Makam Puatta Punri Mojong

0 123

Makam Puatta Punri Mojong

Makam Puatta Punri Mojong berbentuk persegi empat dengan ukuran nisan yaitu panjang 120 cm, lebar 60 cm, tinggi 40 cm, luas situs kurang lebih 24 m2 . Makam tua tersebut memiliki tiga buah batu nisan yaitu satu batu nisan sebuah batu kali ini masih batu nisan asli dan dua batu nisan baru berbentuk gada. Di samping makam tersebut terdapat lima makam yang antara lain adalah istri serta anak beliau. Bentuk batu nisan Puatta Punri Mojong yang aslinya mewakili masa gaya pra islam Orientasi makam menghadap utara selatan.

Makam tersebuat dari bahan dasar batu kali, andesit dan cadas, struktur makam tersebut terletak di desa mojong dengan titik koordinat S 03, 53 838″, E 120, 00, 515 “, berada diketinggian 41 mpdl. Kondisi makam dalam kondisi baik dan warna dasar makam tersebut adalah hitam, abu-abu dan putih perak.

Puatta Punri Mojong adalah nama gelar yang dinamai oleh masyarakat di Mojong dan sekitarnya, menurut cerita dari ahli waris keturunan tokoh tersebut yang bernama Wa Onding,nama asli dari Puatta punri Mojong adalah “La Paninni” dan konon kabarnya, percaya atau tidak Puatta punri Mojong berasal dari ” Turi Salo ” atau dalam bahasa Indonesia adalah Buaya jadi-jadian yang berubah menjadi manusia kemudian dikultuskan sebagai manusia yang luar biasa dan istimewa dari manusia biasa. Turi Salo tersebut awalnya dari Danau Sidenreng sebagai penghuni dunia air dan kemudian pindah ke dunia darat di alam dunia manusia, begitulah mitos yang berkembang didalam masyarakat.

Semasa hidupnya La Paninni dianggap sankral dan suci karena beliau dapat menguasai 2 dunia yaitu dunia air dan dunia darat oleh masyarakat yang berdiam diwilayah tersebut, kejadian ini diperkirakan sekitar lima ratus tahun yang lalu atau memasuki abad ke-16 M karena belum ada sumber yang jelas yang menjelaskan tokoh tersebut. Beliau semasa hidupnya diangkat sebagai pemimpin, pemangku adat sekaligus tokoh siritual atau kepercayaan yang berkembang pada masa itu. Beliau juga di anggap sebagai penghuni pertama di daerah

Mojong, ini juga dapat dikatakan sebagai sebuah legenda disekitar danau Sidenreng. Setiap tahunnya di tempat tersebut para Pa’ galung ( petani ) dan Pakkaja ( Nelayan ) yang bermukim ditempat itu sebelum turun sawah dan menangkap ikan di danau Sidenreng terlebih dahulu mengadakan rapat tudang sipulung di makam tersebut yang sudah menjadi tradisi masyarakat dan setiap tahunnya juga diadakan acara “Accera Tappareng”, yaitu tradisi syukuran pada danau Sidenreng akan hasil bumi dan air secara adat. Pendataan ini dilaksanakan pada tanggal 14 februari 2017.

Source http://cagar-budaya-sidrap.blogspot.com/ http://cagar-budaya-sidrap.blogspot.com/
Comments
Loading...