raja Gowa ke-19 yang khusus meminta kesediaan VOC agar memulangkan jenazah Syekh Yusuf. Kemudian murid-muridnya yang senantiasa ingin mengambil inspirasi dari ilmu yang diajarkan masing-masing membuat makam di tiga tempat yang disinggahi jasad ulama yang diberi gelar Tuanta Salamaka yang berarti “orang yang memperoleh keberkahan dari Allah”. Tepat 6 April 1705, di Lakiung, Gowa, keranda mayat Syekh Yusuf kembali dimakamkan dan bertahan sampai hari ini.

Para pengunjung tidak saja datang ketika hari raya, terutama di hari raya idul adha tetapi sepanjang hari selalu saja dipenuhi para peziarah. Untuk menentukan waktu yang sepi berkunjung, maka amat susah menebak kapan itu. Berbagai hal menjadi pendorong semangat untuk berkunjung. Ada yang merayakan kesyukuran adapula sekedar untuk mendapatkan semangat, begitu pula ada yang berbagi kebahagiaan. Maka biasa kita saksikan ada peziarah yang melepaskan ayam atau kambing. Dalam kepercayaan para peziarah itu, “sebagai tanda kesyukuran atas anugrah Allah”. “Bukan kepada Syekh Yusuf, tetapi ini adalah tempat yang pas untuk memanjatkan kesyukuran itu”, tandas seorang pengunjung. Kadang ada juga yang menghamburkan uang logam, maka atraksi ini senantiasa menjadi saat yang dinantikan warga sekitar atau bahkan sesama pengunjung. Mereka akan berlomba memperebutkan saweran pengunjung lain. Maka, suasana akan berubah yang tadinya khusyuk dan hening menjadi riuh dan ribut.

Syekh Yusuf adalah ulama bahkan disebut wali. Dengan kemahsyurannya bahkan beliau kerap dianggap sebagai tokoh internasional. Oleh para pengikutnya diberi gelar dengan nama lengkap Tuanta’ Salama’ ri Gowa Syekh Yusuf Abul Mahasin Al-Taj Al-Khalwati Al-Makassari Al-Banteni. Sementara Sultan Alauddin memberinya nama dengan julukan Syech Yusuf Tajul Khalwati. Sampai sekarang tarekat Khalwatiyah tetap menjadi salah satu aliran yang ditekuni di Sulawesi Selatan. Sementara ada tiga aliran dalam tarekat yang mengakui Syekh Yusuf sebagai guru mereka yaitu Tarekat Qadiniyyah, Shattariyyah, dan Rifaiyyah.Dalam konteks kenegaraan, Indonesia dan Afrika Selatan memberikan anugerah sebagai pahlawan nasional. Ini menjadi bukti penghargaan negara atas jasa-jasa kepahlawanannya memperjuangkan kemerdekaan bagi banyak orang. Nelson Mandella dalam acara pemberian Doktor Honoric Causa di Universitas Hasanuddin menyebutnya sebagai salah satu Putra Terbaik Afrika Selatan.

Walaupun bukan menjadi kewajiban, bahkan kontroversial, berkunjung ke makam Syekh Yusuf merupakan sesuatu yang afdhal (utama) dilakukan bagi masyarakat Sulawesi Selatan. Terutama yang menganut faham khalwatiyah. Seiring dengan meningkatnya pemahaman keagamaan, maka tindakan “aneh” seperti menangis atau meminta-minta di kuburan semakin berkurang dari waktu ke waktu.

Makam terletak persis di samping masjid. Ada lorong yang menghubungkan antara masjid dengan makam. Di kompleks ini tidak saja makam Syekh Yusuf tetapi juga ada makam para pengikutnya. Juga terdapat sembilan makam lainnya. Tepat di sisi kiri dekat pintu masuk, terbaring jazad I Sitti Daeng Nisanga, istri beliau yang menemani di kawasan ini. Kemudian makam Karaengta Panaikang, istri I Mappadulung Daeng Muttiang bersebelahan dengan makam suami. Terdapat empat kubah di kawasan ini, kubah yang terbesar dibuat khusus untuk makam Syekh Yusuf.

Makam ini sesungguhnya menjadi tempat untuk mengingat mati. Kata Daeng Sinnong pengunjung yang berasal dar Gowa “Allah yang menjadi sandaran untuk meminta”. “Adapun makam Syekh Yusuf hanya sebagai pendorong semangat agar senantiasa mengingat kematian”. Apapun motifnya, dengan alasan apapun berkunjung ke sini, maka menjadi penting untuk melihat bahwa ketika kematian datang menjemput nama besar akan tetap dikenang kecuali dengan karya.

Source https://www.kompasiana.co https://www.kompasiana.com/iswekke/55187098a33311af07b66522/makam-syekh-yusuf-di-kobbang-makassar
Comments
Loading...