Makam Kyai Mojo Sulawesi Utara

0 64

Makam Kyai Mojo

Makam Kyai Mojo telah ditetapkan sebagai Cagar Budaya peringkat nasional, karena jasa yang telah dilakukan oleh Kyai Mojo membantu Pangeran Diponegoro dalam Perang Jawa. Selain itu, keberadaan Kyai Mojo dan pengikutnya di Tondano membuat munculnya komunitas Jawa Tondano atau, yang disebut juga dengan Jaton. Banyak pengikut-pengikut Kyai Mojo kemudian menikah dengan masyarakat sekitar saat mereka ikut diasingkan ke Tondano.

Makam Kyai Mojo ditetapkan melalui Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 267/M/2016 tentang Situs Cagar Budaya.

Makam Kyai Mojo terletak di atas Bukit Tondata dan menempati luas lahan 44.560 m². Kyai Mojo terlahir dengan Nama Kyai Muslim Muhammad Halifah. Ia lahir pada 1764 dan wafat pada 20 Desember 1849.

Di lokasi makam ini terdapat dua cungkup berbentuk bangunan Jawa dengan atap bersusun dari sirap. Cungkup yang besar terdapat makam Kyai Mojo beserta pengikutnya. Sedangkan cungkup lainnya merupakan cungkup makam Syeh Maulana (asal Cirebon). Di timur laut makam Kyai Mojo terdapat makam Mbah Kamil (Kyai Demak).

Makam Kyai Mojo beserta keluarga asli dari Jawa memiliki keunikan tersendiri. Bentuk makamnya memiliki lubang memanjang pada bagian tubuh makam. Berbeda dengan makam lain dari makam kerabat, yang merupakan keturunan Minahasa, yang tidak memiliki lubang memanjang. Dibuat demikian agar dapat diketahui perbedaan keluarga dari Jawa dan yang lahir dan besar di Minahasa.

Makam Kyai Mojo adalah satu-satunya makam di kompleks ini yang kijingnya memiliki sembilan undakan. Makam ini diberi hiasan pelipit genta dan kaligrafi. Di dalam cungkupnya terdapat beberapa makam keluarga dan pengikutnya. Nisannya ditutup dengan kain penutup berwarna putih.

Kyai Mojo merupakan salah seorang panglima perang Pangeran Diponegoro dalam Perang Jawa (1825-1830). Meskipun hubungan mereka berdua dekat, pada 1828 terjadi konfllik di antara mereka. Pada waktu itu, Pangeran Diponegoro memerintahkan Kyai Mojo untuk kembali ke Pajang. Dalam perjalanannya itu, Kyai Mojo terbujuk oleh rayuan muridnya, Kyai Dadapan, agar mau bertemu perwakilan Belanda, Letnan Kolonel Wironegoro.

Sebelumnya Pangeran Diponegoro bersama para panglimanya termasuk Kyai Mojo telah menolak ajakan Jenderal de Kock untuk mengakhiri perang. Kyai Mojo kemudian bertemu dengan Letnan Kolonel Wironegoro pada Oktober 1828 dengan mengajukan beberapa permintaan. Letnan Kolonel Wironegoro pun menyetujuinya asalkan Kyai Mojo bersedia menghentikan perang. Kyai Mojo melaporkan pertemuan itu kepada Pangeran Diponegoro melalui surat. Setelah membaca surat dari Kyai Mojo, Pangeran Diponegoro marah. Pangeran Diponegoro memanggil Kyai Mojo kembali ke markas Pangeran di daerah Pengasih.

Pada akhir 1828, Kyai Mojo beserta pasukannya berhasil ditangkap Belanda. Ini adalah pukulan telak bagi perjuangan Pangeran Diponegoro. Kyai Mojo bersama dengan pasukannya kali pertama ditahan di Semarang. Kemudian dipindahkan ke Ambon lalu ke Minahasa. Kyai Mojo meninggal dalam pengasingan di Minahasa pada 20 Desember 1849 dan dimakamkan di Tondano. Pada 1978/1979 hingga 1981/1982 Makam Kyai Mojo telah dipugar oleh Bidang Sejarah, Museum, dan Purbakala (Muskala) Kantor Wilayah Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Sulawesi Utara. Kini Situs Cagar Budaya Makam Kyai Mojo dalam kondisi terawat.

Source https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/ditpcbm/ https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/ditpcbm/makam-tuanku-imam-bonjol-dan-makam-kyai-mojo-menjadi-cagar-budaya-nasional/
Comments
Loading...