Makam Mbah Honggo

0 139

Makam Mbah Honggo

Makam tersebut di nisannya bertuliskan Pangeran Honggo Koesoemo dan lokasinya tidak jauh dari Pasar Talun. Menurut penjelasan warga sekitarnya, dirinya adalah guru spiritual dari keluarga Bupati Malang yang pertama yaitu R.A.A Notodiningrat. Sang Bupati sendiri makamnya ada di komplek pemakaman Ki Ageng Gribig.

Menurut sejarawan Malang yaitu Dwi Cahyono, dikatakan jika Mbah Honggo dan makam disampingnya yaitu Pangeran Soero Adimerto atau Ki Ageng Peroet merupakah keturunan langsung dari Majapahit.

Kisahnya berawal pada tahun 1518 dan 1521, saat pemerintahan Adipati Unus dari Kerajaan Demak menyerang Majapahit yang diperintah Prabu Brawijaya. Serangan pasukan Demak memaksa seluruh keluarga mundur ke Sengguruh yang selanjutnya mengungsi ke pulau Bali.

Prabu Brawijaya mempunyai putra yang bernama Batoro Katong yang melarikan diri ke Ponorogo tahun 1535 dan menjadi Adipati Ponorogo. Beberapa keturunan selanjutnya, Kandjeng Pangeran Soero Adiningrat masih menjabat sebagai Adipati Ponorogo, mempunyai putra Kandjeng Soero Adimerto yang hidup pada masa perjuangan Pangeran Haryo (BPH) Diponegoro, putra Sampeyan Dalem ingkang Sinuwun Kandjeng Susuhunan Pakubuwana I tahun 1825.

Setelah peristiwa penangkapan Pangeran Diponegoro oleh Jenderal De Kock di Magelang tanggal 28 Maret 1830, semua Senopati (panglima perang) berpencar keseluruh Jawa Timur dengan menggunakan nama-nama samaran yang bertujuan menghilangkan jejak terhadap Belanda.

Pangeran Soero Adimerto berganti nama Kyai Ageng Peroet, pangeran Honggo Koesoemo menjadi Mbah Onggo, Ulama Besar Kandjeng Kyai Zakaria II menjadi Mbah Djoego (Gunung Kawi, keturunan langsung dari Pangeran Diponegoro). Sedangkan keturunan di bawahnya, Raden Mas Singowiryo dimakamkan terpisah sekitar 50 meter, disamarkan dan sekarang dikenal masyarakat dengan ‘Kuburan Tandak’. Lokasi makam saat ini, dahulu adalah komplek besar para sesepuh keturunan Adipati Malang sekaligus komplek makam belakang Masjid Jami.

Di sekitar makam tersebut sebenarnya masih banyak makam yang belum teridentifikasi miliki siapa. Hal ini terjadi karena juru pelihara makam sudah meninggal dunia. Sementara anaknya tidak mengetahui kesejarahannya. Salah satunya adalah makam yang pagarnya tertulis ‘R.M. Singodjoyo, LID Kliwon/Penewu’.

Kemudian ada juga kondisi dua makam yang sangat parah yang tidak jauh dari dari makam bayi tersebut. Makam tersebut ditimbun sampah rongsokan dan amat sangat kotor, kumuh dan tak, kondisi tersebut juga terjadi pada kompleks makam Mbah Honggo pada umumnya dimana sampah berserakan dan menumpuk dimana-mana dan kompleks makam sendiri semakin terdesak pemukiman warga.

Semoga makam-makam tersebut tetap lestari sebagai bukti kesejarahan Talun pada masa Islam dan sebagai penghargaan terhadap leluhur kita yang saat itu dikenal sebagai ulama besar penyebar agama Islam.

Source https://ngalam.co https://ngalam.co/2016/12/28/kisah-makam-mbah-honggo-talun/
Comments
Loading...