Makam Jambu Lipo II

0 25

Makam Jambu Lipo II

Kerajaan Jambulipo pada awalnya berpusat di atas puncak bukit Jambulipo, sekitar 3 km dari jalan raya Lubuk Tarok. Raja yang pertama memegang tampuk pemerintahan adalah Dungku Dangka, dan kemudian Kerajaan Jambulipo telah dipimpin oleh 14 raja. Raja yang terakhir adalah Firman bergelar Bagindo Tan Ameh XIV. Keberadaan kerajaan Jambulipo di puncak Bukit Jambulipo hanya sampai pada masa pemerintahan raja ke-IV, yaitu Rajo Alam yang bergelar Bagindo Tan Ameh. Setelah mengadakan perkembangan wilayah ke berbagai daerah, seperti: Nagari Paulasan, Taratak Baru, Sinyamu, dan sebagainya, pihak Kerajaan Jambulipo menerima perundingan damai dari pihak Sutan Nan Paik di Puncak Koto.

Perundingan itu kemudian berlanjut untuk membuat sebuah nagari yang sekarang dikenal dengan Nagari Lubuk Tarok. Sejak berdirinya Nagari Lubuk Tarok, Kerajaan Jambulipo tidak lagi berada di puncak bukit Jambulipo, tetapi kemudian berpusat di Rumah Gadang Bawah Pawuah atau disebut dengan Kelambu Suto. Susunan pemerintahan di Kerajaan Jambulipo sampai sekarang masih terpelihara dengan baik sebagaimana dahulunya dengan pucuk pimpinan Rajo Tigo Selo, yaitu: Rajo Alam dengan gelar Bagindo Tan Ameh, Rajo Ibadat dengan gelar Bagindo Maharajo Indo, Rajo Adat dengan gelar Bagindo Tan Putih. Selain Rajo Nan Tigo Selo terdapat beberapa pejabat inti kerajaan yang terdiri dari Sandi Kerajaan, Sandi Amanah, dan Sandi Padek serta beberapa hulubalang yang disebut Ampang Limo Rajo. Para pejabat di atas juga mempunyai bawahan masing-masing, baik di tingkat pusat maupun daerah.

Makam Raja-raja jambu Lipo II terletak di atas puncak bukit. Selain dari jenis nisannya, situs makam Raja Jambulipo II ini mempunyai nilai arkeologis dipandang dari sudut tata letaknya yang berada pada ujung perbukitan yang posisinya paling tinggi. Ada dugaan makam tersebut masih terpengaruh oleh budaya prasejarah (megalitik) dengan menempatkannya pada posisi paling puncak dan ujung di sebuah bukit. Penempatan ini mengingatkan adanya pengaruh kepercayaan tentang arwah nenek moyang yang bersemayam di puncak-puncak gunung/bukit yang banyak dianut manusia prasejarah/tradisi megalitik. Bentuk bukit Jambu Lipo memanjang arah Barat–Timur yang dikelilingi oleh dua buah sungai, yaitu sungai Batang Sibakur dan Sungai Palintangan

Source https://kebudayaan.kemdikbud.go.id https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/bpcbsumbar/wp-content/uploads/sites/28/2018/08/Cagar-Budaya-Kabupaten-Sijunjung.pdf
Comments
Loading...