Makam Ki Ageng Buyut Purwoto Sidik Jawa Tengah

0 67

Makam Ki Ageng Buyut Purwoto Sidik Jawa Tengah

Tanda Arah Menuju Areal Komplek Pasareyan Banyu Biru yang terletak di Dusun Sarean, Kelurahan Jatingarang, Kecamatan Weru, Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah. Semasa hidupnya Ki Ageng Purwoto Sidik merupakan guru dari Joko Tingkir yang kelak kemudian hari berhasil menjadi raja di Kerajaan Pajang. Lokasi berada di Dusun Sarean, Kelurahan Jatingarang, Kecamatan Weru, Sukoharjo. Ingin mengetahui sejarah dari Ki Ageng Purwoto Sidik ? Berikut cerita sejarah yang kami kutip dari berbagai sumber.
Pengembaraan Kyai Purwoto Sidik meninggalkan banyak petilasan di berbagai daerah. Namun, karena di tiap daerah selalu berganti nama, banyak orang meragukan petilasan itu. Banyubiru lalu menjadi kata kunci kepastian jati diri tokoh mistis ini.
Sejak peristiwa mistis di Rawapening, Kyai Purwoto Sidik kawentar dengan julukan Ki Ageng Banyubiru. Semula julukan itu hanya digunakan pengikutnya, tapi kemudian menjadi lebih umum.
Perjalanan Kyai Purwoto Sidik berlanjut ke Purwokerto. Hampir di setiap tempat beliau juga bertapa. Setelah tujuh tahun di Purwokerto lalu hijrah ke Rejosari Semin Gunungkidul. Beliau hidup di tengah hutan Kali Goyang.

Ketika tapa-brata beliau bersandar di pohon Jati. Di hutan itu, beliau berganti nama menjadi Ki Ageng Purwoto Sidik Perwitosari. Tujuh tahun kurang dua puluh satu hari, beliau didatangi seseorang dari Serang yang mengaku sebagai cucu. Kyai Purwoto Sidik yang waskita sudah mengetahui sebelumnya. Beliau tak ingin ditemui, dan segera meninggalkan alas Kali Goyang cucu itu tiba. Namun, orang itu terus mengejar.

Setelah bertemu, orang Serang itu menyatakan ingin berguru. Dengan tegas Kyai Purwoto Sidik menolaknya. Ketika terjadi perdebatan antara keduanya mendadak pohon Jati tempat bertapa Kyai Purwoto Sidik tumbang.

Tumbangnya pohon Jati di alas Kali Goyang, menurut Mbah Amad, menjadi tetenger atau tanda putusnya hubungan Kyai Purwoto Sidik dengan seseorang dari Serang yang mengaku sebagai cucunya tersebut.

Sesudah peristiwa di alas Kali Goyang, lalu meneruskan pengembaraan sampai di Jatingarang Sukoharjo. Dulu bernama alas Wonogung. Beliau tapa kungkum di sendang setempat. Dan lagi-lagi, air sendang Wonogung mendadak berubah biru. Sendang itu pun lalu dinamai Banyubiru.

Kini kawasan sendang telah berubah menjadi dusun Banyubiru. Dan nama Ki Banyubiru makin kondang. Dusun Banyubiru berada di selatan kota Solo, disebut-sebut sebagai tempat pertama Joko Tingkir berguru. Joko Tingkir kemudian ke Gunung Majasto lalu ke Pajang. Jalur getheknya menjadi dasar penamaan dusun-dusun di wilayah itu, yakni Watu Kelir, Toh Saji, Pengkol, Kedung Apon dan Kedung Srengenge.

Selain Sendang Banyubiru, ada delapan sendang lain petilasan Kyai Purwoto Sidik, yakni sendang Margomulyo, Krapyak, Margojati, Bendo, Gupak Warak, Ndanumulyo, Siluwih dan Sepanjang. Sendang Gupak Warak berada di Wonogiri, dan lainnya tersebar di Weru Sukoharjo. Semua sendang itu, kini airnya menyusut. Bahkan, sendang Banyubiru tak lagi mengeluarkan air, dan dibiarkan menjadi kolam kering penampung air hujan, dan di atasnya dibangun sebuah masjid.

Di dusun Banyubiru, Kyai Purwoto Sidik menetap hingga tutup usia. Beliau dimakamkan di utara sendang Banyubiru, yang kini karena alasan administratif menjadi dusun bernama Sarehan. Ki Ageng Banyubiru dimakamkan bersama kedua puteri, Nyai Gadung Melati dan Roro Tenggok. Uniknya, kedua puteri tersebut tak dibuatkan nisan. Kedua pengikut beliau, Gus Bambang dan Gus Purut dimakamkan dalam satu nisan untuk berdua.

Source http://trahpanembahanwongsopati.blogspot.com http://trahpanembahanwongsopati.blogspot.com/2010/08/makam-ki-ageng-buyut-purwoto-sidik-ing.html
Comments
Loading...