Makam KA Loesoh Belitung Timur

0 133

Lokasi Makam KA Loesoh

Makam KA Loesoh terletak di Parit Tebu, Kecamatan Gantung, Belitung Timur.

Makam KA Loesoh

Gapura Makam KA Loesoh yang masih tampak relatif baru dan terlihat baik itu, meskipun cat temboknya sudah cukup banyak yang terkelupas. Tidak ada tengara yang jelas di gerbang Makam KA Loesoh, tidak pula ada tengara di tepi jalan besar yang bisa menarik perhatian pejalan untuk memapir berziarah. Rumput yang tinggi menandakan halaman ini sudah lama tidak dirawat.

Salah satu dari sedikit makam yang disemen di kompleks Makam KA Loesoh. Ukiran kayu pada nisan agak sedikit berbeda dengan nisan kayu yang lainnya. Sayang tidak ada tengara pemilik makam. Makam-makam terlantar di kompleks Makam KA Loesoh dengan nisan tak beraturan dan sebagian sudah rompal. Sebuah kelompok makam di salah satu sudut kompleks Makam KA Loesoh yang letaknya agak sedikit lebih tinggi dari makam-makam lain.

KA Loesoh, atau Ka Agoes Loesoh, adalah putera dari KA Munti dan Nyi Ayu Busu. KA Munti adalah putera dari KA Abudin (Depati Cakraningrat V, 1740-1755), sedangkan Nyi Ayu Busu adalah anak KA Usman (adik KA Abudin). KA Loesoh lalu menurunkan KA Jalil. Keturunan KA Munti kemudian dikenal sebagai keluarga bangsawan Gunong Petebu (sekarang Parit Tebu).

KA Usman inilah yang mendirikan pemukiman di Sungai Cerucuk lantaran tidak setuju dengan cara memerintah KA Abudin yang otoriter sehingga tidak disukai rakyat. KA Abudin kemudian dipanggil oleh Raja Palembang, tidak diperbolehkan pulang ke Belitung, sampai ia meninggal dan dimakamkan di Palembang.

KA Usman lalu menjadi raja bergelar Depati Cakraningrat VI. Ia membagi wilayah kekuasaan kepada anak-anak KA Abudin, diantaranya ke KA Munti yang mendapatkan wilayah di Gunong Petebu, serta menikahkan KA Munti dengan anak gadisnya sendiri untuk menyatukan kedua keluarga yang sempat berseteru.

KA Usman tewas di muara Sungai Cerucuk dekat Pulau Kalamoa ketika armada perahunya diserang oleh bajak laut, dan mayat tidak ditemukan. Anaknya yang bernama KA Hatam kemudian menjadi Depati Cakraninggrat VII, yang pada masanya didatangkan para pekerja tambang timah keturunan Cina di Johor melalui Tumasik. Inilah yang lalu membuat KA Hatam mengambil istri kedua seorang Cina yang diberi gelar Dayang Kuning.

Nama KA Loesoh muncul ketika ia berhasil menyelamatkan KA Rahad, putera KA Hatam yang masih muda, beserta beberapa saudara yang lainnya, ketika pada 1813 Belitung diserbu oleh pasukan Tengku Akil dari Siak, atas instruksi pemerintah kolonial Inggris yang dipimpin Sir Thomas Stamford Raffles. KA Hatam sendiri tewas dalam penyerbuan itu dengan kepala terpenggal.

Dengan dipimpin KA Loesoh yang terkenal sebagai Panglima Keris Berhulu Perak, pasukan kerajaan dan rakyat Belitung akhirnya berhasil mengusir pasukan Tengku Akil hingga Tengku Akil melarikan diri ke Pulau Lepar.

KA Rahad kemudian menjadi raja bergelar Depati Cakraningrat VIII, meninggal tahun 1854 dan dimakamkan di Air Labu Kembiri. Kedudukannya digantikan oleh KA Mohamad Saleh (adik KA Rahad) sebagai Depati Cakraningrat IX, yang merupakan raja Islam terakhir yang berkuasa di Belitung.

Source https://www.thearoengbinangproject.com/ https://www.thearoengbinangproject.com/makam-ka-loesoh-belitung-timur/
Comments
Loading...