Makam Gedong Ageng Jipang Panolan

0 111

Makam Gedong Ageng Jipang Panolan

Lokasi Petilasan Kadipaten Jipang Panolan berada di Desa Jipang, Kecamatan Cepu, Blora, (berjarak sekitar 8 kilometer dari kota Cepu) berupa makam Gedong Ageng. Untuk mencapai daerah Jipang, bisa ditempuh dengan kendaraan sepeda motor atau mobil. Pada jaman itu tempat ini merupakan pusat pemerintahan Kadipaten Jipang. Di tempat ini ada makam kerabat Kadipaten Jipang, diantaranya makam R. Bagus Sosrokusumo, R. Bagus Sumantri, RA Sekar Winangkrong, dan Tumenggung Ronggo Atmojo.

Peninggalan lainnya adalah Makam Santri Songo, yang berada di sebelah Utara Makam Gedong Ageng, berupa makam sembilan santri yang diduga mata-mata Pajang yang ditangkap dan dibunuh oleh prajurit Jipang. Selain itu ada juga Petilasan Bengawan Sore, dan Petilasan Masjid Jipang Panolan, Petilasan Semayam Kaputren, dan Petilasan Siti Hinggil. Adipati Jipang, Arya Penangsang atau Arya Jipang, adalah anak Raden Kikin, putera kedua Raden Patah, raja pertama Demak. Ibu Raden Kikin adalah Adipati Jipang. Putera sulung Raden Patah yang bernama Adipati Kudus atau Pati Unus meninggal dalam ekspedisimenyerang Portugis di Malaka, sehingga disebut sebagai Pangeran Sabrang Lor.

Sepeninggal Adipati Unus, terjadi perebutan kekuasaan antara kakak beradik Raden Kikin dan Raden Trenggana. Raden Kikin kemudian dibunuh oleh Raden Mukmin (putra pertama Raden Trenggana yang setelah menjadi raja bergelar Sunan Prawoto) sepulang salat Jumat di tepi sungai dengan menggunakan keris Kyai Setan Kober. Karenanya Raden Kikin disebut Pangeran Sekar Seda ing Lepen. Arya Penangsang, yang menjadi Adipati Jipang mewarisi kedudukan kakeknya, kemudian membalas dendam dengan membunuh Sunan Prawoto dengan Keris Kyai Setan Kober yang dilakukan oleh orang suruhannya yang bernama Rangkud, dengan dukungan Sunan Kudus.

Perseteruan Arya Penangsang berlanjut dengan Hadiwijaya (Jaka Tingkir), menantu Sultan Trenggana yang menjadi Adipati Pajang, serta dengan Ratu Kalinyamat, adik Sunan Prawoto yang suaminya (Pangeran Hadari) dibunuh oleh orang-orang Jipang sekembalinya mereka dari Jepara untuk menuntut keadilan dari Sunan Kudus. Dalam sebuah pertempuran di tepi Kali Opak dengan pasukan Pajang yang dipimpin oleh Ki Gede Pemanahan dan Ki Penjawi, Arya Penangsang tewas oleh keris Kyai Setan Kober yang dihunusnya sendiri karena memotong ususnya yang terburai setelah lambungnya robek terkena Tombak Kyai Plered yang digunakan Sutawijaya.

Menurut juru kunci Makam Gedong Ageng, Salekun (50), setiap hari selalu ada pengunjung yang datang ke makam. Tidak saja dari daerah di sekitarnya, tapi juga dari luar daerah, terutama Solo dan Yogyakarta. Banyak juga peziarah dari Surabaya dan Jakarta. Mereka datang dengan berbagai maksud. Ada yang sekadar ingin mengunjungi dan melihat dari dekat peninggalan sejarah zaman Mataram Islam ini, banyak pula yang datang dengan hajat tertentu, seperti pengusaha yang ingin sukses, pejabat yang ingin kedudukan, atau berharap 2 kesembuhan bagi kerabat yang sakit. “Saya kerap dimintai bantuan untuk menyampaikan maksud-maksud tersebut,” ujar generasi ketiga dari trah juru kunci makam itu yang telah sebelas tahun lebih mengabdikan dirinya.

Setiap pengunjung wisata sejarah Jipang ini harus menjaga sopan santun, terutama saat masuk ke lingkup makam. Menurut juru kunci Salekun, ada beberapa pantangan yang tidak boleh dilanggar saat berkunjung ke makam. Pantangan itu antara lain dilarang membawa benda-benda yang ada di lingkungan makam, bahkan secuil tanah pun. Pengunjung juga diminta untuk uluk salam terlebih dahulu saat akan masuk makam, dan jangan tinggi hati atau menyepelekan hal-hal yang ada dalam kompleks makam. “Kalau pantangan-pantaangan ini dilanggar biasanya ada kejadian yang tidak baik menimpa orang tersebut,” ujarnya.

Warga Jipang juga memiliki tradisi sedekah bumi sebagai ungkapan rasa syukur. Tradisi ini disebut dengan manganan dan biasanya dilakukan di makam Gedong Ageng. Setidaknya ada tiga acara manganan, yakni saat turun hujan pertama kali, saat tanam padi, dan saat panen. Acara ini biasanya disertai dengan pertunjukan seni tradisi, seperti ketoprak, wayang krucil, wayang kulit, atau seni tradisi yang lain. Namun pantangannya, “kalau nanggap kethoprak jangan sampai mengambil lakon Aryo Penangsang. Bisa berbahaya!” ungkap Salekun wantiwanti.

Source http://www.blorakab.go.id http://www.blorakab.go.id/index.php/public/kebudayaan/detail/94
Comments
Loading...