Makam Mbah Lowo Ijo

0 47

Makam Mbah Lowo Ijo

Di sebelah barat Kota Bangil terdapat sebuah makam tua yang masih terawat sampai saat ini, makam ini dikenal dengan makam Lowo Ijo. Lowo Ijo adalah istilah jawa yang dalam bahasa Indonesia artinya kalalawar Hijau, Lowo Ijo adalah nama julukan dari seorang Kyai yang bernama Abdul Qodir.

Abdul Qodir zaman dahulu adalah salah seorang yang berjuang melawan penjajah belanda, beliau masih merupakan keturunan dari Mataram, menurut silsilah dari keluarganya, beliau adalah cucu buyut dari Mas Karebet atau yang di kenal sebagai Joko Tingkir yang menjadi Sultan Kerajaan Pajang bergelar Adiwijaya. Kalau diurutkan lagi lebih keatas Joko tingkir masih keturunan dari Raden Patah yaitu Sultan pertama dari Kesultanan Demak.

Karena kegigihan Abdul Qodir melawan penjajah Belanda, Beliau menjadi incaran untuk dibunuh dan ketika terdesak beliau melarikan diri ke Bangil, di Bangil beliau memdirikan sebuah pondok pesantren yang saat ini dikenal dengan Pondok Pesantren Canga’an, disana beliau mengajarkan ilmu ketauhitan.

Untuk melindungi Abdul Qodir dari kejaran Penjajah Belanda, penduduk sekitar kemudian mengganti namanya menjadi Jalaludin atau Jaelani, yang kemudian menjadi namanya sehari-hari. Pada suatu ketika pengejaran penjajah Belanda telah sampai ke Kota Bangil, tapi masih belum bisa mendapatkan Abdul Qodir.

Diceritakan dari juru kunci makam Mbah Lowo Ijo, karena untuk bersembunyi dari kejaran penjajah Belanda Abdul Qodir ketika melaksanakan Sholat beliau berada di bawah daun pohon pisang dengan posisi terbalik maka kemudian beliau dijuluki Mbah Lowo Ijo, diceritakan juga beliau masih ada hubungan keluarga dengan Syarifah Khadijah atau yang di kenal dengan Mbah Ratu Ayu atau Mbah Ratu Ibu.

Dimakam ini terdapat tiga batu nisan dua diantaranya di kijing besar dan satu lagi kecil, tentunya kedua makam yang di kijing sudah bisa di tebak kalau itu adalam makam dari makam Mbah Lowo Ijo dan istrinya, tapi tak banyak yang tahu tentang makam kecil yang ada di sebelahnya, menurut juru kuncinya makam kecil ini adalah makam dari kuda kesayangan yang selalu setia menemani perjuangan Mbah Lowo ijo.

Mbah Lowo Ijo sendiri merupakan cucu menantu Sunan Ampel. Beliau menikah dg salah satu cucu Sunan Ampel, Sa’diyyah yang dulu dikenal dengan sebutan Kiai Abdul Qodir atau Kiai Sayyidin. Sebelumnya, Mbah Lowo Ijo pernah belajar selama bertahun2 ke Sunan Bonang, Tuban. sekitar thn 1.700 (abad ke 17). Menurut cerita, setelah menggali ilmu dari Sunan Bonang, Mbah Lowo Ijo kemudian menyebarkan ilmu ke daerah Bangil.

Dia bersama adiknya, Sayyidono kemudian tirakat naik pada kayu jati besar dari Tuban, Mereka menyusuri lautan hingga sampai ke sungai Kedung Larangan Bangil. Kayu jati besar itu kemudian digunakan sebagai penyangga berdirinya pondok Cangaan. Oleh Sunan Bonang, 2 saudara ini dibekali keilmuan berbeda. Mbah Lowo Ijo yg hanya mengaji dibekali keilmuan batin. Sementara, Sayyidono, adiknya, dibekali ilmu lahir atau kanuragan. Mbah Sayidono biasa dipanggil Mbah Daru yang kini disemayamkan di pemakaman Islam Beujeng, Beji. Beliaulah yang merintis berdirinya Ponpes Cangaan, Bangil. Dari beliaulah banyak kiai besar berasal dari sini.

Source http://bkpnews.blogspot.com http://bkpnews.blogspot.com/2014/01/mbah-lowo-ijo.html
Comments
Loading...